Penjualan Ritel November 2025 Melaju Kencang, Didorong Sektor Tertentu
Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan ritel pada bulan November 2025 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 222,9, yang berarti mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen secara tahunan. Angka ini melampaui pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada di angka 4,3 persen secara tahunan, menandakan adanya akselerasi dalam aktivitas belanja masyarakat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pertumbuhan kuat pada bulan November ini utamanya ditopang oleh lonjakan penjualan pada beberapa kelompok barang kunci. Kategori Suku Cadang dan Aksesori menjadi motor penggerak utama, mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 17,7 persen secara tahunan. Diikuti oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang juga menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan 8,5 persen secara tahunan. Selain itu, kelompok Barang Budaya dan Rekreasi turut berkontribusi dengan pertumbuhan sebesar 8,1 persen secara tahunan. Kinerja positif ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut mampu merespons kebutuhan dan keinginan konsumen dengan baik.
Dilihat dari perspektif bulanan, penjualan eceran pada November 2025 juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Tercatat tumbuh sebesar 1,5 persen dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,6 persen. Peningkatan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk lonjakan permintaan masyarakat yang mulai terasa menjelang periode perayaan Natal dan Tahun Baru. Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Suku Cadang dan Aksesori menjadi komoditas yang permintaannya meningkat tajam. Kenaikan permintaan ini merupakan pola musiman yang biasa terjadi menjelang akhir tahun, namun kali ini terlihat lebih kuat.
Proyeksi Kinerja Desember 2025: Pertumbuhan Berkelanjutan Meski Moderat
Melihat tren positif yang ada, BI memproyeksikan bahwa kinerja penjualan ritel pada bulan Desember 2025 akan tetap menunjukkan tren pertumbuhan. Meskipun diprediksi tidak akan setinggi bulan November, namun Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan akan mencapai 231,7, yang berarti tumbuh sebesar 4,4 persen secara tahunan. Proyeksi ini menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan penjualan eceran masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,0 persen. Peningkatan ini diperkirakan akan didorong oleh kinerja positif dari sebagian besar kelompok barang. Beberapa yang menjadi sorotan utama meliputi:
- Peralatan Informasi dan Komunikasi: Kelompok ini diprediksi akan terus diminati, seiring dengan kebutuhan masyarakat untuk perangkat komunikasi dan hiburan menjelang liburan.
- Barang Budaya dan Rekreasi: Permintaan untuk barang-barang yang menunjang aktivitas budaya dan rekreasi diperkirakan akan meningkat, sejalan dengan libur panjang akhir tahun.
- Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya: Kebutuhan akan perlengkapan rumah tangga juga diprediksi mengalami kenaikan, mengingat banyak masyarakat yang menghabiskan waktu di rumah atau melakukan persiapan untuk perayaan.
- Makanan, Minuman, dan Tembakau: Kelompok ini secara tradisional akan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan selama periode perayaan Natal dan Tahun Baru.
Peningkatan permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, yang merupakan fenomena yang umum terjadi setiap tahunnya.
Ekspektasi Harga: Inflasi Naik di Awal 2026, Lalu Menurun
Beranjak ke sisi harga, survei BI juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi inflasi di masa mendatang. Untuk tiga bulan ke depan, yaitu Februari 2026, tekanan inflasi diprakirakan akan mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang tercatat sebesar 168,6. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 163,2.
Peningkatan ekspektasi inflasi ini utamanya didorong oleh antisipasi kenaikan harga yang menjelang periode Ramadan. Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok menjelang bulan puasa merupakan pola yang sudah lazim terjadi di Indonesia.
Namun, berbeda dengan proyeksi jangka pendek, untuk enam bulan ke depan, yaitu Mei 2026, ekspektasi inflasi justru diprediksi akan mengalami penurunan. IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5, yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 161,7. Penurunan ekspektasi inflasi ini bisa jadi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah, panen raya, atau normalisasi harga pasca-lebaran. Gambaran ini menunjukkan adanya fluktuasi ekspektasi harga yang perlu dicermati lebih lanjut oleh para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan.
Komentar
Kirim Komentar