Menteri Perindustrian: TPT Sebagai Kebijakan Strategis Nasional untuk Pertumbuhan dan Lapangan Kerja

Menteri Perindustrian: TPT Sebagai Kebijakan Strategis Nasional untuk Pertumbuhan dan Lapangan Kerja

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Menteri Perindustrian: TPT Sebagai Kebijakan Strategis Nasional untuk Pertumbuhan dan Lapangan Kerja, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Peran Industri Tekstil dan Produk Tekstil dalam Perekonomian Nasional

Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Sebagai industri padat karya, TPT menjadi bagian dari kebijakan strategis nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini sesuai dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pengembangan sektor industri yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dalam sambutannya pada penyelenggaraan ITMF (International Textile Manufacturers Federation) Annual Conference & IAF (International Apparel Federation) World Fashion Convention 2025 di Yogyakarta, Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan apresiasi kepada para delegasi internasional yang hadir. Acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) ini dihadiri oleh sekitar 400 delegasi dari berbagai negara, termasuk perwakilan asosiasi tekstil dan fashion internasional, produsen, pelaku usaha, akademisi, serta pemangku kebijakan global.

Menperin mengatakan bahwa kolaborasi antar negara di sektor tekstil dan produk tekstil harus terus ditingkatkan. “Acara di Jogjakarta ini harus menjadi momentum kebangkitan tekstil dan fashion Indonesia untuk dunia,” ujarnya. Menurutnya, industri tekstil dan garmen harus menjadi pelopor teknologi modern untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi. Selain itu, sektor ini juga harus mampu melindungi dunia usaha dan tenaga kerjanya, serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik melalui prinsip green industry.

Pertumbuhan industri TPT Indonesia tercatat semakin positif. Pada akhir 2024 hingga kuartal kedua 2025, pertumbuhan mencapai 5,39% (Q4 2024 – Q2 2025), dengan kontribusi terhadap GDP sebesar 0,98%. Industri ini juga melibatkan sebanyak 3,76 juta pekerja, atau sekitar 19,18% dari total pekerja manufaktur. Sementara itu, kapasitas ekspor meningkat menjadi USD 8,07 miliar pada bulan Januari-Agustus 2025.

Sinergi antara API dan Pemerintah

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), sebagai penyelenggara acara internasional ini, menyatakan komitmen sinergis dengan Pemerintah dalam merancang regulasi baru yang bertujuan menjaga keberlanjutan industri tekstil dan garment di Indonesia. Dalam sambutannya, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan momen penting bagi industri tekstil dan fashion seluruh dunia untuk saling berkolaborasi, unjuk inovasi, dan teknologi di tengah ketidakpastian global.

“Melalui forum internasional ini, kita bisa berbagi pengetahuan dan inovasi, membangun kemitraan lintas negara, serta mengembangkan keterampilan baru yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan,” tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya navigasi ketidakpastian dan adopsi jalur teknologi sebagai peluang besar untuk membangun masa depan industri yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Jemmy Kartiwa juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Keuangan atas upaya mereka dalam melahirkan regulasi yang melindungi kepentingan industri padat karya, khususnya tekstil dan produk tekstil domestik.

Budaya dan Inovasi dalam Industri Tekstil

Wakil Ketua Umum API sekaligus anggota Dewan ITMF, Michelle Tjokrosaputro, menekankan pentingnya menyatukan nilai budaya dan kearifan lokal dalam pengembangan industri tekstil modern. “Perhelatan ini adalah wadah kolaborasi global yang mempertemukan nilai budaya, inovasi, dan keberlanjutan. Indonesia adalah bagian penting dari siklus mata rantai tekstil dan produk tekstil dunia yang turut membentuk masa depan industri tekstil dunia,” katanya.

Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan konferensi internasional ini tidak lepas dari keunikan kota tersebut sebagai pusat pendidikan dan kreativitas. Yogyakarta dikenal memiliki warisan budaya yang kental dengan tekstil dan fashion nasional. Kekayaan seni dan kerajinan yang terpadu dengan inovasi menjadikannya simbol pertemuan antara tradisi dan teknologi dalam industri kreatif modern sektor tekstil dan garmen.

Konferensi internasional ITMF dan IAF ini mengangkat tema “Navigating Uncertainty and Adopting Technology Pathways to Sustainable Strength in the Textile and Apparel Industry”. Tema ini menghadirkan sekitar 20 pembicara ahli internasional yang membahas topik strategis seperti decarbonization, sustainability, inovasi teknologi, serta masa depan serat dan kapas. Tujuannya adalah memastikan industri tekstil dan fashion global mampu bertransformasi secara berkelanjutan di tengah kemajuan teknologi dan tantangan tenaga kerja.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar