Kisah penyelenggara acara tentang lesunya festival musik tahun ini

Kisah penyelenggara acara tentang lesunya festival musik tahun ini

Dunia hiburan kembali membuat penasaran netizen. Kali ini beredar kabar tentang Kisah penyelenggara acara tentang lesunya festival musik tahun ini yang menjadi trending. Cek faktanya.

Tantangan Industri Festival Musik di Tahun 2025

Banyak penyelenggara festival musik mengakui bahwa tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan. Mereka menghadapi berbagai hambatan seperti penjualan tiket yang stagnan atau bahkan menurun, serta kesulitan dalam mencari sponsor. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara Asia.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Salah satu pendiri Plainsong Live, Ferry Dermawan, menyatakan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia. Plainsong Live adalah penyelenggara Joyland Festival, sebuah acara musik tahunan yang mengundang musisi lokal maupun internasional. Tahun ini, mereka memutuskan untuk mengubah skala acara menjadi Joyland Sessions.

Ferry telah bekerja di industri live event sejak 2009. Menurutnya, ada dua tantangan utama yang dihadapi tahun ini. Pertama, ia gagal mendapatkan artis internasional yang mampu mengamankan pendapatan acara. Kedua, ketidakpastian dari para sponsor. “Tahun ini paling berat selama kami ada di industri ini,” ujarnya kepada Tempo pada Senin, 8 Desember 2025.

Tantangan serupa juga dialami oleh penyelenggara Synchronize Fest. Direktur Festival Synchronize Fest, David Karto, mengatakan bahwa sinyal perlambatan sudah terasa sejak lama di Jepang dan Eropa. Ia menilai kondisi di sana sama dengan di Indonesia, yaitu fenomena maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penurunan daya beli. Hal ini turut berdampak terhadap industri ekonomi kreatif.


Penampilan grup musik Tokyo Ska Paradise Orchestra dalam Synchronize Fest 2025 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, 5 Oktober 2025. Penampilan Tokyo Ska Paradise berama Elvy Sukaesih menjadi ajang reuni kedua musisi sebelumnya kedua musisi pernah tampil bersama 29 tahun lalu di Jepang. Tempo/Martin Yogi Pardamean

David mengaku hampir putus asa tahun ini. Pasalnya, para sponsor mengambil sikap wait and see. “Sampai Juli, semua proposal yang kami kirim kepada siapa pun dijawab ‘Kami pelajari dulu, terima kasih’, dan tidak ada follow-up,” ujar David kepada Tempo pada Selasa, 9 Desember 2025.

Direktur Komunikasi Synchronize Fest, Aldila Karina, menambahkan bahwa penjualan tiket tahun ini tidak secepat pada tahun-tahun sebelumnya. Selain karena tekanan daya beli, dia menduga hal itu juga disebabkan oleh perubahan kebiasaan penonton yang membeli tiket mendekati hari-H. Meski begitu, jumlah pengunjung Synchronize Fest tahun ini kurang lebih sama dengan tahun lalu, yaitu sekitar 30 ribu pengunjung.

Dalam laporan Majalah Tempo edisi 14 Desember 2025 berjudul “Festival Musik 2026: Sesak Penonton, Senyap Sponsor”, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebutkan tren konsumsi masyarakat memang bergerak ke arah belanja pengalaman atau experience economy. Akan tetapi, pemulihan daya beli tidak merata di semua kelompok pendapatan.

Menurut Josua, kelas menengah-atas tetap menjadi pendorong utama permintaan hiburan, sedangkan kelas menengah inti masih berhati-hati dan cenderung menunda pembelian. Ia memprediksi permintaan terhadap pertunjukan musik tetap tumbuh pada 2026, tapi tidak seagresif dua tahun terakhir. “Preferensi masyarakat berubah, tapi daya beli sebagian segmen belum pulih,” kata Josua kepada Tempo pada Rabu, 10 Desember 2025.

Caesar Akbar berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Kesimpulan: Tunggu update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk share berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar