Jika Kesepakatan Tarif RI-AS Gagal, Neraca Dagang Terancam

Jika Kesepakatan Tarif RI-AS Gagal, Neraca Dagang Terancam

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Jika Kesepakatan Tarif RI-AS Gagal, Neraca Dagang Terancam menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Isu batalnya kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keseimbangan perdagangan nasional serta laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena potensi kenaikan tarif yang dikenakan pada produk Indonesia dari 19% menjadi 32%. Meskipun pemerintah telah menyangkal adanya pembatalan kesepakatan tersebut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perlu diketahui, isu ini muncul setelah laporan menyebutkan bahwa Perjanjian Dagang AS-Indonesia yang dicapai pada Juli 2025 berisiko gagal. Indonesia disebut tidak memenuhi beberapa komitmen yang telah disepakati sebagai bagian dari kerja sama dagang tersebut.

"Kami merasa mereka mengingkari apa yang telah kita sepakati pada bulan Juli," ujar seorang pejabat AS dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters. Namun, pejabat tersebut tidak menjelaskan secara rinci komitmen apa yang dinilai telah dilanggar oleh Indonesia.

Dalam analisisnya, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menegaskan bahwa risiko terbesar muncul jika pembatalan kesepakatan hanya berdampak pada Indonesia, sementara negara-negara pesaing di kawasan ASEAN tetap mendapatkan fasilitas tarif preferensial atau penurunan tarif dari AS.

Myrdal menekankan bahwa posisi Indonesia harus dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang merupakan kompetitor utama di sektor ekspor manufaktur. Menurut dia, jika kondisi serupa terjadi pada negara-negara tersebut, hal itu justru akan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Namun, jika pembatalan hanya terjadi pada Indonesia, dampaknya bisa sangat serius. Dalam hitungannya, neraca dagang Indonesia berpotensi defisit sebesar US$ 1 miliar. "Jika yang kena itu cuma Indonesia saja, maka ada potensi sekitar US$ 1 miliar trade deficit yang bisa berkurang. Jika tarif naik menjadi 32%, barang-barang kita bisa jadi tidak kompetitif lagi," jelas Myrdal kepada aiotrade, Rabu (10/12/2025).

Ia menilai estimasi tersebut merupakan skenario terburuk yang perlu diantisipasi pemerintah.

Dampak Bisa Tahan Laju Pertumbuhan Ekonomi
Selain menggerus neraca perdagangan, kenaikan tarif terhadap produk Indonesia di pasar Amerika Serikat dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor padat karya.

"Jika hanya terjadi di Indonesia saja, dampaknya untuk pertumbuhan ekonomi tidak besar. Tapi misalkan di sektor tekstil atau sepatu, itu bisa ada penurunan GDP/PDB sekitar 0,3% kalau produk kita tidak kompetitif lagi," jelasnya.

Namun, kondisi akan berbeda jika perubahan tarif terjadi serentak bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Menurut Myrdal, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia akan jauh lebih terbatas.

"Jika ini terjadi secara global, paling pertumbuhan ekonomi kita turunnya tidak signifikan. Bisa jadi barang-barang kita malah lebih kompetitif dibandingkan Malaysia, Thailand, atau Vietnam," ujarnya.

Ia memberi contoh beberapa negara seperti Vietnam yang selama ini menikmati pemotongan tarif signifikan, dari sekitar 40% menjadi 19%. Jika fasilitas tersebut dicabut, posisi Indonesia relatif lebih diuntungkan.

"Yang untung sebenarnya Indonesia, karena kita kan cuma 32%," tambahnya.

Pentingnya Kewaspadaan Pemerintah
Myrdal menekankan pentingnya kewaspadaan pemerintah dalam merespons dinamika negosiasi dagang dengan AS. Ketidakpastian terkait tarif resiprokal berpotensi mengganggu daya saing ekspor Indonesia di sektor kunci seperti tekstil dan alas kaki, yang sensitif terhadap perubahan biaya.

Dengan potensi risiko jangka pendek hingga defisit US$ 1 miliar pada neraca perdagangan dan kemungkinan tekanan ke pertumbuhan ekonomi, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah diplomasi dagang yang lebih agresif serta memperkuat daya saing industri domestik untuk menghadapi perubahan lanskap perdagangan global.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Jika Kesepakatan Tarif RI-AS Gagal, Neraca Dagang Terancam ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar