
Pendahuluan
Karya Tan Malaka berjudul Madilog mengajak masyarakat Indonesia untuk meninggalkan cara berpikir mistik dan beralih ke logika ilmiah. Dalam bukunya, ia menekankan bahwa mitos dan rasio bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua bentuk penjelasan yang bisa saling melengkapi dalam memahami kehidupan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Sebagai contoh, dalam Bab 1 buku Madilog, ia mengutip kutipan dari kitab suci Mesir Kuno yang menyatakan bahwa alam semesta terbentuk melalui sabda dewa. Namun, Tan Malaka menolak pandangan ini dan menegaskan bahwa semesta dan seisinya terbentuk melalui proses yang dapat dijelaskan dengan sains.
Pokok pikiran dari Madilog adalah ajakan untuk meninggalkan cara berpikir mistik dan beralih ke logika ilmiah. Gagasan ini kemudian dibahas kembali oleh beberapa penerus proyek Tan Malaka.
Logika Mistik dan Logika Ilmiah
Menurut Tan Malaka, logika mistik adalah pola pikir yang mengaitkan hubungan sebab-akibat antara fenomena fisik dengan hal-hal rohani. Ia menilai cara berpikir seperti itu meninabobokan nalar kritis. Lewat Madilog, Malaka ingin mengajak masyarakat meninggalkan kepercayaan pada kisah mistik, mitos, dan takhayul, lalu beralih menggunakan logika ilmiah untuk membebaskan diri dari ketertindasan dan kemunduran.
Dalam konteks ini, materialisme metodologis ala Tan Malaka menjadi penting. Materialisme dapat dibedakan menjadi dua jenis: materialisme ontologis dan materialisme metodologis. Yang pertama menyatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada hanyalah hal yang bersifat materi. Sementara itu, materialisme metodologis menyatakan bahwa hal yang patut kita percayai hanyalah yang bisa dibuktikan dengan metode ilmiah atau observasi empiris.
Tan Malaka tampaknya lebih menganut materialisme metodologis. Dalam Madilog, ia tidak menyatakan bahwa hal-hal supernatural tidak ada. Namun, ia ingin menyampaikan bahwa unsur tersebut seharusnya tidak dilibatkan dalam menjelaskan berbagai fenomena fisik. Sebaliknya, kita cukup memakai logika sains seperti teori evolusi Darwin, hukum gravitasi Newton, atau relativitas Einstein untuk memahami asal usul alam semesta, manusia, dan peristiwa-peristiwa sosial lainnya seperti kelaparan, kemiskinan, atau ketidakadilan.
Dari Mitos ke Logos
Peralihan dari logika mistik ke logika materialistik-saintifik (ilmiah) yang diharapkan oleh Tan Malaka sering disamakan dengan peralihan dari mythos ke logos dalam sejarah filsafat Yunani kuno. Di awal perkembangannya, orang-orang menganggap filsafat—yang lebih menekankan logos (akal budi yang rasional)—hadir untuk menggantikan mitos-mitos tentang dewa-dewi yang dipandang irasional.
Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. William Nestle, seorang sejarawan dan filsuf Jerman, menyatakan bahwa filsafat Yunani kuno yang mengedepankan aspek logos tidak bermaksud untuk mengajak orang meninggalkan mitos, melainkan menawarkan cara lain untuk memahami dunia. Logos dan mitos merupakan dua model penjelasan terhadap fenomena-fenomena, baik fenomena jasmani maupun rohani.
Glenn Most, ahli filsafat Yunani dari AS, menulis bahwa “mitos juga memiliki kandungan filsafat sendiri yang tidak dapat dijelaskan oleh logos,” yang bersifat konseptual, analitis, sintetis, dan intensional. Oleh karena itu, logika mistik masih memiliki peran signifikan di masyarakat.
Contoh Nyata Logika Mistik dalam Masyarakat
Beberapa contoh nyata membantu kita memahami bahwa logika mistik masih punya peran signifikan di masyarakat. Pertama, misalnya, bagi beberapa suku di Papua, hutan memiliki hubungan sangat personal dengan manusia. Bahkan di beberapa tempat, masyarakat menganggap hutan sebagai ibu. Secara logika ilmiah, tentu manusia tidak bisa lahir dari pohon. Namun, dalam logika mistik orang Papua, hutan adalah ibu, sumber kehidupan yang harus dilindungi dan dijaga. Tanpa hutan, tidak ada kehidupan.
Begitu juga pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Di sana berkembang mitos bahwa permulaan alam semesta dan manusia terkait dengan keberadaan pohon, hutan, laba-laba, burung elang, dan tumbuhan atau hewan lain yang ada lebih dahulu. Keyakinan pada logika mistik semacam ini membuat mereka memiliki hubungan personal dengan alam dan mendorong mereka untuk melestarikannya.
Logika Mistik dalam Masyarakat Modern
Bagaimana dengan masyarakat modern? Apakah logika mistik masih berlaku? Ya, masih. Salah satu contohnya terlihat dalam perdebatan mengenai kesadaran akan diri manusia (consciousness). Mirip dengan Tan Malaka, kaum materialis berpendapat bahwa kesadaran, bila itu ada, hanyalah hasil dari kerja sel-sel otak saja. Namun, bagi para pemikir lain, penjelasan semacam ini tidak menjawab pertanyaan "Mengapa?" Penjelasan saintifik hanya menjawab pertanyaan, "Bagaimana aku sadar bahwa ini adalah aku dan bukan orang lain?"
Oleh karena itu, kesadaran diri tidak dapat direduksi ke dalam proses biologis semata. Kesadaran juga menyangkut pengalaman batin yang tak dapat dijelaskan secara material.
Kesimpulan
Oleh karena itu, salah satu ajakan Malaka dalam Madilog untuk meninggalkan logika mistik perlu dilihat secara kritis. Tulisan ini bukan mengajak orang untuk percaya pada takhayul. Jika orang hanya berhenti pada mempercayai mitos, tanpa mengetahui apa maksud dari mitos itu, orang akan jadi irasional. Sikap tersebut tentu saja tidak dibenarkan.
Meski demikian, logika mistik juga tak sepenuhnya tidak dapat dipercaya. Sebab di dalamnya masih ada nilai, makna, dan rasionalitas tersendiri. Logika mistik dan logika saintifik seharusnya tidak saling meniadakan, tapi saling melengkapi dalam memahami dunia yang kompleks ini.
Komentar
Kirim Komentar