
Studi Mengungkap Perubahan Sikap Kelas Menengah Indonesia
Hakuhodo International Indonesia melalui Sei-katsu-sha Lab baru saja merilis laporan terbaru berjudul “Navigating the In Between, Living as Indonesian Middle Class”. Laporan ini menggambarkan perubahan sikap dan cara pandang kelas menengah Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi yang semakin meningkat. Dalam studi ini, ditemukan bahwa meskipun jumlah kelas menengah mengalami penurunan, mereka tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah turun dari 57,3 juta menjadi 47,85 juta pada tahun 2024. Meski demikian, kelompok ini masih memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia karena menyumbang lebih dari 81 persen konsumsi domestik. Devi Attamimi dari Hakuhodo International Indonesia mengatakan, “Di dunia yang terus bergerak tanpa henti, kelas menengah membawa mimpi sekaligus menanggung tekanan zaman.”
Dari Ambisi Menjadi Realitas
Hasil riset ini menunjukkan bahwa kelas menengah kini lebih realistis dalam menjalani hidup. Mereka tetap memiliki ambisi untuk maju, tetapi dengan pendekatan yang lebih stabil. Sebanyak 89 persen responden mengaku tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Mereka sering menyebut hal tersebut dengan frasa “My Scar, My Strength”.
Prioritas hidup juga mulai bergeser. Dulu, fokus utama adalah tampil baik atau “look good”, tetapi kini lebih menekankan perasaan baik atau “feel good”. Kebahagiaan kini diukur dari keseimbangan dan ketenangan batin, bukan lagi dari citra sosial. Rian Prabana dari Sei-katsu-sha Lab menjelaskan, “Mereka tak lagi sekadar membuktikan diri, tapi memperbaiki diri.”
Perubahan Prioritas dan Konsumsi
Sebanyak 57 persen responden mengatakan bahwa mereka berencana untuk membuka usaha sendiri. Selain itu, semakin banyak orang yang berderma melalui zakat atau donasi. Dalam hal konsumsi, orientasi mereka juga berubah. Belanja bukan lagi dilakukan untuk pamer, tetapi untuk menciptakan rasa nyaman dan bahagia.
61 persen responden bahkan rutin memberikan hadiah kecil untuk diri sendiri sebagai bentuk terapi mental. Fenomena ini disebut sebagai “The Grown Up Middle”. Kelas menengah kini tumbuh lebih bijak dan sadar bahwa stabilitas dan martabat pribadi lebih penting daripada sekadar status sosial.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia sedang mengalami transformasi besar. Meskipun menghadapi tantangan ekonomi, mereka tetap optimis dan adaptif. Dengan perubahan pola pikir dan prioritas, kelas menengah kini lebih fokus pada kesejahteraan diri dan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, mereka tetap menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Komentar
Kirim Komentar