Siaga 10 Jam, Sat Polair Pantau Distribusi Logistik Banjir Bireuen

Siaga 10 Jam, Sat Polair Pantau Distribusi Logistik Banjir Bireuen

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Siaga 10 Jam, Sat Polair Pantau Distribusi Logistik Banjir Bireuen, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Upaya Personel Polair dalam Mendistribusikan Bantuan Logistik

Personel Satuan Polisi Perairan (Sat Polair) Polres Bireuen, bersama dengan Direktorat Polair Polda Aceh dan Sat Polair Lhokseumawe, melakukan pengawalan terhadap distribusi bantuan logistik bagi warga yang terdampak banjir di Sungai Putabalang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Kegiatan ini dilakukan pada Kamis (18/12). Penyeberangan sungai dilakukan karena akses darat terputus akibat jembatan yang rusak akibat banjir.

Perwira Pengendali Penyeberangan Sungai Putabalang, Aipda Hasanuddin, menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan oleh personel gabungan untuk memastikan bantuan kemanusiaan tiba tepat sasaran. “Dari Sat Polair Polres Bireuen ada delapan personel, Ditpol Air Polda Aceh enam orang, dan Sat Polair Lhokseumawe empat orang,” ujarnya.

Penugasan di lokasi penyeberangan dimulai sejak hari keempat pasca-banjir. “Kami mulai bertugas di penyeberangan ini sejak hari Minggu, tepatnya hari keempat setelah kejadian banjir,” kata Hasanuddin.

Fokus utama dari penyeberangan adalah kebutuhan kemanusiaan, termasuk distribusi logistik, mobilisasi relawan, evakuasi jenazah, serta penanganan warga yang membutuhkan layanan medis. “Kami dikhususkan untuk membantu penyeberangan logistik, relawan, jenazah, dan masyarakat yang sakit,” tambahnya.

Hasanuddin menuturkan bahwa putusnya jembatan membuat penyeberangan sungai menjadi satu-satunya akses bagi penyaluran bantuan. “Jembatan putus saat banjir kemarin, sehingga penyeberangan sungai menjadi satu-satunya akses,” ungkap Hasanuddin.

Intensitas penyeberangan disesuaikan dengan arus bantuan yang datang. Personel bersiaga hingga sekitar 10 jam per hari untuk memastikan distribusi berjalan aman. Namun, operasi sering terkendala cuaca dan kondisi sungai. “Tiga hari terakhir hampir setiap sore hujan. Sungai juga mulai dangkal, sehingga saat menepi perahu sering tersangkut,” ulasnya.

Meskipun menghadapi tantangan, Hasanuddin memastikan seluruh bantuan telah tersalurkan kepada warga terdampak. “Alhamdulillah, semua bantuan sudah tersalurkan.”

Tantangan dalam Operasi Penyeberangan

Operasi penyeberangan yang dilakukan oleh personel Polair tidak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi. Salah satu kendala utama adalah cuaca yang tidak menentu. Selama tiga hari terakhir, hujan sering terjadi di sore hari, yang memengaruhi kondisi sungai. Sungai yang mulai dangkal menyebabkan perahu sering kali tersangkut saat menepi.

Selain itu, kondisi sungai yang tidak stabil juga memengaruhi kecepatan dan keselamatan dalam proses penyeberangan. Hal ini memaksa personel untuk lebih waspada dan memastikan bahwa setiap perahu yang digunakan dalam operasi tetap dalam kondisi yang baik.

Peran Personel Gabungan

Personel gabungan yang terlibat dalam operasi ini berasal dari tiga satuan, yaitu Sat Polair Polres Bireuen, Direktorat Polair Polda Aceh, dan Sat Polair Lhokseumawe. Masing-masing satuan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung operasi penyeberangan.

Delapan personel dari Sat Polair Polres Bireuen bekerja sama dengan enam personel dari Direktorat Polair Polda Aceh dan empat personel dari Sat Polair Lhokseumawe. Kombinasi ini memastikan bahwa operasi dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Dampak Terhadap Warga Terdampak Banjir

Bantuan logistik yang didistribusikan melalui penyeberangan sungai sangat penting bagi warga yang terdampak banjir. Dengan akses darat yang terputus, penyeberangan sungai menjadi satu-satunya jalur yang bisa digunakan untuk mengirimkan bantuan.

Warga terdampak banjir membutuhkan berbagai jenis bantuan, mulai dari makanan, air minum, obat-obatan, hingga perlengkapan kebutuhan dasar lainnya. Dengan bantuan yang tersalurkan, harapan hidup warga semakin meningkat, meskipun mereka masih harus menghadapi tantangan-tantangan besar akibat bencana alam ini.

Kesimpulan

Operasi penyeberangan yang dilakukan oleh personel Polair merupakan upaya penting dalam mendukung distribusi bantuan logistik bagi warga terdampak banjir. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti cuaca yang tidak menentu dan kondisi sungai yang sulit, personel gabungan tetap berkomitmen untuk memastikan bantuan dapat sampai tepat sasaran.

Hasanuddin menyatakan bahwa semua bantuan telah tersalurkan, yang merupakan hasil kerja keras dan dedikasi dari seluruh pihak yang terlibat dalam operasi ini. Dengan adanya upaya seperti ini, diharapkan dapat memberikan dukungan yang signifikan bagi warga yang sedang menghadapi situasi sulit akibat banjir.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar