Perayaan Natal yang Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Hilang Setelah Pengusiran Massal Belanda

Perayaan Natal yang Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Hilang Setelah Pengusiran Massal Belanda

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Perayaan Natal yang Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Hilang Setelah Pengusiran Massal Belanda, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.
Perayaan Natal yang Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Hilang Setelah Pengusiran Massal Belanda

Sejarah Hari Sinterklas di Indonesia

Hari Sinterklas adalah perayaan yang tidak kalah meriah dibandingkan Natal, meskipun sekarang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Perayaan ini dirayakan setiap 5 Desember dan merupakan warisan budaya dari Belanda. Selama ratusan tahun, masyarakat Belanda merayakan pesta ini sebagai malam penuh hadiah dan kegembiraan anak-anak. Dalam cerita mereka, Sinterklas digambarkan datang bersama pembantunya, Zwarte Piet (Piet Hitam), berlayar menggunakan kapal uap menuju Belanda, lalu masuk ke rumah-rumah melalui cerobong asap untuk membagikan hadiah.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Tradisi ini juga ikut dibawa ke Indonesia saat Belanda menjajah Nusantara. Orang-orang Belanda, Indo-Belanda, serta sebagian umat Kristiani di Hindia Belanda menjalankan tradisi tersebut. Namun, karena kondisi rumah di Indonesia berbeda dan tidak memiliki cerobong asap, tradisi Sinterklas mengalami penyesuaian. Anak-anak menaruh sepatu berisi rumput di bawah jendela rumah sebagai tanda agar Sinterklas meletakkan hadiah di sana pada malam hari.

Setiap tanggal 5 Desember, perayaan Hari Sinterklas berlangsung meriah. Warga Belanda dan Indo-Belanda menggelarnya dengan pesta keluarga, nyanyian, hingga arak-arakan. Tradisi ini tidak hilang setelah Indonesia merdeka pada 1945. Faktanya, perayaan Hari Sinterklas masih bertahan hingga dekade 1950-an, menjadi bagian dari rutinitas tahunan kelompok masyarakat tertentu di Indonesia.

Kenangan Anak-Anak dan Kesaksian Sejarah

Dalam biografi Achmad Yani Tumbal Revolusi (1988), Amelia Yani, putri Jenderal Achmad Yani, mengenang Hari Sinterklas sebagai momen yang paling dinantikan anak-anak pada masa itu. “Kami percaya Sinterklas akan datang tengah malam dan mengirim banyak hadiah,” tulis Amelia. Kesaksian ini menunjukkan bahwa Hari Sinterklas bukan sekadar tradisi orang dewasa, melainkan benar-benar hidup dalam imajinasi dan kebahagiaan anak-anak di Indonesia kala itu.

Namun, kegembiraan tersebut berakhir secara tiba-tiba pada tahun 1957. Pada masa itu, hubungan Indonesia dan Belanda mulai memburuk akibat kegagalan diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait status Irian Barat, yang saat itu belum menjadi bagian dari Indonesia. Kegagalan tersebut memicu kemarahan Presiden Soekarno dan melahirkan sentimen anti-Belanda di dalam negeri. Dua hari setelah keputusan PBB yang tidak menguntungkan Indonesia, Kabinet Djuanda mulai membahas langkah-langkah balasan terhadap Belanda.

Irian Barat, PBB, dan Sentimen Anti-Belanda

Pemerintah kemudian: * Mencabut hak pendaratan pesawat maskapai Belanda
Melarang peredaran surat kabar dan film Belanda
Membiarkan serikat buruh mengambil alih perusahaan-perusahaan milik Belanda pada 3 Desember 1957

Puncak ketegangan terjadi pada 5 Desember 1957, yang secara simbolik bertepatan dengan Hari Sinterklas. Pada hari itu, Presiden Soekarno, melalui Departemen Kehakiman, mengusir sekitar 46.000 warga Belanda yang masih tinggal di Indonesia. Tanggal yang biasanya diisi dengan pertukaran hadiah dan nyanyian berubah menjadi hari kepanikan dan duka. Peristiwa ini kemudian dikenang dengan sebutan Sinterklas Hitam.

Di tengah tekanan dan situasi yang memburuk, banyak warga Belanda mencairkan tabungan mereka, membeli tiket pesawat, atau berebut tempat di kapal laut untuk segera meninggalkan Indonesia.

Punahnya Sebuah Tradisi

Seiring hengkangnya warga Belanda dari Indonesia, perayaan Hari Sinterklas setiap 5 Desember—yang identik dengan kemunculan Sinterklas dan Zwarte Piet—perlahan menghilang dari kehidupan sosial masyarakat. Tanpa komunitas pendukungnya, tradisi itu akhirnya benar-benar punah dan tidak pernah kembali hingga hari ini.

Hari Sinterklas di Indonesia pun tinggal catatan sejarah: sebuah tradisi yang pernah hidup, dirayakan, lalu hilang karena pergolakan politik dan sejarah nasional.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Perayaan Natal yang Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Hilang Setelah Pengusiran Massal Belanda. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar