
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ancaman Tarif Resiprokal yang Mengancam Ekspor Garmen Indonesia ke AS
Produk garmen Indonesia menghadapi ancaman besar dalam pasar Amerika Serikat akibat tarif resiprokal yang diberlakukan. Kenaikan harga yang signifikan membuat produk Indonesia kalah bersaing dibandingkan ekspor dari negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Menurut data yang dikumpulkan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), harga garmen ekspor RI saat ini sudah lebih mahal sekitar 6–8% dibandingkan tiga negara tersebut meskipun tarif belum sepenuhnya berlaku.
Tarif resiprokal yang dikenakan oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia mencapai 19%, sama dengan yang diberlakukan kepada Malaysia dan Thailand. Sementara itu, Vietnam mendapat tarif sedikit lebih tinggi yaitu 20%. Namun, ketiga negara pesaing tersebut telah menyelesaikan perjanjian dagang dengan AS, sehingga beberapa komoditas termasuk garmen dapat masuk bebas bea.
Direktur Eksekutif API, Jemmy Kartiwa, menjelaskan bahwa kondisi ini memperparah biaya produksi garmen di Indonesia. Biaya bunga, energi, dan upah tenaga kerja yang lebih tinggi membuat posisi Indonesia semakin sulit. Selain itu, biaya logistik yang lebih rendah di negara-negara pesaing juga memberi keuntungan tambahan.
- Beberapa faktor yang menyebabkan harga garmen Indonesia lebih mahal:
- Biaya bunga yang lebih tinggi.
- Harga energi yang lebih mahal.
- Upah tenaga kerja yang relatif lebih rendah di negara pesaing.
- Koneksi pelabuhan yang lebih baik dan efisien di negara lain.
Negosiasi perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat masih dalam proses dan belum rampung. Sayangnya, garmen tidak masuk dalam daftar komoditas yang dibebaskan dari bea masuk ke AS. Hal ini dinilai tidak melindungi jutaan pekerja industri garmen, karena harga garmen nasional bisa meningkat hingga 27% di pasar AS dibandingkan dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
"Kami sangat berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap isu ini. Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang hidup-mati jutaan pekerja di sektor padat karya," ujar Jemmy.
Untuk mengurangi dampak tarif, API sedang mendorong pabrikan garmen untuk menambah volume impor kapas dari AS. Langkah ini diharapkan dapat menekan tarif pada produk garmen Indonesia agar lebih rendah dari 19%.
- Strategi yang sedang dilakukan oleh API:
- Mendorong peningkatan impor kapas dari AS.
- Menyamakan neraca dagang Indonesia dan AS.
- Meningkatkan daya saing produk garmen nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Amerika Serikat menjadi pasar utama ekspor produk tekstil dan alas kaki Indonesia. Nilai ekspor pada Januari-Maret 2025 mencapai US$ 1.855,6 juta atau sekitar Rp 31,2 triliun. Dari total tersebut, 63,40% di antaranya ditujukan ke AS.
- Persentase ekspor Indonesia ke AS:
- Alas kaki: 34,1%
- Pakaian bukan rajutan: 42,9%
- Aksesoris dan rajutan: 63,40%
Selain AS, pasar utama ekspor Indonesia adalah Jepang dan Korea Selatan. Negara-negara seperti Belanda, Belgia, dan Tiongkok juga menjadi tujuan ekspor alas kaki dari Indonesia.
Dengan situasi ini, API terus berupaya agar pemerintah memberikan dukungan penuh dalam negosiasi tarif. Jemmy menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya untuk kepentingan pengusaha, tetapi juga sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap dunia usaha sektor padat karya.
Komentar
Kirim Komentar