
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Fenomena Menarik di Sektor Riil Indonesia Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dengan berbagai fenomena menarik di sektor riil Indonesia. Beragam peristiwa mulai dari konflik terkait pagar laut hingga penjualan pulau mencuri perhatian publik. Berikut adalah lima peristiwa menarik yang terjadi di sektor industri Indonesia pada tahun ini.
1. Konflik Pagar Laut di Perairan Banten
Permasalahan terkait keberadaan pagar laut di perairan Banten menjadi salah satu isu yang mewarnai awal tahun 2025. Sebuah pagar laut sepanjang 30,16 kilometer membentang dari Desa Muncung hingga Desa Pakuhaji dalam 16 kecamatan di Kabupaten Tangerang. Pagar tersebut memiliki tinggi rata-rata 6 meter dan dilengkapi anyaman bambu, paranet, serta karung pasir di atasnya.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid mencatat bahwa terdapat 263 bidang dalam bentuk Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan 17 bidang dalam bentuk Sertifikat Hak Milik (SHM). Beberapa perusahaan seperti PT Intan Agung Makmur dan PT Cahaya Inti Sentosa memiliki kepemilikan SHGB yang cukup besar.
Pagar laut mulai dibongkar secara resmi pada Rabu (22/1) oleh TNI AL setelah berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Proses pembongkaran ini melibatkan 1.500 personel, termasuk 700 personel TNI AL, 400 pasukan katak, dan 500 orang nelayan Banten. Para nelayan mengatakan bahwa deretan pagar bambu itu sudah tertancap sejak 2023.
2. Penjualan Pulau Anambas
Pada pertengahan 2025, situs Privateislandsonline.com menawarkan empat pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, kepada investor asing. Keempat pulau tersebut adalah Pulau Rintan, Pulau Mala, Pulau Tokongsendok, dan Pulau Nakob. Situs ini menyebut bahwa kepemilikan atas pulau ditawarkan melalui pembelian saham perusahaan yang sedang diproses menjadi perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA).
Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa keempat pulau tersebut tidak bisa diperjualbelikan karena merupakan milik negara. Pemerintah memberikan perlindungan penuh kepada pulau-pulau kecil karena terkait kedaulatan negara. Tidak ada regulasi di Indonesia yang membolehkan penjualan pulau.
3. Cemaran Cesium Udang
Kasus cemaran udang yang mengandung zat radioaktif Cesium-137 diawali dengan himbauan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Agustus 2025. FDA memperingatkan masyarakat AS untuk tidak mengonsumsi, menjual, atau mengolah udang beku impor dari PT Bahari Makmur Sejati. Penyelidikan menunjukkan bahwa kontaminasi berasal dari Kawasan Industri Cikande, Banten.
PT Peter Metal Technology (PMT), sebuah pabrik peleburan logam stainless steel, berhenti beroperasi pada Juli 2025. Dari penghentian ini ditemukan fakta bahwa barang bekas yang diolah tidak melalui proses dengan baik. Limbah yang dihasilkan perusahaan dibuang ke tempat rongsokan di Cikande, menyebabkan tersebarnya barang limbah dengan kekuatan radiasi mencapai 10.000 microsievert per jam.
Satgas menetapkan pabrik tersebut sebagai sumber kontaminasi dan menetapkan Direktur PT PMT Lin Jingzhang sebagai tersangka.
4. Angka PHK Naik
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan data tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) per November 2025 mencapai 79.302 orang. Angka ini terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah PHK terbanyak, yaitu sekitar 21,73%.
Angka PHK ini melebihi jumlah tenaga kerja yang mengalami PHK sepanjang 2024, yaitu 77.965 orang. Meski meningkat, angka yang resmi dipublikasi dinilai belum mencerminkan realita. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa perlambatan ekonomi menjadi penyebab tingginya angka PHK.
5. Pulau Bali Sepi Saat Nataru
Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisata ke Bali terancam tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai cuaca ekstrem dan mahalnya tiket pesawat berpotensi menahan laju wisatawan domestik hingga akhir 2025.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh gencarnya informasi mengenai cuaca ekstrem. Selain itu, terjadi pola pergeseran tujuan wisata ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta terlihat ada peningkatan luar biasa.
Jumlah pelancong yang berkunjung ke Bali sejauh ini mencapai 6,8 juta orang, lebih rendah dari target tahun ini sejumlah 7 juta wisatawan.
Komentar
Kirim Komentar