Terungkap, Penderita TBC di Sumenep Enggan Minum Obat, Dinkes: Bahaya!

Terungkap, Penderita TBC di Sumenep Enggan Minum Obat, Dinkes: Bahaya!

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Terungkap, Penderita TBC di Sumenep Enggan Minum Obat, Dinkes: Bahaya!, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kendala dalam Penyembuhan Tuberkulosis di Kabupaten Sumenep

Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, upaya penyembuhan penyakit tuberkulosis (TBC) masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketidakdisiplinan para penderita dalam menjalani pengobatan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Dinas Kesehatan P2KB Sumenep mencatat bahwa sebagian dari mereka berhenti berobat sebelum masa pengobatan selesai.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Ellya Fardasyah, menyampaikan bahwa secara aturan, pengobatan TBC harus dilakukan selama enam bulan. Namun, banyak pasien yang merasa malas untuk terus minum obat dalam jangka waktu yang panjang.

“Banyak pasien yang berhenti berobat sebelum masa pengobatan selesai. Mungkin karena merasa sudah membaik atau tidak memiliki keinginan untuk terus mengonsumsi obat,” ujar Elly kepada media.

Menurut Elly, ketidakdisiplinan pasien dalam menjalani terapi dapat menyebabkan proses penyembuhan menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, peran keluarga sangat penting dalam mendampingi penderita agar tetap rutin mengonsumsi obat.

“Keluarga harus memberikan motivasi agar penderita mau minum obat terus. Tanpa dukungan keluarga, proses penyembuhan bisa terganggu,” harapnya.

Elly menegaskan bahwa penghentian pengobatan di tengah jalan bisa berakibat fatal. Bakteri TBC bisa menjadi resisten terhadap obat yang sebelumnya digunakan. Akibatnya, pengobatan harus dilakukan dengan jenis obat yang berbeda dan lebih berat.

“Jika pasien berhenti minum obat, bakterinya akan menjadi resisten. Ini sangat berbahaya karena pengobatannya akan lebih sulit dan memakan waktu lebih lama,” tambah dia.

Selain masalah kedisiplinan, ada juga warga yang terlambat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Banyak orang menganggap gejala awal TBC hanya batuk biasa, padahal gejala tersebut bisa berlangsung dan berkepanjangan.

“Banyak orang mengira hanya batuk biasa, padahal itu bisa menjadi tanda awal TBC. Penting bagi masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang berkelanjutan,” tutur Elly.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, jumlah kasus TBC pada tahun 2023 tercatat sebanyak 2.556 kasus, meningkat menjadi 2.589 kasus pada tahun 2024, dan hingga Oktober 2025 ditemukan 2.294 kasus. Angka ini masih menjadi bagian dari target penemuan kasus dalam upaya eliminasi TBC tahun 2030.

Meskipun upaya deteksi terus dilakukan, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 53 warga meninggal dunia akibat TBC sejak Januari hingga pertengahan November 2025. Meski angka kematian ini menurun dibanding dua tahun sebelumnya, masih ada risiko yang harus diwaspadai.

Pada 2024, jumlah korban meninggal akibat TBC mencapai 130 orang, sedangkan pada 2023 sebanyak 113 orang. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, upaya pencegahan dan pengobatan harus terus ditingkatkan.

Dengan adanya kesadaran masyarakat yang lebih baik dan dukungan dari keluarga serta tenaga medis, diharapkan penyakit TBC dapat diminimalisir dan segera dieliminasi dalam waktu dekat.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar