Perkuatan Fondasi Ekonomi Regional oleh Bank Indonesia Kepulauan Riau
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau (Kepri) telah menunjukkan kegigihan dalam memperkuat fondasi ekonomi regional sepanjang tahun 2025. Dengan strategi agresif yang berfokus pada tiga pilar utama, yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan, BI Kepri berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dalam digitalisasi sistem pembayaran serta pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Salah satu pencapaian yang menonjol adalah gelaran Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL). Literasi keuangan digital di Kepri tercatat mengalami lompatan eksponensial dengan volume transaksi QRIS yang mencapai 140.026 transaksi, meningkat lebih dari 400% dibandingkan tahun 2023 yang hanya sebesar 27.682 transaksi.
Tidak hanya bergerak di wilayah lokal, UMKM binaan BI Kepri mulai menunjukkan kemampuan mereka di pasar internasional. Melalui Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025, sebanyak 24 UMKM berhasil mengamankan komitmen ekspor senilai Rp1,4 miliar. Angka penjualan pun terus meningkat, dengan penjualan UMKM pada event GMP menyentuh angka Rp12,85 miliar, melampaui capaian tahun 2024. Bahkan, untuk pertama kalinya, BI berhasil memfasilitasi kesepakatan pembiayaan UMKM sebesar Rp3,25 miliar dalam ajang tersebut.
Sinergi antara BI Kepri dengan pihak-pihak terkait juga diperkuat melalui Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA). Berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan KDEKS, ajang ini mencatatkan penjualan lebih dari Rp2,7 miliar serta lonjakan akses pembiayaan menjadi Rp2,19 miliar, naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Menembus Perbatasan, Melawan Geopolitik
Agresivitas digitalisasi BI Kepri bahkan menjangkau wilayah terluar. Event BERLAYAR yang digelar di Pulau Belakang Padang, wilayah yang berbatasan langsung dengan Singapura, membuktikan bahwa jarak bukan penghalang. Dalam dua hari, festival rakyat ini berhasil mencatatkan 49.076 transaksi QRIS. Namun, BI Kepri tetap waspada terhadap tantangan-tantangan yang muncul di tahun mendatang.
Tantangan seperti tarif resiprokal, persaingan perdagangan internasional yang semakin ketat, serta tensi geopolitik global masih menjadi bayang-bayang risiko. Meski demikian, BI Kepri tetap optimistis meskipun dibayangi ketidakpastian global.
Proyeksi 2025-2026, Optimisme di Tengah Tantangan
Penurunan suku bunga dan kepastian regulasi investasi diprediksi akan menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi. "Perekonomian Kepri pada tahun 2025 diproyeksikan tumbuh tangguh di kisaran 6,5% hingga 7,3% (yoy), dan tetap stabil di rentang 6,4% hingga 7,2% (yoy) pada 2026," tulis laporan tersebut. Sementara itu, inflasi dipastikan akan tetap "jinak" dalam sasaran 2,5±1% (yoy) hingga tahun 2026 mendatang.
Agenda Strategis untuk Tahun 2026
Menatap tahun 2026, BI Kepri telah menyiapkan sederet agenda strategis. Selain melanjutkan flagship event seperti GMP dan CERNIVAL, fokus akan diarahkan pada perluasan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan penguatan ketersediaan uang layak edar melalui program SERAMBI dan SERUNAI.
Langkah-langkah ini menjadi bukti komitmen BI Kepri untuk memastikan ekonomi daerah tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Komentar
Kirim Komentar