Perkembangan Industri Kendaraan Listrik di Indonesia
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai bahwa pasar mobil listrik nasional masih berada pada tahap awal pengembangan. Dia menekankan bahwa industri mobil listrik di Indonesia saat ini masih dalam fase pertumbuhan. Menurutnya, masa pertumbuhan ini merupakan masa di mana para pelaku usaha perlu memilah-milah mana yang menjadi pasar utama dan mana yang perlu dioptimalkan. Hal ini mencakup pemilihan merek mobil, harga, serta strategi pemasaran yang tepat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Perbandingan Industri Mobil Listrik dan Industri Mobil BBM

Ibrahim kemudian membandingkan kondisi industri mobil listrik dengan industri kendaraan berbahan bakar fosil yang telah lebih matang dan memiliki pengalaman panjang dalam menyesuaikan strategi penjualan di tengah tekanan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa perusahaan seperti Toyota dan Mitsubishi selalu membuat strategi bagaimana menghadapi situasi ekonomi yang tidak stabil sambil tetap memproduksi mobil dengan harga relatif lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat.
Menurut Ibrahim, jika insentif kendaraan listrik dihentikan dan pajaknya disamakan dengan kendaraan berbahan bakar minyak, hal tersebut berpotensi memengaruhi minat masyarakat. Kondisi ini juga perlu dilihat dalam konteks ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Jika subsidi insentif dihilangkan, maka harga mobil listrik akan lebih mahal, sehingga masyarakat cenderung meninggalkannya.
Kebijakan yang Berpotensi Meningkatkan Impor BBM Perlu Dipertimbangkan

Ibrahim menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik global sering kali berdampak langsung pada harga minyak mentah dunia. Dalam situasi tersebut, setiap kebijakan yang berpotensi meningkatkan konsumsi BBM impor perlu dipertimbangkan secara cermat. Ia berharap wacana pencabutan insentif tidak jadi karena perkembangan Indonesia masih belum stabil, sehingga masih butuh insentif dari pemerintah untuk mendorong masyarakat beralih dari bahan bakar fosil ke bahan listrik.
Menurut Ibrahim, pola adopsi kendaraan listrik yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa insentif menjadi pendorong awal sebelum kendaraan listrik benar-benar dipilih karena kebutuhan. Ia menyatakan bahwa prosesnya adalah: pertama insentif, lalu kebutuhan.
Pengguna Mobil Listrik Masih Terbatas pada Kelompok Tertentu

Selain itu, Ibrahim juga menilai pengguna mobil listrik di Indonesia saat ini masih terbatas pada kelompok tertentu. Jika insentif dihentikan pada fase pertumbuhan, terdapat kemungkinan masyarakat kembali mengandalkan kendaraan berbahan bakar minyak. Ia mengibaratkan perkembangan industri mobil listrik seperti proses tumbuh kembang yang memerlukan tahapan. Menurutnya, pencabutan insentif idealnya dilakukan ketika pasar sudah lebih matang.
Ibrahim menjelaskan bahwa ada persiapan, pertumbuhan, perkembangan, dan pendewasaan. Pada saat pasar sudah dewasa, barulah pemerintah dapat mencabut insentif. Ia berharap setiap keputusan terkait insentif kendaraan listrik dapat mempertimbangkan kondisi pasar domestik serta dinamika global. Dengan begitu, kebijakan yang diambil tetap selaras dengan kebutuhan ekonomi nasional.
Komentar
Kirim Komentar