
Peringatan Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia
Peringatan Hari Santri 2025 yang mengusung semangat “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” menjadi momentum reflektif untuk meninjau ulang arah pembangunan manusia dan bangsa. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi nilai, pesantren dan santri memiliki posisi strategis sebagai penjaga keseimbangan antara iman, ilmu, dan teknologi. Ketiganya bukanlah entitas yang terpisah, tetapi pilar yang saling melengkapi dalam membangun peradaban manusia yang utuh dan berkeadaban.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan sejati bukan hanya lepas dari penjajahan fisik, melainkan juga pembebasan jiwa dari kebodohan dan hawa nafsu. Hal ini sejalan dengan konsep al-hurriyah al-haqiqiyyah kebebasan yang bertanggung jawab dalam bingkai nilai ketuhanan. Maka, “merdeka dengan iman” berarti menegakkan kemerdekaan moral dan spiritual sebagai dasar kemajuan ilmu dan penguasaan teknologi yang beradab.
Semangat Hari Santri 2025 juga menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari pembangunan manusia seutuhnya. Indonesia yang hendak berperan dalam peradaban dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan bermartabat secara moral. Dalam kerangka pemikiran Al-Faruqi, kemajuan yang berakar pada tauhid akan melahirkan manusia yang tidak tercerabut dari nilai ilahi di tengah kemodernan. Oleh karena itu, pesantren dengan tradisi tafaqquh fi al-din-nya memiliki modal peradaban yang kuat untuk melahirkan manusia yang berilmu dan beriman sekaligus mampu mengelola teknologi dengan penuh tanggung jawab etis.
Sinergi antara iman, ilmu, dan teknologi inilah yang menjadi fondasi “kemerdekaan hakiki” kemerdekaan yang melahirkan kemajuan tanpa kehilangan arah nilai.
Integrasi Iman dan Ilmu: Fondasi Kemajuan Berkelanjutan
Kemajuan tanpa iman hanya akan melahirkan peradaban yang gersang nilai. Sebaliknya, iman tanpa ilmu akan menjadikan umat terjebak pada dogmatisme yang stagnan. Dalam pandangan Al-Faruqi, integrasi antara iman dan ilmu merupakan inti dari Islamisasi pengetahuan (Islamization of Knowledge), yaitu upaya menautkan wahyu dan akal dalam seluruh aktivitas manusia. Santri sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam klasik (turats) telah mempraktikkan integrasi ini sejak lama melalui tradisi tafaqquh fi al-din yang tidak hanya mempelajari teks, tetapi juga menumbuhkan kesadaran etis dan sosial.
Integrasi antara iman dan ilmu menjadi semakin mendesak ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat tanpa diimbangi dengan landasan moral yang kokoh. Menurut Al-Attas, krisis utama dunia kontemporer bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan kekeliruan dalam menempatkan dan memahami makna ilmu itu sendiri. Ketika ilmu dipisahkan dari nilai ketuhanan, maka ia kehilangan orientasi dan berubah menjadi alat dominasi serta eksploitasi.
Pesantren dengan basis keilmuan integratifnya berperan penting dalam mengembalikan makna sakral ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar alat mencapai kemanfaatan duniawi. Melalui pendidikan berbasis adab, pesantren menanamkan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah yang harus diiringi tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual demi terciptanya peradaban yang berkeadilan dan berkeadaban.
Pada konteks pendidikan pesantren modern, integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui model pembelajaran holistik menggabungkan dimensi spiritual, intelektual, dan moral. Menurut Tilaar, pendidikan yang bermakna harus berakar pada nilai budaya dan kemanusiaan, bukan sekadar transfer pengetahuan teknis. Pesantren telah lama menanamkan hal ini: ilmu harus disertai adab, dan pengetahuan harus diarahkan untuk kemaslahatan. Maka, santri tidak hanya diajarkan “apa yang benar,” tetapi juga “mengapa dan bagaimana kebenaran itu diamalkan dengan bijak.”
