Kemlu RI Berupaya Bawa 7 ABK WNI Terlantar dari Perairan Myanmar

Kemlu RI Berupaya Bawa 7 ABK WNI Terlantar dari Perairan Myanmar

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Kemlu RI Berupaya Bawa 7 ABK WNI Terlantar dari Perairan Myanmar tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.
Kemlu RI Berupaya Bawa 7 ABK WNI Terlantar dari Perairan Myanmar

Kondisi 7 ABK Indonesia di Kapal MT Shi Xing yang Terkatung-Katung di Perairan Myanmar

Sebanyak tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal MT Shi Xing terombang-ambing di perairan Myanmar akibat larangan kapal untuk bersandar oleh otoritas setempat. Hal ini disebabkan oleh masalah perizinan yang belum terselesaikan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon telah menyampaikan nota diplomatik kepada pihak Kemlu Negara Myanmar. Nota tersebut berisi permintaan izin agar para ABK WNI dapat melakukan proses sign off atau mengakhiri masa kontrak mereka di kapal serta mencatatkan buku pelaut, sehingga bisa dipulangkan ke Indonesia.

Permintaan izin ini dilakukan karena salah satu ABK WNI tengah mengalami sakit kritis, dan ketidakpastian selama tiga bulan terakhir membuat situasi semakin memprihatinkan. KBRI juga sedang berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan Myanmar dan bertemu langsung dengan agen kapal setempat untuk memastikan proses berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Di sisi lain, pemilik kapal telah menyetujui pemberian hak-hak dari ABK WNI seperti pembayaran gaji, biaya logistik, dan biaya pemulangan. Kementerian Luar Negeri RI bersama Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memastikan aspek teknis keselamatan pelayaran dan penggantian kru yang menjadi syarat keluarnya ABK dari kapal.

Pada 15 Oktober 2025, telah dilangsungkan pertemuan antara agensi dan pemilik kapal untuk memastikan hak-hak para ABK terpenuhi. KBRI Yangon berupaya untuk naik ke atas kapal guna memberikan bantuan logistik sementara seraya membawa tenaga kesehatan. Namun sampai saat ini, izin tersebut masih belum diberikan.

KBRI memprioritaskan pendistribusian kebutuhan obat-obatan bagi ABK yang sedang sakit. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan akan terus memastikan hak-hak dari 7 ABK WNI dapat terpenuhi, dan mereka bisa segera dipulangkan ke tanah air dengan selamat.

Nasib Para ABK yang Terkatung-Katung Selama Berbulan-Bulan

Nasib 7 kru kapal MT Shi Xing asal Indonesia yang terkatung-katung di perairan Myanmar selama berbulan-bulan akhirnya mulai mendapat titik terang. Kabar baik itu terungkap dari Chief Head Engineer, Septia Rizky, yang mengatakan bahwa KBRI sedang mengajukan ke authority Myanmar untuk mengevakuasi kru.

Warga Batam yang tinggal di Perumahan Puri Selebriti Residence, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu setidaknya sudah 3 bulan berada dalam kapal itu. Selain belum menerima gaji sesuai kesepakatan awal, mereka bertahan hidup dengan bahan makanan seadanya bahkan untuk bertahan hidup, mereka mengandalkan tampungan air hujan untuk minum.

Memasak nasi tanpa lauk mereka jalani selama berbulan-bulan itu. Termasuk menggunakan air laut untuk keperluan mencuci dan mandi.

"Insya Allah. Kami sudah ada titik terang untuk mengevakuasi kru MT Shi Xing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sedang mengajukan ke authority Myanmar untuk mengevakuasi kru," ujar Septia melalui pesan singkat.

Namun hingga kini, tujuh kru MT Shi Xing masih berada di kapal dan menghadapi keterbatasan bahan makanan. Ia berharap KBRI segera mengevakuasi kru sebelum bahan makanan benar-benar habis.

Selain bahan makanan yang semakin terbatas, kesehatan mental awak kapal mulai terganggu. Semula, mereka diminta untuk membawa kapal untuk docking di Malaysia pada Mei 2025 namun dalam perjalanan, mereka kemudian dialihkan ke Myanmar. Selama di Myanmar, gaji dari owner kapal tidak kunjung dibayarkan, sementara komunikasi dengan pihak owner sering terputus.

"Kalau untuk saya sendiri, mental sudah ngedrop, lemas. Orang rumah juga khawatir karena sudah tiga bulan kami tak terima gaji," ujar Rizky kepada TribunBatam.id.

Selama beberapa hari terakhir sejak 25 September hingga 4 Oktober, stok makan mereka menipis dan hanya mengandalkan tampungan air hujan untuk minum. Setelah itu mendapat respons dan sudah diteruskan ke KBRI Yangon. KBRI kemudian menindaklanjuti pada 1 Oktober, namun bantuan hanya bersifat sementara.

"Jadi dari owner ke KBRI itu isi messagenya itu katanya dia akan membayar gaji saat di Myanmar. Ternyata sampai sekarang belum diterima. Dua bulan pertama di Malaysia masih digaji, begitu di Myanmar berhenti," tambahnya lagi.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Simak terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar