
Dampak Kebiasaan Harian terhadap Kesuburan
Gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat dapat memengaruhi tingkat energi tubuh serta kesehatan reproduksi. Efek dari kebiasaan tersebut sering kali muncul secara bertahap dan tidak disadari hingga kesuburan mulai terganggu. Hal ini menjadi perhatian utama bagi banyak pasangan yang mengalami gangguan kesuburan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Banyak faktor dapat memengaruhi kesuburan, termasuk kurang tidur, pola makan buruk, stres berlebih, serta konsumsi alkohol dan rokok. Menurut Dr. Snehal, spesialis kesuburan dan kesehatan wanita, infertilitas adalah masalah global. WHO mencatat bahwa satu dari enam pasangan di dunia mengalami gangguan kesuburan.
Kurang Tidur Berdampak Langsung pada Hormon Reproduksi
Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang berperan penting dalam ovulasi dan pembentukan sperma. Dr. Snehal menjelaskan, tidur yang tidak cukup membuat otak menghasilkan hormon dalam jumlah lebih rendah yang dibutuhkan untuk kesehatan reproduksi.
Tidur kurang dari enam jam per hari berkaitan dengan peningkatan hingga 30 persen ketidakteraturan menstruasi. Sementara itu, pria dengan kualitas tidur yang buruk cenderung memiliki konsentrasi sperma 25 hingga 35 persen lebih rendah. Kelompok pekerja shift malam dan individu yang sering terpapar layar gawai pada malam hari juga diminta lebih waspada karena kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan pada sistem reproduksi.
Pola Makan dan Stres Turut Menentukan Kesuburan
Selain tidur, kebiasaan makan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Diet yang rendah makanan segar dan tinggi makanan olahan dapat menurunkan kualitas sel telur dan sperma serta mengganggu keseimbangan hormon secara perlahan.
Sebaliknya, konsumsi makanan bergizi seperti biji-bijian utuh, buah, sayuran, protein berkualitas, dan lemak sehat secara teratur dinilai mampu meningkatkan peluang kesuburan hingga 10–15 persen. Faktor stres juga tidak kalah berpengaruh. Wanita dengan tingkat stres tinggi memiliki risiko dua kali lipat mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Pada pria, stres kronis dapat menurunkan kadar testosteron dan mengurangi jumlah sperma hingga 20–30 persen.
Kurang Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Duduk Terlalu Lama
Kurangnya aktivitas fisik serta kebiasaan duduk dalam waktu lama turut berdampak negatif pada organ reproduksi. Penurunan aliran darah ke area reproduksi dapat memicu penumpukan lemak di sekitar perut dan menurunkan peluang kesuburan.
Dr. Snehal menyarankan aktivitas fisik intensitas sedang selama minimal 150 menit per minggu, seperti berjalan cepat, bersepeda, atau yoga. Ia juga mencatat bahwa duduk lebih dari lima jam per hari berkaitan dengan penurunan motilitas sperma.
Alkohol, Rokok, dan Kafein Tingkatkan Risiko Infertilitas
Konsumsi alkohol, tembakau, dan kafein berlebihan juga termasuk faktor utama penurunan kesuburan. Alkohol memengaruhi fungsi hati yang berperan penting dalam pengaturan hormon, sementara konsumsi berlebih dapat menurunkan kesuburan hingga 18 persen.
Tembakau berdampak pada aliran darah dan merusak sel telur serta sperma. Pria perokok diketahui memiliki jumlah sperma 10–17 persen lebih rendah dan tingkat kerusakan DNA sperma yang lebih tinggi. Pada perempuan, risiko infertilitas akibat merokok bahkan meningkat hingga dua kali lipat. Adapun konsumsi kafein lebih dari 300 miligram per hari atau setara dua hingga tiga cangkir kopi disebut dapat menunda proses pembuahan.
Perubahan Gaya Hidup Memberikan Hasil Nyata
Meski demikian, Dr. Snehal menegaskan bahwa perubahan gaya hidup dapat memberikan hasil yang nyata. Perbaikan siklus menstruasi dan kualitas sperma umumnya mulai terlihat dalam waktu delapan hingga 12 minggu setelah kebiasaan tidak sehat dikurangi. Dengan kesadaran akan dampak kebiasaan harian terhadap kesehatan reproduksi, banyak pasangan dapat meningkatkan peluang kesuburan melalui perubahan yang konsisten dan berkelanjutan.
Komentar
Kirim Komentar