Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Tiba-Tiba Menghilang, Didepak oleh Putin?

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Tiba-Tiba Menghilang, Didepak oleh Putin?

Isu politik kembali mencuat. Mengenai Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Tiba-Tiba Menghilang, Didepak oleh Putin?, publik menunggu dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kehadiran yang Tidak Terduga dan Spekulasi di Baliknya

MOSKWA – Spekulasi mengenai posisi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kembali muncul setelah ia tidak hadir dalam pertemuan penting Dewan Keamanan Rusia pada Rabu (5/11/2025). Dalam pertemuan tersebut, Presiden Vladimir Putin memerintahkan para pejabat tinggi untuk menyiapkan rancangan uji coba senjata nuklir baru.

Pertemuan ini biasanya menjadi momen penting yang tidak pernah dilewatkan oleh pejabat sekelas Lavrov. Namun, kali ini ia justru menjadi satu-satunya anggota tetap Dewan Keamanan yang tidak hadir. Hal ini menimbulkan berbagai dugaan mengenai alasan ketidakhadirannya.

Harian bisnis Rusia, Kommersant, melaporkan bahwa ketidakhadiran Lavrov sudah "dikoordinasikan", meski tanpa penjelasan lebih lanjut. Kecurigaan semakin menguat setelah pemerintah menunjuk pejabat yang lebih junior untuk memimpin delegasi Rusia dalam KTT G20 mendatang, posisi yang selama ini selalu diisi oleh Lavrov. Langkah ini memicu spekulasi bahwa diplomat kawakan tersebut mulai tersingkir dari lingkaran dalam Putin.

Meskipun Kremlin membantah rumor tersebut, pernyataan resmi itu tidak cukup untuk meredam spekulasi bahwa Lavrov sedang kehilangan pengaruhnya. Beberapa analis percaya bahwa keretakan hubungan antara Putin dan Lavrov telah beredar sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana pertemuan puncak dengan Putin di Budapest bulan lalu.

Menurut Financial Times, keputusan Trump dipicu oleh percakapan telepon antara Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, di mana Lavrov bersikap terlalu keras dan membuat Gedung Putih menunda pertemuan tersebut. Sejumlah sumber diplomatik di Moskwa menyebut bahwa Lavrov dianggap "keluar dari skrip" atau bahkan "gagal memainkan peran". Akibatnya, kebijakan luar negeri Rusia dinilai terganggu dan peluang pemulihan hubungan dengan Washington ikut kandas.

Kegagalan itu diyakini membuat Putin marah. Presiden Rusia tersebut tengah berupaya membuka ruang dialog dengan AS, tidak hanya soal Ukraina tetapi juga terkait pengendalian senjata nuklir. Lebih dari itu, sikap Lavrov dinilai membuat Putin terlihat lemah, seolah tidak mampu mengendalikan bawahannya sendiri. Dalam sistem kekuasaan Rusia, hal ini adalah kesalahan besar.

Seperti aturan tidak tertulis dari pelatih legendaris Sir Alex Ferguson, di mana tak ada pemain yang boleh lebih besar dari klub, Putin dikenal menuntut loyalitas penuh dari setiap pejabatnya. Jika benar Lavrov disingkirkan, maka ini akan menjadi babak penting dalam politik Rusia.

Peran Lavrov sebagai Tangan Kanan Putin

Selama lebih dari dua dekade, pria berusia 75 tahun itu telah menjadi wajah diplomasi Moskwa dan tangan kanan Putin di panggung internasional. Lavrov dikenal dengan gaya bicara keras dan komentar tajamnya terhadap Barat. Dia juga menjadi pendukung vokal invasi Rusia ke Ukraina.

Pada KTT Putin–Trump di Alaska, Lavrov bahkan datang mengenakan sweter bertuliskan CCCP, huruf Rusia untuk USSR, yang dianggap sebagai pesan simbolik bahwa Ukraina tetap bagian dari pengaruh Moskwa. Dalam momen usai konferensi pers kala itu, seorang jurnalis sempat berusaha bertanya kepada Lavrov saat ia berjalan keluar. Namun sang menlu hanya berteriak balik "siapa kamu?" tanpa menoleh sedikit pun.

Lavrov juga sering kali menjadi pusat perhatian karena sikapnya yang tegas terhadap negara-negara Barat. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam menjaga kepentingan Rusia di dunia internasional. Meskipun begitu, beberapa kalangan mulai mempertanyakan perannya dalam situasi geopolitik yang semakin rumit.

Kemungkinan Perubahan dalam Arah Politik Rusia

Jika spekulasi tentang pengaruh Lavrov yang menurun benar, maka ini bisa menjadi tanda perubahan signifikan dalam arah politik Rusia. Dengan peran Lavrov yang selama ini sangat dominan, pergeseran ini dapat memengaruhi strategi luar negeri Rusia secara keseluruhan.

Dalam konteks yang lebih luas, langkah-langkah seperti penunjukan pejabat junior untuk memimpin delegasi Rusia di KTT G20 menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan. Ini juga bisa menjadi indikasi bahwa Putin sedang mencari alternatif yang lebih sesuai dengan visinya dalam menjalin hubungan internasional.

Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kremlin yang menjelaskan alasan ketidakhadiran Lavrov. Semua spekulasi masih berada di ranah dugaan dan teori, sehingga masyarakat dan media internasional tetap mengamati perkembangan situasi ini dengan cermat.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar