Pasar Obligasi Ritel 2026 Tumbuh Kuat, Intip Proyeksi Kuponya!

Pasar Obligasi Ritel 2026 Tumbuh Kuat, Intip Proyeksi Kuponya!

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Pasar Obligasi Ritel 2026 Tumbuh Kuat, Intip Proyeksi Kuponya! menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade, JAKARTA — Permintaan pasar terhadap surat berharga negara (SBN) ritel pada tahun 2026 diperkirakan akan tetap kuat. Hal ini didorong oleh pertumbuhan jumlah investor di pasar modal dan tren penurunan suku bunga acuan yang terus berlanjut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, realisasi penerbitan SBN ritel sepanjang 2025 mencapai angka Rp153 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp148 triliun. DJPPR telah menerbitkan tujuh seri SBN ritel selama tahun tersebut, dengan mayoritas dari penerbitan tersebut berhasil diserap sepenuhnya oleh pasar. Beberapa di antaranya bahkan mengalami kelebihan permintaan.

Namun, tidak semua seri SBN ritel berhasil mencapai target penjualan. Dari tujuh seri yang diterbitkan, hanya dua yang tidak ludes di pasaran. Pertama adalah SBR014 yang diterbitkan pada periode 14 Juli hingga 7 Agustus 2025. Produk ini menargetkan dana terhimpun sebesar Rp15 triliun, namun hanya mampu menjual senilai Rp14,91 triliun atau 99,4% dari target.

Kemudian, SR023 yang diterbitkan setelahnya pada periode 22 Agustus hingga 15 September 2025 juga tidak mencapai target. Target dana terhimpun sebesar Rp20 triliun hanya tercapai sebesar Rp18,73 triliun atau 93,65% dari target awal.

Namun, kondisi berbalik pada dua penerbitan terakhir. Obligasi Ritel Indonesia seri ORI028 yang diterbitkan pada periode 29 September hingga 23 Oktober 2025 berhasil mencatatkan penjualan hingga Rp15,5 triliun, melebihi target pemerintah sebesar Rp15 triliun. Persentase penjualan mencapai 103,33%.

Selain itu, ST015 juga berhasil melampaui target penjualan. Penawaran ST015 bahkan mengalami beberapa kali penambahan kuota. Awalnya target dana terhimpun adalah Rp10 triliun, kemudian ditingkatkan menjadi Rp12 triliun, dan akhirnya naik lagi menjadi Rp15 triliun.

Dengan demikian, dari tujuh penerbitan SBN ritel sepanjang 2025, sebanyak 71,42% hasil penerbitan masih mencatatkan penjualan yang positif. Hanya dua dari tujuh seri yang tidak mencapai target penjualan pemerintah.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian, memperkirakan bahwa permintaan pasar untuk SBN ritel pada 2026 masih akan kuat. Hal ini didorong oleh pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang terus meningkat.

“Selain itu, tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih berlangsung pada 2026 bisa menjadi daya tarik bagi para investor,” ujar Fajar kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026).

Dia memperkirakan arah kebijakan suku bunga BI pada 2026 akan turun sebanyak satu hingga dua kali. Efek dari penurunan ini adalah penurunan yield obligasi meskipun terbatas. Untuk imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun, diperkirakan akan turun hingga level 5,8% hingga 5,9%.

Mengacu pada tahun lalu, kupon yang ditawarkan SBN ritel berkisar antara 5,65% hingga 6,75% dengan rata-rata suku bunga BI sebesar 5,25%. Untuk 2026, BI rate diperkirakan akan turun meskipun terbatas, yaitu di level rata-rata 4,50%. Maka, kupon SBN ritel yang akan ditawarkan pada 2026 kemungkinan berkisar antara 5,25% hingga 5,65%.

Fajar menyarankan investor untuk menerapkan strategi active duration management dengan memanfaatkan momentum positif maupun negatif di pasar SBN untuk sinyal entry dan exit dengan melakukan trading.

Sementara itu, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menilai permintaan pasar atas penerbitan SBN ritel pada 2026 masih ada, tetapi lebih moderat.

“Untuk BI rate, arah kebijakan 2026 masih berpotensi turun terbatas atau lebih sempit dari 2025, karena fokus keseimbangan growth-stabilitas. Meski begitu, pasar obligasi tetap didukung oleh likuiditas domestik yang cukup besar,” kata Putri pada Jumat (2/1/2026).

Menurutnya, proyeksi kupon SBN ritel pada 2026 kemungkinan akan mengikuti tren suku bunga. Jika BI rate masih memiliki ruang penurunan, kupon cenderung lebih rendah atau minimal tidak lebih tinggi dibanding rata-rata penerbitan 2025.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Pasar Obligasi Ritel 2026 Tumbuh Kuat, Intip Proyeksi Kuponya! ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar