
Kasus Pemerasan dengan Rekaman Kamera Dasbor
Seorang pemilik perusahaan rental mobil yang terbukti memeras pasangan idol KPop dengan rekaman keintiman fisik mereka telah dijatuhi hukuman penjara. Kejadian ini menarik perhatian publik karena melibatkan individu yang menggunakan teknologi untuk mengancam dan mengeksploitasi seseorang.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Hukuman yang Dijatuhkan
Pada Sabtu 18 Oktober 2025, sumber dari industri hukum melaporkan bahwa Hakim Gong Woo Jin menjatuhkan hukuman kepada pemilik perusahaan rental mobil (selanjutnya disebut "A"). A terbukti bersalah atas tindakan pemerasan dan diberi hukuman delapan bulan penjara, dua tahun masa percobaan, serta 120 jam pelayanan masyarakat.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini berawal pada bulan Februari tahun lalu ketika A menyewakan sebuah van kepada seorang idol wanita melalui perusahaan rental mobil mereka. Setelah van dikembalikan, A menemukan rekaman kamera dasbor yang menunjukkan idol wanita tersebut sedang melakukan dugaan keintiman fisik dengan seorang idol pria di dalam van.
Dengan menggunakan rekaman tersebut, A mulai memeras uang dari idol wanita tersebut. Ia mengirim pesan teks yang bertanya, "Apa yang kamu lakukan di kursi belakang mobil kemarin? Apa kamu tidak keterlaluan?" Selain itu, A juga menyebut nama grup idol pria tersebut dan mengancam, "Kalau kamu tidak mau mengakuinya bahkan setelah aku mengatakan ini, aku tidak punya pilihan lain."
Tuntutan Uang dan Ancaman
"A" kemudian menuntut uang dengan mengatakan, "Saya menghabiskan 47 juta won untuk membeli mobil itu. Pertama, berikan saya setengahnya." Meskipun idol wanita itu membayarkan uang tersebut dua kali, A terus memerasnya dengan mengungkit rekaman kamera dasbor beberapa hari kemudian dan mengancam akan merilisnya jika ia tidak membayar lebih.
Korban yang ketakutan akhirnya membayar "A" dengan total 9,793 juta won dalam tiga kali cicilan.
Penilaian Hakim
Meskipun hakim menegur "A" karena melakukan kejahatan ini saat masih dalam masa percobaan, ia juga menyatakan bahwa saat membuat keputusan hukumannya, ia telah mempertimbangkan fakta bahwa "A" telah mengakui kejahatannya, menyatakan penyesalan, dan mengembalikan sebagian besar uang hasil pemerasan kepada korban.
Faktor yang Dipertimbangkan
Hakim menekankan pentingnya pengakuan dan penyesalan sebagai bagian dari proses pemulihan. Meskipun tindakan A sangat serius, keputusan hukuman mencerminkan pertimbangan terhadap sikap A yang secara aktif berusaha memperbaiki diri.
Kesimpulan
Kasus ini menunjukkan betapa rentannya privasi seseorang dalam era digital. Penggunaan teknologi seperti kamera dasbor untuk tujuan negatif menjadi peringatan bagi semua pihak. Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya tanggung jawab dan etika dalam penggunaan teknologi.
Komentar
Kirim Komentar