Kinerja Melesat 553% Emisi EBT OASA, ARKO, dan ARCI di 2025

Kinerja Melesat 553% Emisi EBT OASA, ARKO, dan ARCI di 2025

Jagat maya sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Kinerja Melesat 553% Emisi EBT OASA, ARKO, dan ARCI di 2025. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perkembangan Energi Baru Terbarukan di Indonesia

Banyak perusahaan di Indonesia mulai memperkuat bisnisnya dalam segmen energi baru terbarukan (EBT). Momentum ini dimanfaatkan oleh perusahaan besar lintas sektor untuk mengamankan pangsa pasar di industri energi hijau yang berkembang pesat. Pertumbuhan bisnis energi terbarukan juga dipengaruhi rencana Danantara Investment Management (DIM) akan menjajaki peluang investasi pada sejumlah proyek listrik berbasis energi baru terbarukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan dampak sosial berkelanjutan.

Selain mengikuti arah kebijakan pemerintah dalam bauran energi nasional, langkah ini menjadi strategi menjaga daya saing bisnis di tengah tekanan dekarbonisasi global. Beberapa perusahaan besar sudah lebih agresif menggarap proyek EBT. Misalnya PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melalui anak usahanya memperkuat operasional PLTS di kawasan industri.

Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memperdalam portofolio panas bumi sembari membangun rantai pasok panel surya nasional. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) gencar mengembangkan pembangkit geothermal serta bersiap memasuki energi angin. Berikut adalah kinerja saham dan prospek mereka:

Kinerja Saham Emiten EBT

  1. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)
    Harga saham TOBA saat ini Rp 740 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 6,11 triliun. Kinerja Year to Date (YTD) mencapai 85,93%, namun turun 11,38% dalam sebulan terakhir.

  2. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
    Harga saham ADRO saat ini Rp 1.810 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 53,20 triliun. Kinerja YTD merosot 25,51% dan stagnan dalam sebulan terakhir.

  3. PT Arkora Hydro Tbk (ARKO)
    Harga saham ARKO naik 546,74% sejak awal tahun. Saat ini harga sahamnya Rp 5.950 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 17,42 triliun.

  4. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
    Harga saham BREN saat ini Rp 9.700 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.297 triliun. Kinerja YTD sebesar 4,58%.

  5. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
    Harga saham ARCI saat ini Rp 1.620 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 40,88 triliun. Kinerja YTD mencapai 553,23%.

  6. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
    Harga saham DSSA saat ini Rp 101.000 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 778,26 triliun. Kinerja YTD sebesar 172,97%.

  7. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)
    Harga saham CDIA saat ini Rp 1.670 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 208,47 triliun. Kinerja YTD belum ada data tersedia.

Transformasi Bisnis TOBA

TOBA memasuki babak baru transformasi bisnis yang menandai pergeseran besar dari perusahaan berbasis batu bara menuju pemain energi hijau regional. Transformasi ini menjadi pijakan penting dalam pelaksanaan peta jalan dekarbonisasi yang telah diluncurkan sejak 2021 sekaligus menegaskan ambisi TOBA untuk keluar sepenuhnya dari bisnis batu bara sebelum 2030.

Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menyebut bahwa cadangan batu bara perusahaan diproyeksikan habis dalam dua tahun ke depan, sehingga transisi ke bisnis energi hijau terus dipercepat. TOBA juga mengalokasikan belanja modal hingga US$ 600 juta atau sekitar Rp 10 triliun dalam lima tahun, sejalan dengan roadmap TBS2030.

Proyek EBT di ADRO

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kini berfokus pada bisnis mineral dan energi terbarukan. Hal itu usai memisahkan perusahaan bisnis batu baranya di PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Selain itu, perusahaan menjalankan bisnis energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Alamtri Renewables Indonesia.

Adapun proyek yang tengah dan akan digarap mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kalimantan Tengah serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan industri Kalimantan Utara.

Pengembangan PLTA di ARKO

Harga saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) naik 546,74% sejak awal tahun. ARKO tengah membangun dua PLTA baru. Pertama, bernama Kukusan II di Tanggamus, Lampung yang mulai dibangun pada 2022. Proyek Kukusan II ditargetkan beroperasi komersial pada 2025. Kapasitasnya 5,4 MW dengan output tahunan sekitar 35.054 MWh.

Kedua, proyek Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang mulai dibangun pada 2024 dan diproyeksikan beroperasi pada 2026. Pembangkit berkapasitas 10 MW ini diperkirakan menghasilkan 56.940 MWh per tahun.

Strategi BREN

Emiten energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Prajogo Pangestu berencana meningkatkan portofolio bisnisnya di bidang pengembangan pembangkit panas bumi (geothermal) mencapai 910,3 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga angin (wind farm) sebesar 78,75 MW. BREN membidik total kapasitas pembangkit listrik mencapai 2.300 MW pada 2032.

Kolaborasi ARCI

Emiten perusahaan pertambangan mineral emas dan perak, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) kini bergeliat masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal. Archi Indonesia membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat) bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG).

Pengembangan EBT di DSSA

Emiten grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) hingga memperkuat rantai pasok nasional berbasis teknologi rendah karbon. DSSA juga memperluas pengembangan industri surya melalui perusahaan patungan dengan Trina Solar Energy Development Pte. Ltd. dan PT PLN Indonesia Power Renewables.

Proyek PLTS di CDIA

Semangat PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menggarap proyek energi terbarukan dikebut melalui anak usahanya. PT Krakatau Chandra Energi (KCE) yang berada di bawah Danantara kini mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru berkapasitas 4,7 megawatt-peak (MWp). Fasilitas tersebut telah mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 17 November 2025, lebih cepat satu minggu dari target awal.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan info viral ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar