Trump Siap Sambut Pemimpin Asia Tengah, Kazakhstan Bergabung dalam Perjanjian Abraham

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Trump Siap Sambut Pemimpin Asia Tengah, Kazakhstan Bergabung dalam Perjanjian Abraham, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.
Trump Siap Sambut Pemimpin Asia Tengah, Kazakhstan Bergabung dalam Perjanjian Abraham

Kazakhstan Bergabung dalam Abraham Accords

\n

Kazakhstan dikabarkan akan bergabung dalam Abraham Accords, sebuah perjanjian yang bertujuan untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel. Laporan ini disampaikan oleh Axios dan dikutip oleh kantor berita Turki, Anadolu, pada Jumat (7/11). Sebelumnya, Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, mengungkapkan bahwa ada satu negara lagi yang akan bergabung dalam perjanjian tersebut, meskipun ia enggan menyebutkan namanya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

\n

Pengumuman resmi dijadwalkan dilakukan pada Kamis malam waktu Washington. Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim mengonfirmasi kepada Axios bahwa negara yang dimaksud adalah Kazakhstan. Negara Muslim di Asia Tengah ini sebenarnya telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1992, tetapi bergabungnya dalam Abraham Accords dianggap sebagai langkah baru untuk menghidupkan kembali normalisasi hubungan.

\n

Signifikansi Bergabungnya Kazakhstan

\n

Menurut pejabat tersebut, keikutsertaan Kazakhstan akan menunjukkan bahwa Abraham Accords merupakan forum yang diminati banyak negara. “Ini akan menjadi upaya untuk mengakhiri perang di Gaza serta langkah menuju perdamaian dan kerja sama yang lebih luas di kawasan,” kata pejabat tersebut.

\n

Keputusan ini juga menjadi momen penting di tengah memburuknya hubungan Israel dengan sejumlah negara akibat konflik dua tahun di Jalur Gaza, yang telah menewaskan hampir 70.000 warga Palestina. Beberapa negara memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel atau mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.

\n

Pertemuan Pemimpin Asia Tengah di Gedung Putih

\n

Trump dijadwalkan menjamu pemimpin dari lima negara Asia Tengah yaitu Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Kyrgyzstan di Gedung Putih, Washington, pada Kamis malam. Belum jelas apakah pengumuman resmi Kazakhstan akan dilakukan saat jamuan malam tersebut, namun kehadiran Trump dipastikan jika ada pengumuman besar.

\n

Latar Belakang Abraham Accords

\n

Abraham Accords merupakan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Muslim, diteken pada masa jabatan pertama Trump. Saat ini, sudah ada empat negara yang bergabung dalam perjanjian ini: Bahrain, Maroko, Sudan, dan Uni Emirat Arab.

\n

Bergabungnya Kazakhstan menjadi langkah penting untuk memperluas jaringan perdamaian dan normalisasi diplomatik Israel di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah. Bergabungnya Kazakhstan ke Abraham Accords menandai babak baru diplomasi internasional di kawasan yang strategis.

\n

Kontribusi terhadap Perdamaian dan Kerja Sama Regional

\n

Selain memperkuat hubungan bilateral, langkah ini juga diharapkan menjadi kontribusi terhadap perdamaian dan kerja sama regional yang lebih luas. Dengan bergabungnya Kazakhstan, perjanjian Abraham Accords semakin menunjukkan bahwa komunitas internasional memiliki keinginan kuat untuk menciptakan lingkungan yang damai dan saling menghormati.

\n

Dalam konteks yang lebih luas, keputusan ini juga menunjukkan bahwa kawasan Asia Tengah tidak hanya menjadi wilayah yang stabil, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global untuk menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Dengan adanya partisipasi Kazakhstan, harapan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, politik, dan sosial antar negara semakin terbuka.

\n


\n

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar