Kisah Rani, Bocah 10 Tahun di Subang, Berjuang Melawan Thalasemia dengan Kondisi Keluarga Sulit

Kisah Rani, Bocah 10 Tahun di Subang, Berjuang Melawan Thalasemia dengan Kondisi Keluarga Sulit

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Kisah Rani, Bocah 10 Tahun di Subang, Berjuang Melawan Thalasemia dengan Kondisi Keluarga Sulit, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kondisi Rani yang Memilukan

Rani, seorang gadis berusia 10 tahun asal Kampung Rawabadak, RT 102, RW 29B, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menghadapi tantangan hidup yang sangat berat. Ia masih duduk di kelas IV SD dan sudah menderita Thalasemia. Dalam dua bulan terakhir, Rani telah menjalani dua kali transfusi darah dengan golongan B+ sebanyak tiga kantong saat pertama kali dirawat, kemudian empat kantong saat dirawat beberapa hari lalu.

Berat badannya hanya 20 kg dengan kondisi tubuhnya terlihat kecil dan pucat. Lebih menderitanya lagi, Rani berasal dari keluarga kurang mampu, tinggal di sebuah kontrakan bersama kedua orangtuanya dan dua adiknya yang masih kecil-kecil.

Mirna, ibu kandung Rani, mengaku bahwa anaknya sudah dua kali sakit dengan kondisi tubuh pucat dan lemas akibat kekurangan darah. "Minggu ini Rani masuk rumah sakit dengan kadar Hemoglobin (HB) sangat rendah 2,6 g/dL sehingga harus menjalani perawatan beberapa hari di RSUD Ciereng Subang," ujar Mirna.

Selama menjalani perawatan, Rani harus melakukan transfusi darah dengan menghabiskan empat kantong dengan golongan darah B+(Positif), darah yang sangat sulit pendonornya. "Alhamdulillah setelah dilakukan transfusi darah sebanyak empat kantong, kadar hemoglobinnya naik jadi 10,2 g/dL. Rani kembali terlihat sehat walaupun sampai hari ini masih terlihat sedikit pucat," ucapnya.

Tantangan Biaya Pengobatan

Terkait penyakit apa yang diderita, Mirna menyebut pihak RSUD Subang masih belum bisa memastikan. Rencananya bulan depan akan dilakukan pemeriksaan di Lab Kimia Farma. "Terkait penyakit dugaan sementara gejala Thalasemia. Namun untuk pastinya masih menunggu cek darah di Laboratorium," katanya.

Mirna merasa sangat kesulitan biaya untuk pengobatan Rani karena lumayan mahal untuk menjalani transfusi darah secara rutin. "Kemarin biaya pengobatan masih menggunakan SKTM karena tidak punya BPJS baik mandiri maupun yang dibayar pemerintah. Jangan kan buat bikin BPJS, buat makan dan bayar kontrakan saja kita masih sulit, kadang uang seribu pun tidak punya," katanya.

"Saya dan suami tak punya pekerjaan tetap, hanya buruh serabutan, sehingga kadang tak punya uang seribu perakpun," imbuhnya.

Kesulitan Menghadapi Biaya Pengobatan

"Tidak bisa membayangkan berapa besarnya biaya pengobatan Rani jika tidak di cover BPJS. Bayangkan harga 1 kantong darah bisa mencapai Rp. 500-600 ribu, dikalikan 4 kantong saja sekali dirawat, sudah kelihatan sekitaran Rp 2-3 jutaan lebih," katanya.

Darah hasil transfusi biasanya hanya bisa bertahan sekitar dua minggu, kemudian harus di transfusi darah lagi agar HB tidak turun. Mirna juga dibantu relawan dibuatkan BPJS kesehatan untuk Rani. Rina dimasukkan kategori PBI yang dibayari oleh pemerintah. Sehingga pengobatannya bisa maksimal.

"Namun prosesnya harus menunggu 6 bulan dari Dinas Sosial. Sehingga bila Rani kambuh dan kekurangan darah lagi, saya sangat panik harus gimana. Apalagi saya nggak punya uang," ungkapnya.

Bantuan dari Pemerintah dan Dokter Maxi

Terkait sakitnya Rina ini, Pemkab Subang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dokter Maxi mendatangi kontrakan tempat tinggal Rani. Lokasinya berada di Kampung Rawabadak, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang.

"Kami perwakilan pemerintah meninjau langsung kondisi Rani, tadi terlihat badannya masih sedikit pucat. Karena baru keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan dan transfusi darah. HB-nya juga sudah meningkat," katanya.

Dokter Maxi yang juga menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Subang juga telah berkomunikasi dengan pihak Dinsos Subang. Ia menganjurkan agar Rani dan keluarganya di-cover oleh BPJS Kesehatan yang PBI-nya dibayar oleh Pemkab Subang.

"Kita akan upayakan secepatnya biar BPJS-nya segera jadi," ucapnya.

Harapan agar Bukan Thalasemia Mayor

Ia berharap hasil laboratoriumnya bukan Thalasemia Mayor, karena ini penyakit yang sangat parah, sekaligus butuh biaya besar dan mengancam jiwa. "Semoga bukan Thalasemia Mayor. Karena kalau hasilnya Thalasemia Mayor tentunya sangat berat, karena harus menjalani transfusi darah seumur hidup," ujarnya.

Dikatakan Maxi lebih lanjut, untuk pengobatan Thalasemia Mayor, biaya penyembuhannya mencapai Rp 400 juta per tahunnya. "Biayanya sangat mahal, untuk transfusi darah rutin," ujarnya.

Adapun untuk penyembuhannya, anak yang menderita Thalasemia Mayor yakni dengan cara Hematopoietic Stem Cell Transplantation (HSCT) Transplantasi Sumsum Tulang. Transplantasi ini adalah satu-satunya pilihan terapi yang berpotensi menyembuhkan Thalasemia secara total.

"Transplantasi Sumsum Tulang atau HSCT, namun biayanya sangat mahal dan belum banyak tersedia di Indonesia," katanya.

Solusi Alternatif dan Bantuan Darurat

Selain itu, cara lain adalah terapi gen, sebuah teknologi canggih yang bertujuan untuk memperbaiki gen yang rusak. Namun cara ini pun juga masih sulit, biayanya masih sangat mahal dan belum menjadi standar pelayanan di Indonesia.

Kemudian untuk biaya lainnya yang dibutuhkan yakni ada pula screening Thalassemia, biayanya relatif murah, sekitar Rp 400 ribu. "Penting untuk diingat bahwa biaya pengobatan Thalasemia tidak hanya meliputi biaya medis, tetapi juga biaya hidup dan perawatan jangka panjang," ujarnya.

Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter dan mempertimbangkan semua opsi pengobatan sebelum membuat keputusan. Secara pribadi, dokter Maxi juga memberikan bantuan makan bergizi untuk Rani dan sembako untuk kedua orangtuanya, serta uang untuk membantu biaya pengobatan.

"Saya berharap dan mengajak semua pihak untuk ikut peduli dan memberikan bantuan untuk Rani dan keluarganya agar semakin semangat terus berobat sehingga Rani cepat sembuh," pungkasnya.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Utamakan kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar