
Jakarta.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pergerakan valuta asing (valas) di pasar global menunjukkan variasi pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data dari Bloomberg, pada pukul 16.20 WIB, Selasa (30/12/2025), baht Thailand (THB) menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, yaitu sebesar 0,34% ke level 31,51. Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,33% ke 4,047, yuan China (CNY) naik 0,25% ke 6,98, rupee India (INR) menguat 0,19% ke 89,80, dan yen Jepang (JPY) menguat 0,11% ke 155,89.
Di sisi lain, won Korea Selatan (KRW) anjlok sebesar 1,02% ke 1.448,82, sedangkan dolar Hongkong (HKD) terkoreksi 0,10% ke 7,781.
Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, menjelaskan bahwa secara umum pergerakan mata uang Asia stabil atau menguat terhadap dolar AS di akhir tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh pelemahan dolar setelah berakhirnya shutdown pemerintah dan data ekonomi yang menunjukkan perlambatan. Selain itu, volume perdagangan yang tipis karena libur akhir tahun juga mengurangi volatilitas besar di pasar mata uang Asia.
“Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed di tahun depan, dengan proyeksi sebanyak dua kali pemangkasan, turut memengaruhi pergerakan valas di sisa perdagangan 2025,” ujar Nanang.
Ia melihat USDJPY menjadi salah satu mata uang yang menarik, karena pelemahan yang terjadi dan diproyeksikan tetap berada di area resisten sekitar 156–157 per dolar AS. Area tersebut menjadi perhatian bagi Bank of Japan (BoJ) yang tidak ingin pelemahan Yen terlalu agresif. Isu intervensi cukup kuat jika Yen masuk ke area 156.000–157.000.
Selain rupiah, Nanang menyebutkan bahwa mata uang seperti ringgit dan baht menarik karena sentimen positif dari arus modal atau ekspor. Yuan China juga menguat karena prospek otoritas The People's Bank of China (PBOC) yang memiliki ruang untuk terus melakukan gelontoran likuiditas di pasar keuangan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan Yen sangat fluktuatif karena ekspektasi suku bunga BoJ, carry trade, dan intervensi. Dolar Taiwan (TWD) didukung oleh manufaktur yang sedang booming. KRW melemah karena prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, sementara rupiah terpengaruh oleh harapan pemangkasan suku bunga BI.
Sementara CNY menguat karena ekonomi yang resilien serta rekor trade surplus, yang menentang segala kekhawatiran terkait tarif. “KRW dan JPY agak menguat akhir-akhir ini. Keduanya perlu dicermati,” tambah Lukman.
Lukman menambahkan bahwa BoJ yang kembali hawkish akhir-akhir ini memberikan dukungan pada Yen. Sedangkan KRW didukung oleh masuknya dana pensiun negara tersebut. Meskipun begitu, sulit memperkirakan nilai KRW karena volume perdagangan yang rendah.
Ia memproyeksikan Yen akan menguat ke level 155 pada Rabu (31/12). Sementara KRW berada di kisaran 1.405–1.420.
Sementara itu, Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah pada Rabu (31/12) akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.770–Rp 16.800 per dolar AS.
Komentar
Kirim Komentar