
Kondisi Kesehatan di Gaza Mengalami Krisis Parah
\nPada akhir Mei 2025, jumlah warga Palestina yang terluka akibat serangan Israel di Gaza mengalami peningkatan tiga kali lipat. Hal ini memperparah kondisi sistem kesehatan di wilayah tersebut yang sudah dalam keadaan hancur. Mohammed Abu Mughaisib, wakil koordinator medis MSF di Gaza, menyampaikan bahwa sektor kesehatan hanya tinggal kerangka yang rapuh dan kini menghadapi tantangan baru.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ia menuturkan bahwa banyak dari korban luka tidak berhasil sampai ke rumah sakit dalam keadaan hidup. Layanan bedah darurat dan perawatan intensif di sejumlah rumah sakit telah runtuh. Menurutnya, diperlukan gencatan senjata segera serta akses kemanusiaan tanpa hambatan agar tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.
\nDaerah Kematian di Pusat Distribusi Makanan
\nPusat-pusat distribusi makanan yang dioperasikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), lembaga yang didukung Israel dan Amerika Serikat (AS), kini berubah menjadi daerah kematian alih-alih titik aman bagi warga sipil. Dari data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei, hampir 1.924 orang telah terbunuh dan lebih dari 14 ribu lainnya terluka saat menunggu bantuan.
\nPelapor khusus PBB menyerukan pembubaran GHF karena bantuan yang ada dieksploitasi untuk agenda militer dan geopolitik yang terselubung. Mughaisib juga menyebut layanan bedah darurat dan perawatan intensif yang sebelumnya sudah lumpuh akibat perang, kini juga runtuh di sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi.
\nAngka Kematian Akibat Kelaparan Meningkat Drastis
\nSejak Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 61.827 warga Palestina dan melukai 155.275 lainnya. Wilayah tersebut hancur dan penduduknya terjebak di ambang kelaparan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa 11 orang meninggal akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir, sehingga total korban jiwa akibat kelaparan dan malnutrisi mencapai 251 orang sejak perang dimulai.
\nDari jumlah tersebut, 108 adalah anak-anak. PBB menyebutkan bahwa satu dari lima anak di Gaza mengalami kekurangan gizi. Banyak warga Palestina mengantre untuk mendapatkan sepiring makanan, yang sering menjadi satu-satunya santapan mereka dalam sehari.
\nZeinab Nabahan, seorang pengungsi Palestina dari kamp Jabalia, mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya. Ia datang pukul 6 pagi ke dapur amal untuk mendapatkan makanan bagi anak-anaknya. Jika tidak kebagian, ia harus kembali sore hari untuk mencoba kesempatan lain.
\nTayseer Naim juga mengungkapkan bahwa jika bukan karena Tuhan dan dapur amal, ia mungkin sudah mati kelaparan. Ia harus bersusah payah untuk mendapatkan makanan seperti kacang lentil atau nasi, lalu pulang dengan jarak tempuh sekitar satu kilometer.
\nIsrael Terus Terapkan Kebijakan Kelaparan
\nKantor Media Pemerintah di Gaza menyatakan bahwa Israel terus menerapkan kebijakan kelaparan dan pembunuhan secara perlahan terhadap lebih dari 2,4 juta orang di Gaza, termasuk lebih dari 1,2 juta anak Palestina. Korban terbesar dari kejahatan genosida ini adalah anak-anak dan orang sakit.
\nLebih dari 40 ribu bayi di bawah satu tahun menderita kekurangan gizi parah, dan nyawa mereka terancam kematian bertahap. Lebih dari 100 ribu anak-anak dan pasien juga berada dalam situasi serupa. Meskipun ada kecaman internasional, Israel terus mencegah masuknya susu formula bayi, suplemen nutrisi, serta ratusan barang penting lainnya seperti daging beku, ikan, keju, produk susu, buah-buahan dan sayuran beku.
Komentar
Kirim Komentar