
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Inovasi Mahasiswa ITB yang Mengubah Limbah Tahu Menjadi Masker Wajah
Sebuah inovasi menarik datang dari mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil memenangkan kompetisi nasional Product Innovation Bioleague 2025. Produk yang mereka kembangkan adalah masker wajah berbahan dasar limbah tahu, yang dinamai pHORIA. Inovasi ini mengusung konsep “waste to wonder innovation” dan berhasil mengalahkan berbagai karya lain dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Society for Biological Engineering Universitas Indonesia Student Chapter pada Oktober 2025.
Tim yang terdiri dari Rizka Nur Maulani, Shinta Puspita Rachmawati, Raisya Salma Maheswari, Panji Lintang Muqitta, dan Gabriela Sinta Wirawati mengklaim bahwa produk ini mampu menyeimbangkan pH kulit secara alami. “Produk ini dibuat dari bacterial cellulose hasil fermentasi limbah cair tahu,” jelas Rizka dalam keterangan tertulis pada Jumat, 19 Desember 2025.
Masker wajah ini tidak hanya menggunakan bahan alami, tetapi juga mengandung ekstrak kulit bawang merah yang menjadi sumber antosianin sebagai indikator pH alami. Selain itu, ada juga ekstrak ampas teh yang berfungsi sebagai penyeimbang pH sekaligus sumber antioksidan alami. Dengan kombinasi bahan-bahan tersebut, pHORIA diharapkan mampu memberikan manfaat yang maksimal bagi pengguna tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Konsep yang Berorientasi Ekologis
Tim yang menamai diri mereka Uri Benu ini mengaku ingin menciptakan produk yang tidak hanya fokus pada kosmetik, tetapi juga memiliki nilai ekologis tinggi. “Inovasi ini membuktikan bahwa kosmetik bisa tetap fungsional tanpa mengorbankan keberlanjutan,” ujar Rizka.
Mereka percaya bahwa penggunaan bahan-bahan alami dan daur ulang dapat menjadi solusi untuk masalah lingkungan yang semakin meningkat. Dengan mengambil limbah tahu yang biasanya dianggap sebagai sampah, mereka berhasil mengubahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi dan lingkungan.
Rencana Pengembangan dan Komersialisasi
Tim ini berencana melanjutkan pengembangan produk hingga tahap validasi formula, disusul dengan uji aplikasi pada kulit. Mereka juga mengharapkan tawaran kerja sama dengan lembaga riset atau inkubator kampus yang bisa membawa pHORIA ke tahap komersialisasi.
“Tren eco-friendly dan smart skincare sedang naik di pasar global,” tambah Shinta, menambahi rekannya. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang mereka kembangkan memiliki potensi besar untuk diterima oleh pasar, baik lokal maupun internasional.
Keunggulan dan Potensi Pasar
Dalam dunia kosmetik, keberlanjutan dan keamanan menjadi dua aspek utama yang dicari oleh konsumen. Dengan adanya pHORIA, para pengguna akan mendapatkan produk yang tidak hanya efektif, tetapi juga ramah lingkungan. Ini menjadi langkah penting dalam upaya mengurangi dampak negatif industri kosmetik terhadap lingkungan.
Selain itu, penggunaan bahan alami seperti ekstrak bawang merah dan ampas teh membuat produk ini lebih aman untuk digunakan, terutama bagi kulit sensitif. Dengan demikian, pHORIA tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga menjadi solusi yang berkelanjutan untuk kebutuhan perawatan kulit.
Kesimpulan
Inovasi dari mahasiswa ITB ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dan inovasi teknologi bisa berjalan bersamaan. Dengan memanfaatkan limbah tahu sebagai bahan baku, mereka telah membuktikan bahwa daur ulang bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Dengan terus mengembangkan produk ini, diharapkan pHORIA dapat menjadi salah satu produk kosmetik yang paling diminati di masa depan.
Komentar
Kirim Komentar