
aiotrade—
Di tengah arus investasi global yang terus mengalir ke sektor kecerdasan buatan dan robotika, robot humanoid sering kali dianggap sebagai simbol masa depan dunia kerja. Tokoh-tokoh teknologi seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg berada dalam ekosistem yang sama, yaitu memperkuat keyakinan bahwa mesin yang menyerupai manusia akan menjadi bagian dari aktivitas industri maupun domestik. Namun, di balik optimisme tersebut, para pembuat robot humanoid justru menunjukkan sikap yang lebih hati-hati.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Banyak dana miliaran dolar AS dialirkan ke puluhan perusahaan rintisan robot humanoid dengan tujuan untuk menempatkan mesin-mesin ini di gudang logistik, pabrik manufaktur, hingga rumah tangga. Meski demikian, para pemimpin industri menilai ekspektasi publik dan investor telah melampaui kesiapan teknologi yang tersedia saat ini.
Beberapa insinyur dan eksekutif perusahaan robotika mengakui bahwa robot humanoid masih menghadapi keterbatasan mendasar, terutama dalam menangani tugas kompleks yang selama ini dilakukan manusia. Pras Velagapudi, Kepala Teknologi Agility Robotics, menjelaskan bahwa tantangan utamanya bukan sekadar membuat robot humanoid, tetapi memastikan bahwa robot tersebut bisa melakukan pekerjaan yang benar-benar memiliki nilai guna nyata di lingkungan industri.
Perusahaan tersebut telah menempatkan ratusan unit robot Digit di gudang pelanggan seperti Amazon.com dan produsen suku cadang otomotif Schaeffler. Namun, Velagapudi menegaskan bahwa kemampuan robot saat ini masih terbatas pada tugas-tugas sederhana, seperti memindahkan barang di lingkungan terkontrol. Ia menyebut bahwa ada lompatan asumsi besar antara melihat robot melipat cucian hingga membayangkan pelayan rumah tangga yang bisa melakukan semuanya.
Nada kehati-hatian serupa juga terdengar dalam Humanoids Summit di Mountain View, California, yang mempertemukan pelaku utama industri robot humanoid global. Isaac Qureshi, CEO Gatlin Robotics, menggambarkan proses pengembangan robot pembersih kantornya sebagai perjalanan bertahap.
“Kami akan mengajarkan robot Gatlin melakukan tugas-tugas paling dasar terlebih dahulu, seperti membersihkan permukaan yang kotor dan mengosongkan tempat sampah. Sementara itu, membersihkan toilet masih menjadi target besar jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Kaan Dogrusoz, mantan insinyur Apple dan CEO Weave Robotics, menilai teknologi robot humanoid saat ini belum matang sebagai produk komersial. “Ada banyak kemajuan teknologi dan talenta luar biasa, tetapi ini belum menjadi produk yang terdefinisi dengan baik,” katanya, seraya membandingkannya dengan kegagalan komersial Apple Newton pada 1990-an.
Kritik juga datang dari kalangan veteran industri. Rodney Brooks, salah satu pendiri iRobot, menyebut gagasan robot humanoid sebagai asisten serba bisa masih bersifat spekulatif. Dia menilai keterbatasan sensor, keseimbangan, dan manipulasi fisik tidak mudah diatasi hanya dengan kecerdasan buatan dan pelatihan berbasis data visual.
Pandangan skeptis tersebut berseberangan dengan optimisme Elon Musk. CEO Tesla itu memperkirakan permintaan robot humanoid Optimus akan “melonjak tajam” dan menargetkan produksi massal pada akhir dekade ini. Optimisme serupa juga diungkapkan pimpinan perusahaan teknologi besar lainnya yang melihat robot sebagai solusi atas kekurangan tenaga kerja global dan penuaan populasi.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan biaya dan keselamatan masih menjadi hambatan utama. Mitra McKinsey, Ani Kelkar, menilai sebagian besar anggaran penerapan robot justru terserap pada sistem pendukung dan pengamanan, sehingga hanya sebagian kecil dana yang benar-benar dialokasikan untuk mesin robot itu sendiri.
Dengan demikian, di tengah euforia investasi dan proyeksi ambisius, industri robot humanoid masih berada dalam fase pencarian kegunaan paling realistis. Untuk saat ini, robot dinilai lebih cocok mengisi peran pada tugas-tugas berulang dengan tingkat risiko rendah.
Sementara itu, visi pengembangan robot serbabisa yang mampu menggantikan manusia secara menyeluruh masih menjadi agenda jangka panjang dalam evolusi teknologi global.
Komentar
Kirim Komentar