
Pura Belong Batu Nunggul di Bali Kini Jadi Sorotan
Pura Belong Batu Nunggul yang berada di Lingkungan Buana Gubug, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali kini menjadi perhatian publik dan viral di media sosial. Perhatian ini muncul karena adanya dugaan bahwa pura tersebut dibangun di atas lahan milik orang lain.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Nyoman Suratna, seorang warga Banjar Perarudan, Jimbaran, mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui keberadaan pura yang disebut Pura Belong Batu Nunggul di wilayah desa adat setempat. Ia menyatakan bahwa di daerah tersebut hanya ada dua pura, yaitu Pura Goa Peteng dan Pura Dompa.
"Seingat saya di daerah sana tidak pernah ada pura yang bernama Pura Belong Batu Nunggul. Yang saya ketahui hanya ada Pura Goa Peteng dan Pura Dompa. Nah ini kok aneh, tiba-tiba ada nama pura baru yang katanya diempon oleh desa adat. Kapan desa adat bangun pura di sana?" ujar Suratna, yang juga Wakil Ketua LPM Jimbaran periode 2016.
Suratna meminta masyarakat untuk lebih hati-hati dalam memilah informasi dan mencari tahu sejarah dari keberadaan Pura Belong Batu Nunggul yang terletak di lahan orang lain. Ia juga mengimbau agar warga tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial terkait pendirian atau pemugaran pura tersebut.
Hal serupa juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Bali yang juga anggota Trah Kerajaan Mengwi Badung, I Gusti Ngurah Harta. Ia menjelaskan bahwa Pura Belong Batu Nunggul di Lingkungan Buana Gubug, Kelurahan Jimbaran, tidak memiliki keterkaitan dengan Pura Ulun Suwi di Desa Adat Jimbaran maupun Kahyangan Jagat Pura Luhur Uluwatu, yang selama ini menjadi tempat suci utama bagi umat Hindu di Bali.
Ngurah Harta menegaskan bahwa dalam prasasti maupun purana Pura Ulun Suwi yang didirikan oleh leluhurnya, I Gusti Agung Maruti, tidak pernah menyebutkan adanya hubungan sejarah, geografis, atau spiritual antara Pura Ulun Suwi dan Pura Belong Batu Nunggul.
"Tidak ada keterkaitan antara Pura Belong Batu Nunggul dengan Pura Ulun Suwi maupun Pura Luhur Uluwatu. Dalam prasasti peninggalan leluhur kami, I Gusti Agung Maruti, tidak pernah disebutkan pura itu sebagai bagian dari wilayah atau wewidangan Desa Adat Jimbaran," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam membangun atau merenovasi pura, kejelasan status tanah dan legalitas kepemilikan lahan harus menjadi perhatian utama. Terlebih jika pembangunan menggunakan dana bantuan pemerintah.
Menurutnya, penggunaan anggaran bersumber dari APBD harus mengikuti aturan hukum dan prinsip kesucian pura. Ia menekankan bahwa setiap pura memiliki latar belakang dan sejarah pendirian yang harus dilandasi oleh tata krama adat, awig-awig, serta bukti otentik leluhur.
Pertanyaan yang Muncul
Beberapa pertanyaan muncul terkait keberadaan Pura Belong Batu Nunggul, seperti:
- Apakah benar Pura Belong Batu Nunggul dibangun di atas lahan yang tidak sah?
- Bagaimana proses pembangunan dan perizinan yang digunakan?
- Apakah ada konfirmasi resmi dari pihak desa adat atau pemerintah setempat?
Selain itu, masyarakat juga mulai mempertanyakan tanggung jawab pihak yang terlibat dalam pembangunan pura tersebut. Mereka ingin tahu apakah ada indikasi korupsi atau pelanggaran hukum dalam proses pembangunan.
Tindakan yang Diharapkan
Masyarakat dan tokoh adat Bali berharap agar pihak berwenang segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengklarifikasi situasi ini. Beberapa hal yang diharapkan meliputi:
- Penyelidikan mendalam terkait status lahan dan legalitas pembangunan.
- Pengungkapan informasi secara transparan kepada masyarakat.
- Tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh kejelasan dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan beragama dan beradat di Bali.
Komentar
Kirim Komentar