Dalam beberapa waktu terakhir, istilah self reward sering muncul dalam berbagai percakapan. Mulai dari grup WhatsApp, video TikTok, hingga obrolan santai saat nongkrong sambil minum kopi. Mereka mengatakan sedang memberi hadiah kepada diri sendiri setelah bekerja keras sepanjang minggu atau melewati hari yang melelahkan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Saya sempat memikirkan hal tersebut. Ya, kadang kita terlalu sibuk mengurus pekerjaan, rumah, anak, suami, bahkan orang lain, tetapi lupa untuk merawat diri sendiri. Oleh karena itu, wajar jika sesekali ingin memiliki waktu untuk diri sendiri atau memberi apresiasi kecil kepada diri yang telah berjuang.
Namun, di sisi lain, saya juga sering melihat orang yang menggunakan alasan "self reward" untuk belanja impulsif. Mereka membeli barang yang tidak diperlukan, akhirnya dompet menipis dan malah stres. Apakah kamu pernah mengalami hal ini? Dari situ, saya belajar bahwa self reward harus dilakukan dengan bijak agar tidak berubah menjadi kebiasaan boros yang merugikan diri sendiri.
Self Reward yang Sering Disalahartikan Yang menarik, kata "self reward" sekarang seperti menjadi pembenaran universal untuk semua tindakan impulsif. Dikit-dikit belanja skincare, alasan self reward. Lagi bete sedikit, langsung ke mall beli banyak barang branded. Setelah gajian, langsung jajan besar-besaran karena "katanya" menghargai diri sendiri.
Padahal, esensi dari self reward bukan tentang "menghadiahi diri" setiap saat, tetapi tentang mengapresiasi diri secara sadar dan proporsional. Jika setiap hal kecil dijadikan alasan untuk self reward, bukannya apresiasi diri, malah jadi pemborosan yang terselubung. Setuju gak nih?
Menurut saya, self reward seharusnya datang dari rasa syukur, bukan pelarian dari stres atau pelampiasan emosi. Karena kalau alasannya cuma buat pelarian, ya ujung-ujungnya kita hanya nyari sensasi sesaat. Setelah rasa senangnya hilang, penyesalan justru datang: "Kenapa tadi beli itu, ya?" Nah, rugi sendiri kan?
Jadi, sebelum memberi self reward, coba tanya ke diri sendiri: "Ini tuh benar-benar bentuk apresiasi atau cuma pelampiasan?"
Kalau jujur ke diri sendiri, kita bakal tahu bedanya mana kebutuhan dan mana keinginan sesaat.
Kapan Kita Sebaiknya Kasih Self Reward? Menurut saya, self reward yang ideal itu datang setelah kita melewati sesuatu yang benar-benar menantang. Misalnya setelah seminggu penuh lembur di kantor, berhasil menyelesaikan proyek besar, atau bahkan setelah mengurus keluarga nonstop tanpa jeda.
Ada momen ketika seorang sahabat pernah bilang ke saya, "Mba, kapan sih mikirin diri sendiri?" Pertanyaan itu jujur bikin saya terdiam lama. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mengejar target, berusaha menyenangkan orang lain, sampai lupa bahwa diri saya juga butuh dihargai.
Akhirnya saya mulai belajar menyeimbangkan semuanya. Saya sadar, self reward bukan tentang "egois mikirin diri sendiri", tapi justru bentuk self care. Dengan menghargai diri, kita jadi punya energi lagi buat menghadapi dunia. Dan yang paling penting, self reward gak harus mahal kok.
Self Reward Ala Saya Setelah melewati masa refleksi itu, saya mulai mengenal versi self reward saya sendiri. Gak harus yang wah, tapi hal-hal sederhana yang bikin hati hangat. Ini beberapa hal kecil yang sering saya lakukan:
- Hunting Jajanan Kesukaan! Saya tipe yang gampang bahagia cuma gara-gara makan enak. Hahaha... seremeh itu! Kadang cuma jajan gelato, bakso, yamie, pizza, atau rujak di pinggir jalan aja udah bisa bikin mood saya naik drastis.
Saya bukan tipe yang boros juga, jadi biasanya saya masih mikir dua kali sebelum beli. Prinsip saya: mendang-mending, hahaha. Tapi serius, buat saya, menikmati makanan kesukaan itu kayak bentuk ucapan "terima kasih" buat diri sendiri. Badan udah capek kerja, pikiran udah penuh, ya wajar dong dikasih hadiah kecil yang nikmat.
- Piknik Hemat Piknik juga jadi bentuk self reward favorit saya. Gak perlu jauh-jauh atau mahal-mahal. Asal bisa menikmati udara luar, suasana tenang, dan lepas dari rutinitas, itu udah cukup.
Kalau di Jogja, saya sering healing ke pantai Gunung Kidul, Lembah UGM bawa bekal dan tikar, atau kadang ke Gembira Loka cuma buat lihat tingkah lucu hewan-hewan di sana. Kadang juga saya mampir ke tempat ziarah buat doa dan menepi dari keramaian. Rasanya damai banget.
