Kompleksitas Ekonomi: Solusi dari Kelebihan?

Kompleksitas Ekonomi: Solusi dari Kelebihan?

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Kompleksitas Ekonomi: Solusi dari Kelebihan? menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Paradoks Kelimpahan dan Ketergantungan pada Sumber Daya Alam

Paradoks kelimpahan, atau paradox of plenty, menggambarkan situasi yang pahit di mana negara atau wilayah yang kaya akan sumber daya alam justru kesulitan dalam mengubah kekayaan tersebut menjadi kemakmuran yang inklusif. Bahkan, ketergantungan pada sumber daya alam bisa memperburuk ketimpangan, kemiskinan, serta kerusakan institusi. Fenomena ini dikenal sebagai resource curse (kutukan sumber daya alam), yang pertama kali diungkapkan oleh Richard Auty lebih dari 30 tahun lalu melalui studinya terhadap enam negara kaya mineral.

Kini, paradoks ini semakin nyata di Indonesia. Berdasarkan data Bank Dunia, rente sumber daya alam Indonesia pada 2021 mencapai 5,157% dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi daripada rata-rata global sebesar 3,1%. Angka ini mencakup rente dari minyak bumi, gas, batubara, mineral, dan hutan. Dengan semakin maraknya ekstraksi sumber daya alam, sangat mungkin angka tersebut telah meningkat secara signifikan. Dari sisi anggaran, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) mencapai Rp299,5 triliun pada 2023 dan Rp269,5 triliun pada 2024, belum termasuk pajak lainnya.

Di tengah akumulasi rente ini, kerentanan sosial-ekonomi tetap berlangsung. Penduduk miskin Indonesia mencapai 194,4 juta orang (68,2%) menurut standar garis kemiskinan negara berpendapatan menengah-atas. Di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua, tingkat kemiskinan sering kali mendekati atau bahkan melebihi rata-rata nasional. Aceh, yang masih terpuruk akibat banjir bandang akibat eksploitasi alam, memiliki persentase penduduk miskin tertinggi di Sumatra. Di Papua, tingkat kemiskinan bahkan jauh lebih tinggi daripada nasional.

Penelitian dan Evaluasi dari Para Ahli

Jeffrey Sachs dan Andrew Warner menemukan bahwa perekonomian yang bergantung pada sumber daya alam cenderung lambat melakukan diversifikasi dan kinerja pembangunan jangka panjangnya lemah, terutama jika kapasitas kelembagaannya tidak memadai. Bank Dunia juga menyebutkan bahwa pertumbuhan yang dipacu sumber daya alam justru meningkatkan kerentanan jangka panjang. Hal ini terjadi karena aktivitas ekstraktif merusak tanah, hutan, dan sistem perairan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat.

Menghadapi Dogma Pembangunan

Dalam konteks ini, economic complexity (kompleksitas ekonomi) menjadi penting. Kompleksitas ekonomi merujuk pada keragaman dan kecanggihan kapasitas produksi suatu negara. Ini bukan hanya krusial bagi daya tahan ekonomi, tetapi juga bisa menjadi penawar bagi relasi antara ketergantungan sumber alam dan ketimpangan. Jika suatu negara dapat membangun industri yang canggih dan kompleks, maka kekayaan alam bisa digunakan untuk menyejahterakan rakyat secara lebih merata.

Data dari Harvard Growth Lab menunjukkan bahwa Indeks Kompleksitas Ekonomi (ECI) Indonesia pada 2023 adalah -0,24, berada di peringkat 72 dari 145 negara. Meskipun peningkatan dari peringkat 74 pada 2018, Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain. Hilirisasi ditempatkan sebagai kebijakan untuk keluar dari jebakan sebagai penjual bahan mentah saja. Dari sisi investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah, hilirisasi tampak progresif. Namun, kemiskinan di daerah seperti Maluku Utara dan Sulawesi Tengah masih tinggi, menandakan bahwa hilirisasi belum sepenuhnya mampu menyejahterakan masyarakat luas.

Membangun Fondasi Pengetahuan dan Sumber Daya Manusia

Hilirisasi yang inklusif dan menuju economic complexity hanya mungkin tercapai jika ada fondasi pengetahuan dan manusia berkualitas. Cina, sebagai investor utama hilirisasi sumber daya alam Indonesia, telah membuktikan bahwa pengembangan industri membutuhkan sistem pendidikan yang kuat. Pada 1950-an, Cina mengubah total sistem pendidikan tingginya dengan fokus pada pendidikan teknik, pertanian, dan medis, serta merelokasi pendidikan tinggi dekat lokasi produksi industri. Hasilnya baru terlihat pada akhir 1970-an, ketika reformasi pasar dimulai.

Sementara itu, pendidikan tinggi di Indonesia masih tersentral di Jawa dan kebijakannya masih sporadis. Implikasi kebijakan ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi alat pembangunan berbasis wilayah. Namun, transfer pengetahuan dan ketersediaan tenaga kerja berkualitas hanya akan efektif jika ada ekosistem bisnis yang mendukung pertumbuhan perusahaan, rekrutmen tenaga kerja berkualitas, inovasi, dan kompetisi sehat.

Kesimpulan

Mendorong economic complexity melalui hilirisasi sulit tercapai secara substansial dan inklusif tanpa didukung fondasi pengetahuan dan sumber daya manusia yang ahli dan terampil. Hilirisasi hanya menjadi wajah baru dari pola ekstraksi lama. Jika Indonesia tetap memilih "menggali tanah" ketimbang "mengolah otak dan pengetahuan", maka paradoks kelimpahan akan tetap menjadi kutukan tanpa penawarnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Kompleksitas Ekonomi: Solusi dari Kelebihan? ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar