
aiotrade—
Pemerintah Jepang sedang merancang strategi nasional baru di bidang kecerdasan buatan (AI) dengan menyiapkan dukungan pendanaan jangka menengah untuk sektor swasta. Langkah ini menunjukkan pergeseran dari sekadar adopsi teknologi menjadi pembangunan ekosistem AI yang bisa dikembangkan dan dioperasikan secara mandiri dalam negeri, mengingat persaingan teknologi global semakin ketat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) berencana mengucurkan dana sekitar 1 triliun yen selama lima tahun. Dana ini setara dengan sekitar Rp107,3 triliun (kurs ¥1 = Rp107,3). Skema pendanaan ini ditujukan untuk membantu perusahaan swasta dalam mengembangkan sistem AI domestik, termasuk penguatan infrastruktur komputasi dan basis data berskala besar.
Dalam rencana tersebut, pemerintah menargetkan mulainya pendanaan pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai April. Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk meningkatkan investasi publik-swasta di sektor AI sebagai bagian dari agenda pertumbuhan jangka panjang Jepang.
Sejalan dengan rencana ini, draf Rencana Dasar AI pertama Jepang menyebutkan bahwa pemerintah ingin memperkuat arah kebijakan penggunaan dan pengembangan AI nasional. Dokumen ini juga menegaskan ambisi Tokyo untuk lebih aktif dalam lanskap teknologi global yang kian terfragmentasi.
Dalam draf tersebut, pemerintah menekankan pentingnya kemampuan nasional untuk "mengembangkan dan mengoperasikan sistem kecerdasan buatan secara mandiri." Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Jepang terhadap ketergantungan teknologi lintas negara yang semakin sensitif, terutama karena AI semakin memengaruhi ekonomi, industri, dan keamanan nasional.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam pertemuan kebijakan teknologi pemerintah, menegaskan bahwa pengembangan AI tidak lagi dapat dipisahkan dari strategi negara. Ia menyatakan:
“Kecerdasan buatan akan menjadi fondasi kekuatan nasional ke depan, sehingga kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta menjadi keharusan.”
Laporan menunjukkan bahwa dukungan pemerintah juga diarahkan untuk mempercepat pembentukan entitas baru yang dipimpin oleh SoftBank bersama lebih dari sepuluh perusahaan Jepang. Konsorsium ini bertujuan mengembangkan model AI berskala besar yang bisa digunakan lintas sektor industri, mulai dari manufaktur hingga layanan digital.
METI juga mempertimbangkan berbagai opsi pembiayaan, seperti alokasi anggaran khusus dalam APBN 2026 dan kemungkinan penerbitan obligasi pemerintah. Selain pendanaan langsung, skema ini mencakup subsidi untuk biaya pengumpulan data serta pembangunan infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi, yang selama ini menjadi hambatan utama bagi pengembangan AI domestik.
Namun, strategi nasional AI Jepang tidak hanya berfokus pada pengembangan model AI generatif. Pemerintah juga mendorong integrasi AI dengan sistem fisik seperti robotika dan otomatisasi industri—bidang yang selama ini menjadi keunggulan struktural Jepang dalam manufaktur dan rekayasa presisi.
Meski demikian, pemerintah menyadari tantangan yang dihadapi. Tingkat adopsi AI di Jepang masih relatif tertinggal dibandingkan negara-negara maju lainnya. Untuk itu, melalui pendanaan jangka menengah ini, Tokyo berharap dapat mempercepat pembentukan ekosistem AI yang berkelanjutan, sekaligus menempatkan Jepang sebagai aktor penting dalam arah baru teknologi global.
Komentar
Kirim Komentar