Ekspor LPG Rusia ke Afghanistan dan Asia Tengah Meningkat Signifikan
Pada tahun ini, ekspor liquefied petroleum gas (LPG) dari Rusia ke Afghanistan dan negara-negara Asia Tengah mengalami peningkatan yang signifikan. Lonjakan ini terjadi akibat embargo yang diberlakukan oleh Uni Eropa terhadap pasokan gas alam Rusia. Sebelumnya, selama tiga tahun berturut-turut, pendapatan ekspor gas alam Rusia mengalami penurunan akibat sanksi Barat setelah perang di Ukraina. Selain itu, Moskow juga mengakui bahwa sanksi tersebut menghambat rencana ekspansi produksi liquefied natural gas (LNG).
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ekspor LPG Naik Dua Kali Lipat
Secara keseluruhan, ekspor LPG Rusia ke Afghanistan dan Asia Tengah meningkat hingga 36 persen dari total ekspor. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 19 persen. Berdasarkan laporan dari UNN, Afghanistan menjadi pembeli terbesar LPG Rusia pada tahun ini dibandingkan negara-negara Asia Tengah lainnya. Tingginya impor LPG dari Rusia disebabkan oleh pengurangan ekspor dari Iran akibat sanksi dari Amerika Serikat.
Sementara itu, KazRosGas, sebuah kemitraan bisnis antara Rusia dan Kazakhstan, telah berperan penting dalam rantai pengiriman LPG ke Afghanistan. Perusahaan ini telah memasok sebanyak 418 ribu ton LPG ke Afghanistan dalam 11 bulan terakhir.

Rencana Pembangunan Jalur Kereta Api di Afghanistan
Pada saat yang sama, Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexei Overchuk, menyatakan minat Rusia untuk membangun jalur kereta api yang melalui Afghanistan. Rencana ini dimaksudkan untuk mengekspansi jaringan transportasi di negara tersebut. “Konektivitas yang lebih besar dengan pasar di bagian selatan akan membantu mendiversifikasi rute transportasi dan logistik Rusia. Opsi untuk membangun jalur kereta api di Afghanistan sudah didiskusikan dan nantinya difokuskan pada koridor barat dan timur,” ujar Overchuk.
Overchuk menjelaskan bahwa para ahli dari Rusia saat ini sedang melakukan uji kelayakan jalur kereta api di Afghanistan. Nantinya, mereka akan ikut berpartisipasi dalam konsultasi teknis di Afghanistan.

Taliban Setuju dengan Rencana Rusia
Juru Bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, menyatakan bahwa Afghanistan menyambut baik rencana Rusia untuk membangun jalur kereta api di negaranya. Jalur kereta ini akan meningkatkan konektivitas dengan proyek besar di kawasan Asia Tengah. “Afghanistan mendukung dan akan berkomitmen untuk semua proyek yang menguntungkan di kawasan, memperkuat konektivitas regional, dan berkontribusi dalam kesejahteraan ekonomi, dan pembangunan negara-negara di kawasan,” ujar Fitrat.
Taliban menyebut bahwa ekspansi kerja sama perdagangan, infrastruktur, dan transportasi dengan Rusia akan mengurangi isolasi internasional kepada Afghanistan. Pada Juli, Rusia akhirnya bersedia mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan setelah memimpin sejak 2021.

Larangan Ekspor Bensin Diperpanjang
Selain itu, Rusia memperpanjang larangan ekspor bensin hingga akhir Februari 2026. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah pemerintah untuk mengendalikan pasokan bahan bakar di dalam negeri. Sementara itu, pendapatan Rusia dari ekspor gas alam telah mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut akibat sanksi internasional.
Komentar
Kirim Komentar