Mengenal Batuk Pertusis: Mata Merah dan Lebam yang Disalahpahami sebagai Kekerasan Sekolah

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Mengenal Batuk Pertusis: Mata Merah dan Lebam yang Disalahpahami sebagai Kekerasan Sekolah, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.
Mengenal Batuk Pertusis: Mata Merah dan Lebam yang Disalahpahami sebagai Kekerasan Sekolah

Mengenal Batuk Rejan atau Pertusis yang Viral Akibat Mata Merah pada Anak SD

Batuk rejan, atau dikenal juga sebagai pertusis, adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular dan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini kini sedang menjadi perbincangan setelah seorang siswi SD di Palembang, Sumatra Selatan, mengalami mata merah dan lebam yang sempat disangka akibat kekerasan di sekolah. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan medis, ternyata kondisi tersebut disebabkan oleh batuk rejan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Apa Itu Batuk Rejan?

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit yang menyebar dengan mudah melalui droplet saat seseorang batuk atau bersin. Gejalanya biasanya dimulai seperti flu biasa, yaitu pilek, demam ringan, dan batuk ringan. Namun, setelah beberapa minggu, gejala bisa memburuk menjadi batuk hebat dan berkepanjangan, sering kali diikuti oleh suara tarikan napas melengking yang terkenal dengan istilah "rejan".

Menurut data dari WHO, pada tahun 2018 terdapat lebih dari 151.000 kasus pertusis secara global. Penyakit ini paling berbahaya bagi bayi, karena bisa menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia atau bahkan kematian. Pada remaja dan orang dewasa, gejala pertusis biasanya lebih ringan, terutama jika sudah mendapatkan vaksin DPT.

Gejala Awal dan Lanjutan Batuk Rejan

Gejala awal pertusis biasanya muncul dalam waktu 1 hingga 2 minggu setelah terinfeksi. Beberapa gejala umumnya meliputi:

  • Pilek
  • Demam ringan
  • Batuk ringan, sesekali
  • Apnea (jeda dalam bernapas) pada bayi

Pada tahap lanjutan, gejala bisa berkembang menjadi:

  • Batuk paroksismal (batuk cepat dan hebat)
  • Muntah setelah batuk
  • Kelelahan ekstrem setelah batuk

Batuk bisa berlangsung selama 10 minggu atau lebih, sehingga penyakit ini sering disebut sebagai "batuk 100 hari" di Cina. Orang yang terinfeksi paling menular selama 3 minggu pertama setelah mulai batuk.

Mengapa Batuk Rejan Bisa Menyebabkan Mata Merah Lebam?

Dr Frengky Sp.A menjelaskan bahwa batuk rejan bisa menyebabkan mata merah dan lebam karena tekanan darah meningkat akibat batuk yang keras. Tekanan tersebut bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah di area mata, sehingga terjadi pendarahan pada konjungtiva atau kelopak mata.

"Batuk yang hebat dan panjang bisa menyebabkan tekanan bulu darah meningkat, terutama di daerah mata. Jika tekanan mencapai titik tertentu, pembuluh darah bisa pecah, menyebabkan mata merah dan lebam," jelas Dr Frengky.

Kronologi Kasus di Palembang

Kasus ini bermula ketika ibu korban, Erna, melihat mata anaknya merah dan lebam setelah pulang dari sekolah. Ia langsung mencurigai adanya kekerasan dari guru. Namun, pihak sekolah membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa F datang ke sekolah dalam kondisi mata merah.

Setelah proses visum dilakukan, dokter menemukan bahwa F mengalami batuk rejan. Hasil visum juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan benda tumpul atau tajam. Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, menyatakan bahwa penyelidikan dihentikan karena tidak ditemukan bukti kekerasan.

Tindakan Sekolah dan Keluarga

Setelah penyelidikan dihentikan, pihak sekolah tidak membuat laporan balik, sehingga kasus ini dapat selesai tanpa adanya aksi saling lapor. Kepala SDN 150 Palembang, Eka Octa Nugraha, mengaku belum menerima kabar resmi tentang kondisi F. Ia berharap semua pihak bisa bijak dalam menyampaikan informasi agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Sementara itu, keluarga korban telah meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Sekolah juga berharap F segera pulih dan dapat kembali bersekolah.

Pencegahan dengan Vaksin DPT

Salah satu cara untuk mencegah pertusis adalah dengan pemberian vaksin DPT. Vaksin ini sangat efektif dalam melindungi anak dari infeksi bakteri yang menyebabkan batuk rejan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan vaksinasi secara lengkap.


Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar