
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Perubahan Budaya Belanja di Indonesia
Budaya belanja masyarakat Indonesia sedang mengalami pergeseran besar. Dulu, transaksi dilakukan di pasar atau e-commerce konvensional, tetapi kini ruang belanja beralih ke layar ponsel melalui platform social commerce seperti TikTok Shop. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini tidak hanya mengubah pola konsumsi masyarakat, tetapi juga mengguncang struktur industri perdagangan digital di Tanah Air.
Menurut data Kalodata, salah satu platform analisis data sosial terkemuka, Indonesia kini menjadi pasar terbesar TikTok Shop di dunia, sehingga membuat platform asal Tiongkok itu menjadi pemain dominan dalam social commerce global. Pergeseran budaya belanja ini tidak lepas dari cara TikTok memadukan hiburan, interaksi, dan transaksi. Pengguna disebut tidak lagi mencari barang berdasarkan kebutuhan, melainkan "terpancing" oleh rekomendasi algoritma, ulasan kreator, atau sesi live shopping.
Fenomena ini menciptakan jenis konsumsi baru, impulsif, cepat, dan sangat dipengaruhi narasi konten. Lawrence Guo, Co-founder dan COO Kalodata, saat membuka Kalodata Indonesia Social Commerce Conference (KISCC) 2025 di Smesco Jakarta akhir pekan lalu, menyatakan bahwa TikTok Shop menciptakan pola belanja yang benar-benar berbeda. Konsumen kini menemukan produk melalui hiburan, bukan lewat pencarian seperti di e-commerce biasa.
Menurut Guo, perubahan perilaku digital ini membawa dua sisi: membuka peluang besar bagi kreator dan pelaku UMKM, namun juga menciptakan ketergantungan baru pada algoritma dan platform asing. Kalodata juga menyoroti bagaimana strategi berbasis data dan analisis algoritma menjadi kunci bagi penjual di TikTok Shop.
Melalui layanannya, Kalodata membantu pelaku bisnis mengidentifikasi tren produk, memantau pesaing, serta mencari kreator dengan potensi penjualan tertinggi. "Kami ingin membantu para penjual tidak sekadar ikut tren TikTok, tapi benar-benar memahami pola data agar bisnis mereka berkelanjutan," ujar Guo.
Dominasi TikTok Shop juga menimbulkan efek domino terhadap pola bisnis dan tenaga kerja. Banyak penjual kecil kini bergeser dari marketplace konvensional ke social commerce karena jangkauannya yang lebih luas dan interaksi real-time. Namun di sisi lain, model ini menekan margin keuntungan dan menciptakan kompetisi ekstrem antarpenjual.
Kalodata menilai, tanpa literasi digital dan dukungan kebijakan yang kuat, pelaku lokal akan sulit bertahan di tengah ekosistem yang ditentukan data dan algoritma. "Social commerce bisa menjadi pendorong pertumbuhan, tapi juga bisa memperdalam ketimpangan digital bila tidak diimbangi pemahaman data," tegas Guo.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Perubahan ini memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat dan ekonomi. Ketersediaan produk yang lebih mudah diakses melalui platform social commerce memberikan akses yang lebih luas bagi konsumen. Namun, hal ini juga memicu persaingan yang ketat antara pelaku usaha, terutama UMKM.
Penggunaan algoritma dalam menampilkan produk dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap merek dan produk. Hal ini memunculkan tantangan bagi pelaku bisnis untuk memahami mekanisme algoritma dan bagaimana memanfaatkannya secara efektif.
Selain itu, pergeseran ini juga berdampak pada tenaga kerja. Banyak pekerja yang sebelumnya bekerja di pasar tradisional atau e-commerce konvensional kini harus menyesuaikan diri dengan model bisnis baru yang berbasis digital. Ini membutuhkan keterampilan tambahan, seperti kemampuan menggunakan media sosial dan memahami analisis data.
Peluang dan Tantangan
Meskipun ada tantangan, pergeseran ini juga membuka peluang besar. Pelaku UMKM dan kreator memiliki kesempatan untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan penjualan melalui platform seperti TikTok Shop. Namun, untuk memaksimalkan peluang ini, mereka perlu meningkatkan literasi digital dan memahami mekanisme algoritma.
Dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait juga diperlukan untuk memastikan bahwa pelaku lokal dapat bersaing secara adil. Ini termasuk program pelatihan, akses ke teknologi, dan kebijakan yang mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah.
Kesimpulan
Perubahan budaya belanja di Indonesia menunjukkan transformasi yang signifikan dalam cara masyarakat berbelanja. Platform seperti TikTok Shop telah menjadi bagian penting dari ekosistem digital, mengubah cara konsumen menemukan dan membeli produk. Meskipun ada tantangan, pergeseran ini juga membuka peluang baru bagi pelaku bisnis, khususnya UMKM dan kreator. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang memadai, pelaku lokal dapat memanfaatkan peluang ini untuk berkembang dan bertahan di era digital.
Komentar
Kirim Komentar