
Jakarta – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengumumkan bahwa proyek hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) akan segera dilaksanakan pada tahun depan. Proyek ini diharapkan menjadi salah satu inisiatif penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Turino Yulianto, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam, menjelaskan bahwa perseroan semakin serius dalam mendorong hilirisasi batubara, termasuk untuk produksi DME. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga (PPN) sedang dalam proses penjajakan.
“Saat ini kami lebih fokus pada hilirisasi batubara, baik dari segi teknologi maupun cadangan. Dengan adanya kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga, saya berharap proyek DME bisa mulai berjalan pada tahun depan,” ujarnya saat hadir dalam acara Hipmi-Danantara Indonesia Bisnis Forum di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Menurut Turino, PTBA tidak menghadapi kendala dalam hal teknologi maupun cadangan batubara terkait proyek DME. Perseroan telah menyediakan cadangan sebesar 800 juta ton khusus untuk keperluan hilirisasi. Selain DME, PTBA juga sedang mengembangkan beberapa produk lain dari batubara seperti coal to methanol dan amonia.
“Secara teknologi tidak ada masalah, demikian pula dengan cadangan. Kami sudah menyiapkan 800 juta ton batubara khusus untuk hilirisasi, jadi tidak ada kendala dalam hal cadangan,” kata Turino.
Proyek pembangunan satu pabrik DME diperkirakan membutuhkan investasi sebesar US$ 2,5 miliar atau setara dengan Rp 40 triliun. Selain itu, PTBA juga tengah mempertimbangkan proyek coal to methanol yang dinilai memiliki potensi besar karena methanol merupakan bahan dasar dari banyak industri.
“Methanol adalah induk dari berbagai industri. Saat ini Indonesia masih mengimpor methanol dalam jumlah besar, sehingga proyek ini sangat strategis,” ujarnya.
Selain methanol, batubara juga dapat diolah menjadi amonia yang digunakan sebagai bahan campuran pupuk. Salah satu produk yang sedang dikembangkan oleh PTBA adalah Kalium Humat, yang berfungsi menjaga kesuburan tanah.
“Kalium Humat membantu menjaga unsur hara tanah. Kami telah melakukan pilot project bersama para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan saat ini telah mampu memproduksi 150 ton per tahun. Kedepannya, kami berencana meningkatkan produksi secara komersial hingga mencapai 10.000 ton per tahun,” tutupnya.
Komentar
Kirim Komentar