Lebih jauh, model integratif yang diterapkan pesantren tersebut dapat dipahami sebagai manifestasi dari konsep insan kamil — manusia paripurna yang seimbang antara aspek spiritual, intelektual, dan moral. Konsep ini mengandung gagasan bahwa kemajuan sejati manusia tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga dari kematangan hati dan kebijaksanaan dalam bertindak. Dalam pandangan Al-Ghazali, ilmu tanpa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) akan kehilangan cahaya kebenarannya, sebab pengetahuan sejati tidak hanya terletak pada akal, tetapi juga pada kebeningan hati yang mampu menangkap nilai-nilai ilahiah.
Oleh karena itu, pendidikan pesantren berperan penting dalam menjaga agar kemajuan ilmu dan teknologi selalu disertai dengan dimensi etis dan spiritual yang menuntun arah kemanusiaan. Selain itu, integrasi iman dan ilmu dalam konteks globalisasi juga merupakan bentuk perlawanan terhadap sekularisasi pengetahuan yang cenderung memisahkan sains dari moralitas. Dunia modern sering kali menjadikan ilmu sebagai instrumen kekuasaan yang melahirkan kesenjangan sosial, degradasi lingkungan, dan krisis kemanusiaan.
Pesantren dengan pendekatan nilai-nilainya menawarkan paradigma alternatif, yakni knowledge with responsibility ilmu yang berfungsi memuliakan kehidupan, bukan menaklukkannya. Ketika santri menguasai teknologi dengan dasar iman, mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengarah arah perkembangan ilmu yang lebih manusiawi dan bermartabat. Inilah kontribusi besar pesantren dalam membangun peradaban dunia yang berakar pada nilai spiritual, tetapi tetap terbuka terhadap kemajuan intelektual dan inovasi teknologi.
Teknologi yang Beradab: Tantangan dan Jalan Tengah Santri
Revolusi industri 5.0 membawa perubahan besar pada orientasi manusia terhadap teknologi. Di satu sisi, teknologi mempercepat konektivitas dan efisiensi; di sisi lain, ia juga menghadirkan ancaman terhadap nilai kemanusiaan, seperti disinformasi, dehumanisasi, dan alienasi spiritual. Dalam hal ini, santri memiliki peran penting sebagai penyeimbang menjadikan teknologi bukan sekadar alat produksi, melainkan instrumen dakwah dan pemberdayaan berbasis nilai. Manusia dan mesin tidak lagi berkompetisi, tetapi berkolaborasi untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Era ini menuntut manusia memiliki human-centered innovation, di mana teknologi dikembangkan untuk meningkatkan martabat, bukan menggantikan peran manusia. Di sinilah relevansi nilai-nilai pesantren menjadi nyata. Santri yang dididik dengan prinsip ikhlas, tawadhu’, dan beradab memiliki landasan moral yang kuat untuk memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana ibadah dan kemaslahatan, bukan sekadar untuk keuntungan ekonomi. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam arus kemajuan yang serba cepat.
Konsep value-oriented innovation sebagaimana dikemukakan oleh Fullan menegaskan bahwa inovasi yang berhasil adalah inovasi yang berpihak pada nilai, bukan sekadar efisiensi. Pesantren yang mulai mengembangkan digital creative center, pesantren IT, dan program techno-santri merupakan bukti bahwa lembaga keagamaan ini adaptif terhadap perubahan zaman. Santri yang mampu membuat aplikasi dakwah, konten edukatif, atau platform pembelajaran Al-Qur’an digital sedang menjalankan bentuk jihad intelektual kontemporer mempertemukan iman dan teknologi dalam satu kesadaran etik.
Dengan demikian, “beradab dengan teknologi” berarti menempatkan inovasi dalam kerangka moral dan spiritual Islam. Sebagaimana ditegaskan oleh Seyyed Hossein Nasr, krisis peradaban modern bukan terletak pada kemajuan teknologinya, melainkan pada hilangnya kesadaran akan sacred knowledge pengetahuan yang berakar pada nilai ketuhanan. Santri dengan latar spiritualitasnya yang kuat, menjadi harapan baru untuk menanamkan kesadaran etik dan ekologi moral dalam dunia digital yang kini kehilangan arah nilai.
Pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan ethical technology atau teknologi beretika. Melalui pendidikan berbasis karakter, pesantren dapat membentuk generasi yang sadar digital sekaligus sadar spiritual. Misalnya, penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam konteks pendidikan Islam dapat diarahkan untuk memperluas akses belajar, melatih kemampuan berpikir kritis, dan menanamkan nilai moral dalam interaksi daring. Santri yang memahami prinsip maqashid al-syari’ah mampu menilai dan memanfaatkan teknologi dengan mempertimbangkan aspek kemaslahatan (maslahah), keadilan (‘adl), dan tanggung jawab sosial (amanah).
Dengan pendekatan ini, dunia digital tidak menjadi ancaman, melainkan ruang baru untuk menebar kebaikan dan membangun peradaban ilmu yang beradab. Di sisi lain, tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana menjaga agar semangat inovasi tidak mengikis spiritualitas. Di tengah arus kompetisi dan komersialisasi teknologi, santri harus menjadi pelopor digital ethics menanamkan nilai kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab dalam setiap bentuk aktivitas daring. Sebagaimana dikemukakan oleh Bauman, masyarakat modern cenderung terjebak dalam “likuiditas moral”, di mana batas benar dan salah menjadi kabur. Melalui dakwah digital yang santun dan kreatif, santri dapat menghadirkan wajah Islam yang teduh di tengah polarisasi sosial dan kebisingan media. Inilah hakikat beradab dengan teknologi menjadikan inovasi sebagai bagian dari ibadah, dan menjadikan dunia digital sebagai ruang dakwah untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal.
Menuju Pembangunan Manusia Berbasis Nilai Santri
Pembangunan manusia dan bangsa Indonesia ke depan membutuhkan model yang tidak hanya mengejar economic growth, tetapi juga ethical growth. Konsep pembangunan berbasis nilai santri dapat dirumuskan melalui tiga poros utama: iman sebagai fondasi moral, ilmu sebagai kekuatan intelektual, dan teknologi sebagai instrumen kemaslahatan. Ketiganya sejalan dengan prinsip maqashid al-syari’ah (tujuan syariat), yakni menjaga agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.
Pembangunan berbasis nilai santri pada dasarnya menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pertumbuhan ekonomi. Perspektif ini selaras dengan konsep human-centered development yang menekankan keseimbangan antara dimensi material dan spiritual. Santri dengan tradisi keilmuan dan spiritualitasnya memiliki kapasitas untuk memaknai pembangunan sebagai proses memanusiakan manusia (insaniyyah), bukan sekadar mengejar indikator ekonomi seperti PDB atau produktivitas industri.
Dengan menjadikan iman sebagai fondasi moral, pembangunan diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Hal ini membedakan pembangunan berbasis nilai santri dari paradigma pembangunan sekuler yang kerap mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi efisiensi dan pertumbuhan angka semata. Ketika ilmu dan teknologi ditempatkan dalam bingkai maqashid al-syari’ah, pembangunan tidak hanya menjadi upaya peningkatan kesejahteraan, tetapi juga bentuk ibadah sosial.
Ilmu berperan sebagai sarana pencerahan dan pemberdayaan umat, sementara teknologi menjadi alat untuk memperluas akses keadilan, pendidikan, dan kesejahteraan. Dalam konteks ini, pesantren dapat menjadi pusat inovasi berbasis nilai (value-based innovation hub), tempat lahirnya ide-ide kreatif yang berpijak pada etika Islam dan semangat keberlanjutan. Dengan demikian, pembangunan manusia Indonesia menuju peradaban dunia harus berlandaskan pada tiga kesadaran utama: spiritualitas yang menuntun arah, ilmu yang menerangi jalan, dan teknologi yang membawa manfaat.
