Messi ke India Mengingatkan Dunia Olahraga: Brand adalah Raja

Messi ke India Mengingatkan Dunia Olahraga: Brand adalah Raja

Dunia olahraga tengah memanas hari ini. Terkait Messi ke India Mengingatkan Dunia Olahraga: Brand adalah Raja, para suporter tentu sudah menunggu kepastian beritanya. Simak informasi terbarunya.
Messi ke India Mengingatkan Dunia Olahraga: Brand adalah Raja

Perubahan Dunia Olahraga dan Munculnya Tur Promosi Atlet

Pada tahun 2025, dunia olahraga mengalami perubahan besar yang terlihat dari tur promosi yang dilakukan oleh berbagai bintang olahraga. Salah satu contohnya adalah tur Lionel Messi ke India yang diberi nama "The GOAT Tour". Tur ini menjadi bukti nyata bahwa dunia olahraga sedang berubah. Meskipun tur ini tidak berjalan sepenuhnya sesuai rencana, dengan para penggemar menyerbu lapangan di Kolkata, jumlah penonton yang hadir membuktikan bahwa minat terhadap Messi sangat tinggi.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Sebelumnya, dua bintang NBA, LeBron James dan Steph Curry, juga menjalani tur solo ke Cina. Tur LeBron bahkan digelar bersama sponsor utamanya, Nike, dan diberi nama "The Forever King Tour." Ini menunjukkan bahwa tur promosi atlet kini semakin umum dan memiliki dampak besar dalam dunia olahraga.

Branding dalam Dunia Olahraga

Dalam dunia olahraga, branding bukanlah hal baru. Merek dagang seperti Fred Perry sudah ada sejak 1950-an, sementara Air Jordan muncul bersama Michael Jordan pada tahun 1984. Namun, di era modern, fenomena ini jauh lebih masif. Banyak atlet kini mulai membangun brand pribadi sejak awal karier mereka.

Selain ingin menginspirasi dan memberi dampak bagi generasi berikutnya, maraknya tur solo ini juga menunjukkan betapa besarnya nilai bisnis branding dalam olahraga saat ini. Nataliya Bredikhina, asisten profesor Manajemen Olahraga di University of Delaware, menyebutkan bahwa makna branding atlet berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.

Tur Virtual dan Dunia Digital

Seorang atlet kini bukan hanya kompetitor atau pekerja di lapangan. Sejak hadirnya media sosial dan teknologi, batasan tentang siapa dan apa itu atlet benar-benar meluas. Bredikhina menambahkan bahwa tur, pertunjukan, dan promosi atlet kini semakin sering dilakukan.

Messi dan timnya bahkan sudah melangkah lebih jauh. Mereka menciptakan “Messi Exhibit”, sebuah pameran multimedia interaktif yang memungkinkan fans menelusuri perjalanan karier sang legenda meski Messi tidak hadir secara langsung. Pameran ini tengah mengadakan tur dunia dan sudah singgah di Los Angeles, Dubai, dan Sao Paulo.

Bredikhina melihat konsep ini sebagai gambaran masa depan—berdasarkan teori The King's Two Bodies. Dulu teori ini lebih banyak digunakan untuk politisi, tapi sekarang sangat relevan untuk selebritas dan atlet. Ada sosok manusia nyata, dan ada pula brand yang tumbuh melampaui dirinya.

Masa Depan Branding Olahraga

Salah satu hal paling menarik dari berkembangnya branding atlet adalah dampaknya pada keterlibatan fans. Secara logis, orang memang lebih mudah terhubung dengan individu dibanding organisasi. Tapi di sisi lain, manusia juga ingin menjadi bagian dari kelompok. Lalu kenapa fokus pada individu terasa jauh lebih kuat sekarang?

Menurut Bredikhina, jawabannya ada pada kombinasi konsumsi media sosial—rata-rata dua jam per hari secara global—dan kebiasaan audiens muda yang lebih memilih cuplikan highlight ketimbang menonton pertandingan penuh. Itu juga menjelaskan kenapa Cristiano Ronaldo punya lebih dari 660 juta pengikut di Instagram, sementara mantan klubnya, Real Madrid, masih kalah jumlah jika digabungkan di seluruh platform media sosial.

Tren di Semua Level

Perubahan ini tak hanya terlihat dari cara orang mengonsumsi olahraga, tapi juga dari pesatnya pasar tokoh berpengaruh di media sosial atau influencer. Atlet kampus pun kini mulai memikirkan personal branding sejak sangat dini.

"Kalau tujuannya memberi dampak ke komunitas, atlet di level apa pun bisa melakukannya,” ujar Bredikhina. "Mungkin mereka hanya punya beberapa ribu pengikut di akun media sosial atau follower—jauh dari megaselebritas—tapi mereka tetap bisa membangun brand dan menghasilkan uang lewat sponsor kecil.”

Hal ini terlihat jelas dari dampak NIL (Name, Image, Likeness) di olahraga kampus, di mana jumlah pengikut atau follower di akun media sosial kini memengaruhi proses rekrutmen. Bisnis memang tak terelakkan, dan tekanan emosional mengelola akun sendiri tidak mudah. Namun, ada landasan psikologis yang kuat di baliknya.

Akhir Kata

Tur Messi, LeBron James, dan Steph Curry menegaskan satu hal: Dunia olahraga sedang berubah. Bersiaplah menyambut realitas virtual, bantuan kecerdasan buatan atau AI, dan pengalaman fans yang semakin personal. Merek dagang atlet belum pernah sekuat ini sebelumnya. Seperti kata Bredikhina: "Sekarang atlet bukan sekadar pemasar atau endorser—mereka adalah mitra sejati bagi merek dagang dan membawa nilai besar ke meja kerja sama.”

Kesimpulan: Dukung terus atlet/tim kebanggaan Anda. Simak terus update pertandingan selanjutnya hanya di portal kami.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar