
Tren Kendaraan Elektrifikasi di Indonesia Mengalami Perubahan Signifikan
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus berkembang, dan kini tren ini mulai mengarah pada penggunaan mobil dengan teknologi PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle). Hal ini ditandai oleh peningkatan jumlah pabrikan asal Tiongkok yang meluncurkan berbagai model PHEV, seperti Chery (Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH), Jaecoo (J7 SHS dan J8 SHS), Geely (Starray EM-i), serta Wuling (Darion PHEV).

PHEV sebagai Solusi Alternatif untuk BEV
Teknologi PHEV ini dianggap sebagai solusi yang dapat membantu mengatasi keterbatasan mobil listrik murni (BEV). Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pasar BEV diperkirakan akan mengalami saturasi atau titik jenuh. Anton Kemal Tasli, Ketua Harian Gaikindo, menyatakan bahwa keterbatasan BEV akan mendorong konsumen mencari alternatif lain.
“Dengan segala keterbatasan BEV, pasti orang mulai beralih, dan itu pasti akan saturated ya,” ujar Anton saat ditemui aiotrade di kantor Gaikindo belum lama ini.

Kondisi Pasar China sebagai Contoh
Anton menambahkan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah terjadi di pasar China, yang lebih matang dalam hal adopsi kendaraan listrik. Ia mengungkapkan bahwa saat berkunjung ke China tahun lalu, ia bertemu dengan CAAM (China Association of Automobile Manufacturers) dan mereka juga menyebutkan bahwa BEV memiliki batasan.
“Terus perkembangan teknologi mereka itu ke plug-in hybrid, dan teknologi-teknologi lain,” lanjutnya.
Menurut Anton, beberapa keterbatasan BEV antara lain infrastruktur, durasi pengisian daya baterai, dan jarak tempuh. Hal-hal tersebut menjadi faktor utama yang membuat pasar BEV di China sudah memasuki titik jenuh.
“Jadi perkembangan ke plug-in hybrid karena jarak bisa jauh, kadang-kadang masih bisa isi bensin kalau diperlukan,” imbuhnya.

Tren Serupa di Eropa
Hal senada juga diungkapkan oleh Stefanus Sutomo, Staf Khusus Gaikindo, yang melihat tren serupa juga sudah terjadi di pasar Eropa. “Itu kelihatan di pergerakan penjualannya di Eropa. Di Eropa BEV-nya udah mulai turun sementara hybrid-nya naik,” ujar Stefanus.
Meskipun tidak menyebutkan secara gamblang, Stefanus mengindikasikan bahwa fenomena di pasar global ini bisa menjadi cerminan untuk market Indonesia. “Mungkin lebih tepat yang kata-kata pak Anton tadi, ada saturasinya. Jadi BEV ini, yang kami juga nggak tahu saturasinya ada di angka berapa, 10 persen, atau 15 persen, atau berapa tapi suatu ketika akan ada saturasinya,” katanya.

Prospek Pasar di Indonesia
Sekertaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menekankan bahwa masih terlalu dini untuk memproyeksikan kapan titik jenuh tersebut akan terjadi di Indonesia. “Data kita terlalu sedikit untuk bisa memproyeksikan itu. Masih terlalu awal,” kata Kukuh.
Ia justru melihat bahwa kehadiran mobil listrik saat ini lebih kepada menciptakan ceruk pasar yang baru, bukan mengambil alih pasar yang sudah ada. “Sebenarnya kalau ngomong sama beberapa merek yang menjual EV sekarang, itu ceruk baru, bukannya ngambil pasar yang sudah ada,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa pasar hybrid konvensional saat ini masih menunjukkan kestabilan yang cukup kuat. Bahkan, Kukuh memprediksi dalam tiga atau lima tahun ke depan mobil hybrid masih akan mendominasi di pasar Indonesia ketimbang EV. “3-5 tahun ke depan masih di hybrid. Cukup stabil ya,” tutupnya.
Komentar
Kirim Komentar