Surat Cinta untuk Saudaraku di Negeri Jiran

Surat Cinta untuk Saudaraku di Negeri Jiran

Jagat maya sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik Surat Cinta untuk Saudaraku di Negeri Jiran. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Surat dari Hati

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudaraku yang Allah muliakan di Malaysia, semoga rahmat dan perlindungan-Nya senantiasa menaungi setiap langkah kalian.

Surat ini lahir dari hati yang bergetar. Dari rasa haru dan derai air mata yang tak sanggup saya pendam sendiri. Setelah mendengar kabar tentang kedatangan kalian—tentang tangan-tangan yang terulur membawa bantuan untuk saudara kami di Aceh dan di Sumatera yang sedang berduka.

Di saat hujan dan banjir menyisakan luka, di saat tanah runtuh merenggut nyawa dan harapan, kalian datang bukan sebagai orang asing. Kalian hadir sebagai saudara. Mengantarkan bukan hanya logistik, tetapi juga rasa bahwa kami tidak sendiri.

Terima kasih.
Terima kasih yang tak akan pernah cukup diucapkan dengan kata-kata.
Jazakumullahu khairan katsiran.

Semoga setiap rupiah yang disisihkan, setiap langkah yang ditempuh, dan setiap niat baik yang dipanjatkan, Allah balas dengan keberkahan berlipat ganda.

Terus terang, hati kami sempat terasa perih ketika mendengar suara yang meremehkan uluran tangan kalian. Ada kata-kata yang tak pantas, yang seolah lupa bahwa kemanusiaan tak pernah diukur dari besar kecilnya angka. Namun mohon, jangan biarkan hal itu melukai ketulusan kalian.

Ketahuilah, di sini kami begitu banyak bersyukur.
Kami berterima kasih.
Kami terharu.

Bagi kami, kepedulian adalah anugerah. Sekadar ada yang peduli saja sudah membuat dada kami terasa lebih lapang. Karena di tengah hiruk-pikuk dunia, masih ada manusia yang mendengar jerit duka tanpa diminta, lalu bergerak tanpa banyak bicara.

Saudaraku, saya menulis surat ini dengan mata basah. Saya memang bukan orang Sumatera. Saya dan keluarga pun tidak berdiri di tengah genangan air atau reruntuhan rumah akibat banjir Sumatera. Namun luka mereka terasa sampai ke sini. Sebab ketika satu saudara menangis, seharusnya yang lain ikut merasakan perihnya.

Terima kasih karena telah menenangkan luka itu. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa empati masih hidup.

Kami justru banyak sekali belajar dari kalian—belajar tentang kepekaan, tentang keberanian untuk peduli, tentang kemanusiaan yang tidak menunggu sorotan. Di saat sebagian dari kami sibuk bertanya dan menilai, kalian memilih untuk datang dan membantu.

Malaysia, selama ini kami mengenalmu lewat senyum anak kembar lucu dalam serial Upin dan Ipin—yang mengajarkan sopan santun, kejujuran, dan persaudaraan kepada anak-anak Indonesia. Kini kami sadar betul, bahwa nilai-nilai itu bukan sekadar cerita. Kalian membuktikannya dengan perbuatan. Akhlak yang hidup, bukan hanya ditayangkan.

Saudaraku, bencana banjir Sumatera memang menyisakan duka dan pilu yang panjang. Tetapi uluran tangan kalian telah menjelma kekuatan. Ia menjadi penopang bagi mereka yang nyaris putus asa. Menjadi alasan untuk kembali bangkit, berdiri, dan melanjutkan hidup dengan hati yang lebih tabah.

Terima kasih telah menjadi bagian dari penguat itu.

Kami pun ingin memohon, jika berkenan, doakanlah negeri kami. Doakan agar Indonesia diberi pemimpin yang adil, amanah, dan bijaksana. Doakan agar kami bisa hidup lebih tenang, bekerja dengan layak, dan menjalani hari tanpa harus terus-menerus menyaksikan luka yang diciptakan oleh keserakahan dan ketidakpedulian.

Tolong, langitkanlah doa-doa itu bersama kami.

Kami rindu hidup damai.
Kami rindu merasa aman di negeri sendiri.

Doakan kami agar diberi pemimpin yang berhati bersih, yang memimpin dengan nurani, bukan dengan hawa nafsu belaka.
Doakan kami, agar bangsa ini bisa belajar dari kebaikan seperti yang telah kalian contohkan.

Saudaraku di Malaysia, terima kasih telah mengajarkan kami arti persaudaraan tanpa batas wilayah.

Semoga Malaysia senantiasa dalam lindungan Allah—damai negerinya, sejahtera rakyatnya, dan diberkahi setiap niat baiknya.

Salam cinta dan hormat,
Seorang Warga Negara Indonesia
yang menyimpan rasa terima kasih dan kasih sayang
untuk saudara-saudaranya di Malaysia

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar