
Surabaya. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak usahanya, PT Global Onkolab Farma (GOF), resmi meluncurkan fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka yang kedua di Sidoarjo, Jawa Timur. Fasilitas ini memiliki peran penting dalam mendukung deteksi dini penyakit kanker, khususnya melalui penggunaan Fluorodeoxyglucose (FDG).
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pengadaan serta pembangunan pabrik fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka ini membutuhkan alokasi dana sebesar Rp 200 miliar. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen perseroan untuk memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam penanganan penyakit kanker.
Dalam acara peluncurannya di Sidoarjo, Direktur KLBF Mulia Lie menjelaskan bahwa keberadaan fasilitas ini menjadi upaya perluasan akses penanganan kanker di Indonesia. Saat ini, GOF telah membangun dua fasilitas, yakni di Jakarta dan Sidoarjo.
Menurut data, dari 282 juta penduduk Indonesia, terdapat lebih dari 433.000 kasus kanker setiap harinya. Dari angka tersebut, sebesar lebih dari 60% penderita meninggal sebelum 5 tahun. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan fasilitas produksi radiofarmaka seperti yang dioperasikan oleh GOF.
Hanya ada tiga rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas pemeriksaan kanker yang memadai, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit MRCC Siloam dan Rumah Sakit Umum Gading Puit. Ketiga rumah sakit tersebut memproduksi dan memakai sendiri radioisotop dan farmakanya.
Melalui langkah ini, KLBF berharap dapat memenuhi kebutuhan pemeriksaan dini kanker di berbagai rumah sakit, tidak hanya di Sidoarjo tetapi juga bisa mencakup ke rumah sakit yang berada di daerah Indonesia timur lainnya, seperti Bali, NTT, NTB, Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya. Dengan demikian, rumah sakit yang berada di kawasan tersebut tidak hanya dapat memperoleh radiofarmaka lebih cepat, namun juga lebih terjangkau.
Mulia Lie memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk dukungan yang telah diberikan oleh para pemangku kepentingan, khususnya Kementerian Kesehatan RI, Badan POM RI dan Bapeten RI yang membantu mengakselerasi perijinan yang diperlukan. Sertifikasi CPOB dari Badan POM diterima dalam 33 hari kerja dan NIE diterima dalam waktu 5 hari kerja. Begitu juga ijin operasional dari Bapeten diterima dalam 45 hari kerja.
Dalam proses operasionalnya, radiofarmaka memproduksi Fluorodeoxyglucose (FDG) yang sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit. Hal tersebut membutuhkan izin keamanan baik dari BPOM, Kementerian Kesehatan hingga Bapeten.
PET/CT-Scan adalah pemeriksaan pencitraan medis tingkat lanjut yang memberikan informasi mendetail tentang fungsi organ atau sistem dalam tubuh, khususnya untuk mendeteksi adanya penyakit kanker. Pelayanan PET/CT-Scan berkaitan erat dengan ketersediaan radiofarmaka, salah satunya FDG (Fluorodeoxyglucose). Sayangnya, fasilitas produksi produk radioisotop dan radiofarmaka dalam negeri yang tersertifikasi masih sangat terbatas.
“Saat ini Kalbe telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit untuk pemanfaatan radiofarmaka, tidak terbatas pada tatalaksana kanker atau onkologi saja, namun diharapkan dapat digunakan untuk penilaian jantung, neurologi, alzheimer, gangguan psikiatri atau mental serta di bidang-bidang lain di dunia kedokteran,” tutur Mulia Lie.
Lebih lanjut, dalam hal kapasitas produksinya nanti, KLBF menyesuaikan kebutuhan rumah sakit dan berkomitmen untuk menjaga suplai dengan fasilitas dari Pemerintah. Untuk rencana pembangunan fasilitas radioisotop dan radiofarmaka selanjutnya, Mulia Lie masih melakukan perundingan. Dia tidak menampik bahwa pengembangan fasilitas radioisotop dan radiofarmaka membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai gambaran, dia menyebutkan bahwa fasilitas pertama yang diluncurkan di Jakarta merupakan hasil perencanaan 10 tahun.
"Jadi untuk rencana pengembangan selanjutnya masih kami kaji lagi, karena memang cukup rumit dan waktu yang dibutuhkan tidak sedikit," tandasnya.
Komentar
Kirim Komentar