Kredit Perbankan Masih Tertahan, Eko Listiyanto Beri Analisis
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyatakan keheranan terhadap perlambatan penyaluran kredit hingga akhir 2025, meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, Eko menemukan dua faktor utama yang membuat pertumbuhan kredit tetap lambat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Faktor Pertama: Godaan Keuntungan dari Surat Utang Pemerintah
Salah satu faktor utama adalah godaan keuntungan dari surat utang pemerintah. Dalam diskusi Catatan Akhir Tahun Indef, Eko mengungkapkan bahwa imbal hasil atau yield dari surat utang pemerintah saat ini mencapai sekitar 6–7 persen. Selain itu, ada juga instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang bersifat jangka menengah dan digunakan untuk menstabilkan perekonomian.
Dengan imbal hasil seperti ini, bank lebih tertarik menempatkan dana di instrumen tersebut dibanding menyalurkan kredit ke sektor riil yang risikonya masih besar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan pertumbuhan kredit.

Faktor Kedua: Hambatan di Sektor Riil
Selain itu, Eko menyoroti masalah di sektor riil yang telah lama dialami oleh Indonesia. Regulasi yang kompleks, praktik premanisme, dan infrastruktur yang belum memadai menjadi hambatan utama. Masalah ini tidak hanya terjadi pada tahun ini, tetapi sudah berlangsung cukup lama.
Eko menegaskan bahwa fokus pemerintah dan BI selama ini masih banyak pada kebijakan moneter dan fiskal, seperti belanja negara atau stimulus Rp200 triliun untuk mendorong kredit. Namun, jika masalah mendasar di sektor riil tidak diatasi, pertumbuhan kredit tidak akan otomatis membaik meskipun dana digelontorkan dalam jumlah besar.

Ketidaksesuaian Target Ekonomi dan Kredit
Eko juga menilai ada ketidaksesuaian antara target pertumbuhan ekonomi dan target kredit. Tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, tetapi pertumbuhan kredit diperkirakan hanya 8–12 persen. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa plafon kredit perbankan yang belum disalurkan atau undisbursed loan per Oktober 2025 mencapai Rp2.450,7 triliun, setara sekitar 22,97 persen dari total kapasitas kredit yang tersedia.
Angka ini naik dibanding posisi bulan sebelumnya sebesar Rp2.374,8 triliun atau 22,54 persen. Laporan ini mencerminkan bahwa penyaluran kredit hingga saat ini belum optimal, meski pemerintah tengah gencar mendorong pertumbuhan kredit melalui penempatan dana di perbankan.

Eko menyarankan agar ada sinkronisasi antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi, agar target bisa tercapai. Ia menekankan pentingnya solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah-masalah mendasar di sektor riil, bukan hanya fokus pada kebijakan moneter atau fiskal semata.
Dalam konteks ini, Eko menilai bahwa langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dan BI masih kurang efektif dalam mendorong pertumbuhan kredit yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan untuk meningkatkan penyaluran kredit yang sesuai dengan target pertumbuhan ekonomi.
Komentar
Kirim Komentar