Yang paling saya suka, budget-nya super hemat! Kadang cuma keluar uang parkir, cari makan siang di pinggiran jalan atau kadang malah bawa bekal makanan dari rumah. Sederhana gini tapi hati rasanya kayak baru habis liburan ke luar kota. Wkwkwk...
- Checkout Barang di Wishlist Nah, ini yang agak bahaya tapi tetap menyenangkan, hahaha. Kadang saya suka tiba-tiba checkout produk yang udah lama saya incer. Misalnya tas kecil, parfum, atau baju yang udah lama nangkring di wishlist.
Tapi belanja saya ini bukan yang sembarangan ya. Biasanya saya beli barang yang benar-benar saya butuhkan, dan harganya masih ramah kantong. Gak tiap bulan juga, cuma sesekali aja. Lucunya, momen checkout itu aja udah bikin senang. Ada rasa puas dan bangga karena bisa mewujudkan keinginan lama tanpa harus ngutang. Kamu juga suka gini juga? Toss dulu yuk!
- Kumpul Sama Teman Se-frekuensi Buat saya, kumpul sama teman juga bentuk self reward yang luar biasa. Apalagi kalau ketemu sama orang yang satu frekuensi, yang bisa diajak cerita tanpa dihakimi.
Saya termasuk orang yang sering kerja sendirian, jadi waktu bisa ketemu teman dan ngobrol santai itu kayak charging energy. Kadang kita gak butuh solusi kok, cuma butuh didengerin. Dari situ, pikiran saya jadi lebih ringan, hati juga lega.
Beda banget dengan saat saya kerja di kedai kopi sendirian. Walau suasananya rame, tapi fokus saya cuma ke laptop dan deadline. Sedangkan ngobrol sama teman, itu bikin saya merasa hidup.
- Olahraga dan Menjaga Tubuh Kalau dulu saya pikir olahraga itu hukuman, sekarang justru jadi bentuk self reward buat badan saya sendiri. Bayangin aja, tubuh ini udah diajak kerja keras bertahun-tahun, tapi kadang kita lupa buat berterima kasih sama dia.
Sejak awal 2024, saya mulai rutin olahraga ringan. Bukan yang berat kayak crossfit ya, tapi cukup jogging kecil, cardio, atau angkat beban pakai dumble kecil di rumah. Lumayan banget efeknya: badan terasa enteng, tidur lebih nyenyak, dan pikiran juga lebih stabil. Oh ya, tujuan saya bukan ke arah diet ya, tapi sehat. Andai berat badan berkurang, itu menurut saya hanyalah bonus saja. Dengan begini, saya lebih enjoy & gak merasa terbebani saat berolahraga.
Berikut adalah video Tiktok saat saya menjalankan pola sehat VS pola gak sehat: @rianadewie Saat pola hidup gak sehat VS saat rajin WO & IF
olahraga
IF
intermittentfatsing
intermittentdiet
sehatalami
sehatbugar
CapCut
suara asli - Riana Dewie
Olahraga bikin saya sadar kalau self reward itu gak selalu soal belanja atau makan enak, tapi bisa juga tentang merawat diri secara menyeluruh --- fisik, mental, dan emosional.
Self Reward yang Gak Bikin Dompet Menjerit Dari semua pengalaman itu, saya makin paham satu hal penting: self reward gak harus mahal. Kadang justru yang paling berkesan adalah hal-hal kecil yang tulus kita lakukan buat diri sendiri.
Kita cuma perlu lebih sadar aja: kapan waktunya memberi hadiah ke diri, dan kapan waktunya menahan diri. Kalau semua dikasih label self reward, ya jelas dompet bakal nangis.
Jadi, buat saya pribadi, kunci dari self reward anti boros itu ada tiga: - Sadari alasan kita. Apakah ini kebutuhan atau pelampiasan? - Atur anggaran khusus. Biar gak ganggu pengeluaran bulanan. - Nikmati prosesnya. Karena esensi self reward itu di rasa syukurnya, bukan jumlah uangnya.
Tetap Hemat & Bahagia Sekarang saya gak lagi merasa bersalah kalau sesekali memberi self reward ke diri sendiri. Karena saya tahu batasnya. Saya tahu kapan harus berhenti dan kapan saatnya menikmati.
Self reward buat saya bukan bentuk kemewahan, tapi bentuk cinta kecil pada diri sendiri. Entah lewat jajan sederhana, jalan-jalan singkat, ngobrol sama teman, atau olahraga ringan, semuanya punya makna tersendiri.
Dan yang paling penting, self reward versi saya gak bikin kantong jebol. Bahagia itu bisa sederhana kok, asal kita tahu cara menikmatinya dengan bijak.
Kalau saya punya self reward versi hemat dan bahagia, kamu sendiri, versimu kayak gimana?
Komentar
Kirim Komentar