Sinergi inilah yang akan melahirkan generasi ulul albab insan yang berilmu luas, berhati bening, dan berperan aktif membangun dunia yang adil dan beradab. Model pembangunan seperti ini akan melahirkan generasi ulul albab manusia yang berpikir kritis, berjiwa spiritual, dan bertindak etis. Dalam konteks kenegaraan, inilah wujud ideal “Indonesia Berperadaban Dunia”: bangsa yang menjadikan pesantren sebagai pusat peradaban ilmu dan teknologi yang bermoral. Santri tidak lagi berada di pinggiran sejarah, melainkan menjadi motor peradaban baru yang menyeimbangkan akal digital dan hati spiritual.
Generasi ulul albab yang lahir dari rahim pesantren bukan hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kedalaman spiritual dan kepekaan sosial. Mereka memahami bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau teknologi, melainkan oleh karakter dan akhlak masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholish Madjid, peradaban sejati dibangun di atas fondasi moralitas publik yang kuat ketika ilmu, iman, dan amal menjadi satu kesatuan dalam tindakan nyata.
Oleh sebab itu, santri modern harus tampil sebagai agen transformasi sosial yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan tuntutan zaman, menjadikan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi pusat kebudayaan dan inovasi peradaban. Selain itu, posisi santri dalam pembangunan bangsa perlu dikuatkan melalui kebijakan strategis yang mengintegrasikan pesantren ke dalam ekosistem inovasi nasional. Pemerintah bersama lembaga keagamaan dapat membangun kolaborasi riset dan teknologi berbasis nilai, seperti pengembangan Islamic techpreneurship, ekosistem green economy, dan pendidikan vokasi pesantren berbasis digital.
Dengan dukungan kebijakan tersebut, pesantren dapat berkontribusi langsung terhadap target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), terutama dalam bidang pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, dan inovasi industri yang beretika. Jika paradigma ini dikembangkan secara konsisten, maka pesantren bukan hanya menjadi benteng moral bangsa, tetapi juga pusat lahirnya civilized innovation inovasi yang menyejahterakan manusia tanpa mengorbankan kemanusiaannya.
Penutup
Hari Santri 2025 menjadi pengingat bahwa peradaban dunia yang berkeadilan hanya dapat dibangun oleh manusia yang merdeka dengan iman, maju dengan ilmu, dan beradab dengan teknologi. Santri Indonesia telah memberi teladan tentang bagaimana keilmuan tidak harus kering dari nilai, dan teknologi tidak harus lepas dari moral. Di tengah gegap gempita dunia digital, pesantren tetap menjadi “menara nilai” yang menuntun arah kemajuan agar tetap manusiawi dan Ilahiah.
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Hari Santri sejatinya merupakan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran santri dalam arsitektur kebudayaan dan peradaban global. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengaburkan batas antara kebenaran dan relativisme moral, santri hadir sebagai penjaga spiritual compass bangsa memastikan bahwa arah kemajuan selalu berpijak pada nilai keadaban dan ketuhanan. Melalui kolaborasi ilmu, iman, dan teknologi, santri tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan Indonesia, tetapi juga menawarkan paradigma baru bagi dunia: kemajuan yang berakar pada kebijaksanaan, bukan keserakahan; peradaban yang berlandaskan adab, bukan ambisi kekuasaan.
Inilah warisan luhur pesantren yang menjadikan kemerdekaan bukan hanya hak politik, tetapi juga kesadaran moral untuk memaknai hidup sebagai pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan sesama manusia. Sebagaimana pesan KH. Hasyim Asy’ari, “Ilmu tanpa adab adalah kesesatan, dan adab tanpa ilmu adalah kehampaan.” Maka, rumusan ideal pembangunan bangsa bukan sekadar mengejar kemajuan material, tetapi menghidupkan kembali keseimbangan antara iman, ilmu, dan teknologi tiga pilar abadi yang menjadikan santri, dan Indonesia, berperan aktif dalam membangun peradaban dunia yang beradab dan bermartabat.
Komentar
Kirim Komentar