
Kongres PSSI Papua Barat 2025 Fokus pada Pembangunan Sepak Bola yang Berkelanjutan
PSSI Papua Barat menggelar Ordinary Congress 2025 untuk mengevaluasi program kerja sekaligus menetapkan arah pembangunan sepak bola di wilayah tersebut. Acara ini menjadi momen penting dalam memperkuat komitmen terhadap pengembangan olahraga sepak bola di Tanah Papua.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ketua Umum PSSI Papua Barat, Faisal Kelian, menjelaskan bahwa kongres ini membahas capaian program dari tahun 2022 hingga 2025 serta menyusun strategi pengembangan sepak bola untuk tahun 2026. Ia menekankan bahwa pembinaan sepak bola harus dimulai dari tingkat kabupaten dan kota, khususnya pada kelompok usia dini dan usia muda.
“Sepak bola di kabupaten dan kota adalah fondasi utama. Dari sinilah pembinaan usia muda dimulai kemudian naik ke level provinsi hingga nasional,” ujar Faisal dalam kongres tersebut.
Dalam kesempatan itu, PSSI Papua Barat memberikan apresiasi kepada pelatih lokal yang berhasil membawa timnya menembus 8 besar nasional. Pelatih-pelatih tersebut berhak mendapatkan beasiswa lisensi kepelatihan B dari PSSI. Selain itu, Persipegaf, yang mewakili Papua Barat dalam Liga 4 musim 2024–2025, juga mendapatkan penghargaan setelah mampu menembus 32 besar kompetisi tersebut.
“Prestasi ini membuktikan bahwa Papua Barat memiliki potensi besar jika pembinaan dilakukan secara konsisten dan berjenjang,” kata Faisal.
Ia berharap Liga 4 musim 2025–2026 dapat berjalan lebih baik dengan dukungan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama pelatih dan wasit. Menurutnya, tidak ada jalan pintas dalam membangun sepak bola berkualitas tanpa melalui pendidikan, pelatihan, dan kursus berlisensi.
“Pemain yang baik harus didukung pelatih yang baik dan wasit yang profesional. Ketiganya merupakan fondasi terciptanya kompetisi yang sehat dan berkualitas,” ujar Faisal Kelian.
Perubahan Statuta PSSI dan Koordinasi yang Lebih Baik
Ordinary Congress 2025 juga membahas perubahan statuta PSSI yang disahkan pada tahun 2025. Salah satu poin penting dalam statuta baru ini adalah mekanisme penunjukan ketua PSSI kabupaten/kota yang kini ditunjuk langsung oleh ketua PSSI provinsi, bukan lagi melalui pemilihan di daerah.
“Ketua PSSI kabupaten/kota tidak lagi dipilih melalui forum, tetapi ditunjuk langsung oleh Ketua PSSI provinsi dan ditetapkan melalui SK,” katanya.
Perubahan ini bertujuan memperkuat koordinasi dan sinkronisasi program pembinaan sepak bola antara PSSI pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam pengembangan sepak bola di seluruh wilayah.
Konsolidasi dan Evaluasi Bersama
Kongres tersebut juga menjadi momentum penting untuk konsolidasi dan evaluasi bersama para pemangku kepentingan sepak bola di Tanah Papua, khususnya Papua Barat. Faisal menekankan bahwa pembangunan sepak bola membutuhkan investasi jangka panjang, terutama pada pembinaan usia dini melalui sekolah-sekolah sepak bola (SSB) yang rutin dan terprogram.
“Kebangkitan sepak bola Papua Barat bukan untuk kepentingan individu, tetapi untuk seluruh daerah. Kita harus menyiapkan pemain usia muda hari ini untuk menghadapi kompetisi besar di masa depan,” tambahnya.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Dengan berbagai inisiatif dan perubahan yang telah diambil, PSSI Papua Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas sepak bola di wilayah tersebut. Fokus pada pembinaan usia dini, peningkatan SDM, serta perbaikan sistem manajemen akan menjadi prioritas utama dalam beberapa tahun ke depan.
Komentar
Kirim Komentar