
Washington DC, aiotrade.app
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan izin kepada Central Intelligence Agency (CIA) untuk menjalankan operasi rahasia di Venezuela. Menurut laporan yang diterbitkan oleh media berbasis di New York, langkah ini merupakan bagian dari strategi tersembunyi untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dari kekuasaan. Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintahan AS sebelumnya menolak permintaan untuk mundur secara sukarela.
Dalam laporan eksklusifnya, media tersebut menyebut bahwa pemerintahan Trump telah secara diam-diam mengesahkan “presidential finding” — dokumen rahasia yang memberi kewenangan kepada CIA melakukan operasi tersembunyi di Venezuela dan kawasan Karibia. Tujuan akhir dari operasi ini, menurut pengakuan sejumlah pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya, adalah melengserkan Maduro dari kursi presiden.
“Para pejabat Amerika telah menegaskan secara pribadi bahwa tujuan akhir operasi tersebut adalah menggulingkan Maduro dari kekuasaan,” tulis laporan tersebut.
Trump mengakui bahwa dirinya memang memberi izin kepada CIA untuk menjalankan operasi di Venezuela. Namun, ia tidak menjelaskan secara eksplisit adanya tujuan menggulingkan kekuasaan Maduro. Trump menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan demi menghentikan peredaran narkotika dari Venezuela ke AS.
Sebelumnya, militer AS menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di lepas pantai Venezuela—menewaskan 27 orang. Setelah mengeklaim sukses di laut, Trump berencana memperluas eskalasinya hingga ke daratan.
“Kami tentu sedang melihat opsi di darat sekarang, karena laut sudah kami kendalikan dengan baik,” ujar Trump kepada wartawan, beberapa jam setelah laporan tersebut terbit.
Strategi yang Dirancang oleh Pejabat Tinggi
Otorisasi CIA tersebut merupakan bagian dari strategi yang dirancang oleh Menteri Luar Negeri saat itu, Marco Rubio, dan Direktur CIA John Ratcliffe. Meski belum diketahui operasi spesifik apa yang direncanakan, laporan itu menyebut bahwa militer AS juga telah menyiapkan opsi serangan di wilayah Venezuela.
Saat itu, sekitar 10.000 tentara Amerika ditempatkan di kawasan Karibia, termasuk di Puerto Rico, dengan delapan kapal perang dan satu kapal selam siaga di laut. Ratcliffe sendiri sebelumnya berjanji menjadikan CIA “lebih agresif” dan “tidak takut mengambil risiko.” Dalam sidang konfirmasinya di Kongres, ia berkata bahwa CIA di bawah kepemimpinannya akan “melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan siapa pun, di tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.”
Respons Keras dari Pemerintah Venezuela
Venezuela mengecam keras tindakan AS tersebut. Dalam pernyataannya, pemerintah Caracas menilai Trump telah menggunakan bahasa “bernuansa perang” dan berupaya melegitimasi upaya pergantian kekuasaan dengan tujuan akhir merebut sumber daya minyak Venezuela.
“AS mencoba menjustifikasi perubahan kekuasaan dengan tujuan akhir menguasai sumber daya minyak Venezuela,” demikian pernyataan resmi pemerintah Maduro. Venezuela juga menyatakan akan membawa kasus itu ke Dewan Keamanan PBB dan menuduh tindakan AS sebagai “pelanggaran berat terhadap Piagam PBB.”
Jejak Panjang Operasi Rahasia CIA di Amerika Latin
Langkah ini menambah panjang daftar operasi rahasia CIA di Amerika Latin. Badan intelijen itu sebelumnya pernah menggulingkan Presiden Jacobo Arbenz di Guatemala (1954), mendalangi invasi Teluk Babi ke Kuba (1961), terlibat dalam kudeta di Brasil (1964), pembunuhan Che Guevara di Bolivia, dan kudeta di Chile (1973). Pada dekade 1980-an, C.I.A. juga mendukung pemberontakan kelompok Contra yang berperang melawan pemerintahan Sandinista di Nikaragua.
Bagi banyak analis, operasi rahasia terhadap Venezuela kini dipandang sebagai “kelanjutan pola lama” intervensi Washington di kawasan tersebut. Namun, menurut pengakuan Trump, operasi itu disebut bagian dari “perang melawan kartel narkoba” yang menurutnya dikendalikan oleh pemerintahan Maduro—klaim yang kemudian dibantah oleh penilaian intelijen Amerika sendiri.
Komentar
Kirim Komentar