Kesepakatan Tarif RI-AS Terancam Gagal, Kesehatan Ekonomi Terancam

Kesepakatan Tarif RI-AS Terancam Gagal, Kesehatan Ekonomi Terancam

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Kesepakatan Tarif RI-AS Terancam Gagal, Kesehatan Ekonomi Terancam menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Potensi Dampak Kesepakatan Tarif Perdagangan Indonesia-AS yang Gagal

Kesepakatan tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi gagal bisa membawa dampak signifikan terhadap neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, tarif perdagangan Indonesia berpotensi kembali naik dari 19% menjadi 32%. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap daya saing produk-produk Indonesia di pasar AS.

Menurut Maybank Indonesia, Global Markets Economist Myrdal Gunarto, risiko terbesar muncul jika pembatalan kesepakatan hanya terjadi pada Indonesia, sementara negara-negara pesaing di kawasan ASEAN tetap mendapatkan fasilitas tarif preferensial atau penurunan tarif dari AS. Ini akan membuat Indonesia lebih rentan dalam persaingan ekspor.

Myrdal menekankan bahwa posisi Indonesia perlu dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang menjadi kompetitor utama di sektor ekspor manufaktur. Jika nasibnya sama seperti Indonesia, hal itu justru menguntungkan. Namun, jika pembatalan hanya terjadi pada Indonesia, dampaknya berpotensi serius.

Dalam perhitungannya, neraca dagang Indonesia berpotensi defisit sebesar US$ 1 miliar. "Kalau yang kena itu cuma Indonesia saja yang batal, nah itu bisa jadi ada potensi sekitar US$ 1 miliar defisit neraca perdagangan kita itu berkurang. Kalau tarif dijadikan 32%, ada kemungkinan barang-barang kita jadi tidak kompetitif," ujarnya.

Isu Batalnya Kesepakatan Dagang Muncul

Isu batalnya kesepakatan mencuat setelah laporan menyebutkan bahwa Perjanjian Dagang AS-Indonesia yang dicapai pada Juli 2025 berisiko gagal. Indonesia disebut dianggap mengingkari beberapa komitmen yang telah disepakati sebagai bagian dari kerja sama dagang tersebut.

Seorang pejabat AS menyatakan, "Mereka mengingkari apa yang telah kita sepakati pada bulan Juli." Pernyataan ini memicu ketegangan antara kedua belah pihak dan memperkuat kekhawatiran terhadap masa depan hubungan dagang bilateral.

Dampak pada Pertumbuhan Ekonomi

Selain menggerus neraca perdagangan, kenaikan tarif terhadap produk Indonesia di pasar Amerika Serikat dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor padat karya. "Kalau hanya terjadi di Indonesia saja, dampaknya untuk pertumbuhan ekonomi tidak besar. Tapi misalkan di sektor tekstil atau sepatu, itu bisa ada penurunan GDP/PDB sekitar 0,3% kalau produk kita tidak kompetitif lagi," jelas Myrdal.

Namun, kondisi akan berbeda jika perubahan tarif terjadi serentak bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Menurut Myrdal, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia akan jauh lebih terbatas. "Kalau ini terjadi secara global, paling pertumbuhan ekonomi kita turunnya tidak signifikan. Bisa jadi barang-barang kita malah lebih kompetitif dibandingkan Malaysia, Thailand, atau Vietnam," ujarnya.

Contoh Negara Lain

Myrdal mencontohkan, beberapa negara seperti Vietnam selama ini menikmati pemotongan tarif signifikan, dari sekitar 40% menjadi 19%. Jika fasilitas tersebut dicabut, posisi Indonesia relatif lebih diuntungkan. "Yang untung sebenarnya Indonesia, karena kita kan cuma 32%," tambahnya.

Pentingnya Kewaspadaan Pemerintah

Myrdal menekankan pentingnya kewaspadaan pemerintah dalam merespons dinamika negosiasi dagang dengan AS. Ketidakpastian terkait tarif resiprokal berpotensi mengganggu daya saing ekspor Indonesia di sektor kunci seperti tekstil dan alas kaki, yang sensitif terhadap perubahan biaya.

Dengan potensi risiko jangka pendek hingga defisit US$ 1 miliar pada neraca perdagangan dan kemungkinan tekanan ke pertumbuhan ekonomi, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah diplomasi dagang yang lebih agresif serta memperkuat daya saing industri domestik untuk menghadapi perubahan lanskap perdagangan global.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Kesepakatan Tarif RI-AS Terancam Gagal, Kesehatan Ekonomi Terancam ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar