
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Tegangnya Hubungan AS-China Sebelum Pertemuan Puncak
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dijadwalkan bertemu di Korea Selatan pekan depan. Namun, seiring dengan kedatangan momen penting ini, ketegangan antara dua negara adidaya tersebut justru semakin memuncak. Hal ini terjadi setelah Beijing memperluas pembatasan ekspor logam tanah jarang sebagai respons atas keputusan AS yang menambah daftar perusahaan yang dilarang membeli teknologi asal Negeri Paman Sam.
Langkah China ini dinilai sebagai ekspansi besar terhadap instrumen kebijakan perdagangannya dan menunjukkan niat Beijing memanfaatkan dominasinya dalam rantai pasok global. China, yang memproduksi lebih dari 90% pasokan logam tanah jarang dunia, merancang pembatasan tersebut dengan meniru aturan AS yang sebelumnya membatasi ekspor produk semikonduktor ke negara Asia.
Perluasan Yurisdiksi Ekstrateritorial
Cory Combs, analis di lembaga konsultasi Trivium China, menyatakan bahwa langkah ini merupakan perluasan besar dari yurisdiksi ekstrateritorial. Bahasanya sangat eksplisit, secara khusus menargetkan sejumlah chip. Menurut sumber internal, pemerintahan Trump terkejut oleh langkah balasan China, dan pejabat AS kini tengah menanyakan dampak kebijakan itu terhadap perusahaan-perusahaan Amerika.
Para analis menilai, meski Beijing berupaya menggambarkan kebijakan ekspornya terbatas, kerangka aturan tersebut telah disiapkan lama dan kemungkinan besar akan tetap diterapkan. AS menuduh China melancarkan perang ekonomi, sementara Trump memperingatkan pertemuan puncak dengan Xi bisa batal.
Masa Depan Kesepakatan
Beberapa pekan sebelumnya, Trump sempat memuji kemajuan pembahasan isu perdagangan, TikTok, penyelundupan fentanyl, dan perang di Ukraina setelah pembicaraan di Madrid dan panggilan telepon dengan Xi pada September. Para analis menilai, bahkan jika pertemuan Trump-Xi berlangsung, keyakinan masing-masing pihak bahwa mereka berada di posisi lebih kuat — ditambah sikap Beijing yang semakin tegas — membuat kemungkinan tercapainya kesepakatan terbatas pada isu kecil.
Wu Xinbo, Direktur Pusat Kajian Amerika di Universitas Fudan, Shanghai, mengatakan bahwa China menilai negosiasi saja tidak cukup dan langkah tandingan yang efektif terhadap AS diperlukan untuk mencegah tekanan lebih lanjut. Langkah terbaru China mencerminkan perubahan pendekatan negosiasi ekonomi dan perdagangan dengan AS selama masa jabatan kedua Trump.
Ancaman Tarif Tinggi
Trump menegaskan masih berencana bertemu Xi di Korea Selatan pada akhir Oktober, di sela-sela pertemuan APEC, dan berharap dapat mencapai kesepakatan. Namun, dia kembali mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100% jika pembicaraan gagal. Sebagai upaya terakhir meredam ketegangan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dijadwalkan bertemu di Malaysia dalam beberapa hari ke depan.
Pertemuan tersebut mengikuti serangkaian negosiasi keras di berbagai ibu kota Eropa — mulai dari Jenewa hingga Stockholm — yang mencakup isu perdagangan, fentanyl, akses pasar, dan komitmen ekonomi. Kedua pihak saling menuding gagal menepati janji setelah pembicaraan itu.
Keyakinan Masing-Masing Pihak
Michael Hart, Presiden Kamar Dagang AS di China, mengatakan salah satu tantangan utama adalah keyakinan masing-masing pihak bahwa kedua negara memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Pejabat China merasa percaya diri terhadap perekonomian mereka dan melihat AS sedang dilanda kekacauan ekonomi dan politik. Karena itu, mereka merasa berada di posisi yang kuat.
Di sisi lain, pejabat AS justru merasa yakin kondisi ekonomi mereka lebih solid dan menilai ekonomi China sedang melemah. Ketidakselarasan kebijakan AS terhadap China disebut semakin memperumit upaya meredakan ketegangan, di tengah kombinasi langkah hukuman dan pelonggaran terbatas terhadap ekspor chip serta kesepakatan aplikasi media sosial TikTok.
Strategi Diversifikasi Ekonomi
Meski kedua pihak bersiap melanjutkan pembicaraan, Washington dan Beijing juga mulai memperluas strategi diversifikasi ekonomi serta menyiapkan langkah baru untuk mengurangi ketergantungan satu sama lain. Pada awal pekan ini, Trump menandatangani pakta mineral strategis dengan Australia guna mengimbangi peran dominan China di sektor tersebut. Di sisi lain, AS juga tengah mempertimbangkan kebijakan baru untuk membatasi ekspor produk berbasis perangkat lunak.
Pejabat AS juga menyatakan pemerintah sedang menyiapkan tarif sektoral tambahan yang mencakup industri semikonduktor, farmasi, dan sektor strategis lainnya. Sebaliknya, China diperkirakan dapat mengambil langkah balasan dengan memperketat penerapan aturan ekspor logam tanah jarang, meluncurkan penyelidikan antimonopoli terhadap perusahaan AS, atau meningkatkan tarif seperti yang dilakukan pada April lalu.
Skenario Terbaik
Di tengah ketidakpercayaan yang kian dalam, sebagian pejabat AS menilai skenario paling optimistis adalah kesepakatan lanjutan dari Phase One Deal tahun 2020. Kesepakatan yang mencakup pembelian kedelai atau produk pertanian lain dinilai lebih mudah dicapai. “Skenario terbaik adalah langkah-langkah membangun kepercayaan dan arahan untuk melanjutkan negosiasi kesepakatan baru yang bisa diluncurkan pada paruh pertama tahun depan,” ujar Peter Harrell, mantan pejabat ekonomi internasional di pemerintahan Biden.
Komentar
Kirim Komentar