
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Inisiatif Rappo dalam Membangun Ekonomi Sirkular
Rappo, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), telah menjadi contoh sukses dalam mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai tinggi. Dengan inovasi yang dimiliki, UMKM ini dianggap memiliki potensi besar untuk berkembang secara global.
Melalui pendampingan dari Bank Indonesia, Rappo dinilai mampu memperkuat implementasi ekonomi sirkular. Koordinator Operasional dan Produksi Rappo, Giofany Firmansyah, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan mampu memproduksi berbagai jenis produk seperti tas laptop, canvas tote bag, furnitur, dan aksesoris lainnya yang terbuat dari bahan daur ulang.
Meskipun proses produksi masih dilakukan secara manual, kapasitas produksi Rappo mencapai 2.000 hingga 2.500 unit per bulan. Sejauh ini, puluhan ribu produk telah dipasarkan ke seluruh Indonesia. Bahkan, Rappo berhasil memamerkan produknya di ajang bergengsi World Osaka Expo di Jepang melalui kerja sama dengan Kementerian Perindustrian.
Produk yang Berbasis Lingkungan
Rappo didirikan pada tahun 2020 sebagai respons terhadap peningkatan volume sampah plastik di sekitar lingkungan. Alih-alih membiarkan sampah menumpuk, tim Rappo mulai mencari teknik pengolahan yang tepat hingga berhasil mengubah plastik jenis kresek (LDPE) dan plastik keras (HDPE/PP) menjadi material yang kuat untuk dijahit.
Selain fokus pada pelestarian lingkungan, Rappo juga memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Saat ini, perusahaan melibatkan 13 pegawai tetap dan 19 penjahit, sebagian besar dari ibu rumah tangga di sekitar wilayah Untia. Awalnya hanya ada tiga penjahit, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 19 orang penerima manfaat.
Sumber Bahan Baku dan Proses Produksi
Bahan baku Rappo diperoleh dari berbagai sumber, termasuk setoran warga sekitar, jasa laundry, bank sampah, serta mitra Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Plastik-plastik tersebut dipilah, dicuci, dan melalui proses pelelehan hingga menjadi lembaran tebal yang siap diproduksi.
Untuk menjaga ketahanan produk, Rappo mencampurkan material plastik hasil olahan dengan bahan kain seperti katun atau kanvas. Namun, proses pemilahan dan pencucian plastik yang dilakukan secara manual masih menjadi tantangan. Selain itu, tingginya permintaan pasar kadang melampaui kapasitas produksi yang ada.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Giofany mengungkapkan bahwa ke depan, Rappo berharap dapat terus berkembang dengan menambah jenis sampah yang dikelola serta melibatkan lebih banyak masyarakat lokal. Tujuannya adalah memberikan dampak sosial dan lingkungan yang lebih luas.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menyatakan bahwa pihaknya terus mendorong berbagai UMKM di Sulsel agar berkembang dan berdaya saing. Melalui program UMKM REWAKO (Resilient, Worldclass, Agile, and Knowledgeable), Bank Indonesia ingin mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dengan meningkatkan kualitas, branding, dan jangkauan pemasaran produk UMKM Sulsel.
Para UMKM di Sulsel secara rutin didampingi melalui pelatihan intensif, peningkatan kapasitas manajerial, digitalisasi, pemenuhan legalitas, hingga pembukaan akses pasar internasional. Bank Indonesia juga mempertemukan UMKM dengan berbagai pihak seperti media, komunitas bisnis, dan pelaku usaha lain untuk membangun jaringan.
Saat ini, terdapat 152 UMKM yang telah dibina, di mana 70 di antaranya berhasil melakukan ekspor secara konsisten. Dengan dukungan yang diberikan, Rappo dan UMKM lainnya memiliki peluang besar untuk berkembang dan bersaing di pasar global.
Komentar
Kirim Komentar