HSBC: 53 Persen Perusahaan Melihat Peluang di Tengah Perang Dagang

HSBC: 53 Persen Perusahaan Melihat Peluang di Tengah Perang Dagang

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai HSBC: 53 Persen Perusahaan Melihat Peluang di Tengah Perang Dagang menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Hasil survei yang dilakukan oleh HSBC menunjukkan bahwa sebanyak 53 persen perusahaan di Indonesia merasa yakin bahwa ketidakpastian perang dagang justru membuka peluang bisnis. Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, Delia Melissa, menyatakan bahwa dalam dua tahun ke depan, sebanyak 69 persen perusahaan melihat dampak positif dari situasi ini, angka yang lebih tinggi dibandingkan keyakinan global sebesar 57 persen.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Namun, Delia menjelaskan bahwa 46 persen perusahaan justru menganggap tarif yang diterapkan oleh Trump dan ketidakpastian perdagangan akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. "Perang dagang tentu saja akan berdampak pada negara yang terlibat, yaitu Cina," katanya saat ditemui di kantor HSBC Indonesia, Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.

Dalam survei tersebut, Delia menjelaskan bahwa terjadi rekonfigurasi rantai pasok global akibat perubahan dari Cina ke negara alternatif seperti Indonesia. Situasi ini memiliki sisi positif karena sumber daya yang dimiliki Indonesia dinilai lebih kompetitif dibandingkan negara lain, ditambah dengan pengenaan tarif yang lebih rendah.

Faktor kedua adalah adanya pasar domestik yang besar di Indonesia, sehingga investor melihat potensi sumber daya dari Indonesia yang mendukung produksi ekspor di berbagai sektor industri seperti elektronik, komponen otomotif, dan furnitur. Investor asing juga melihat bahwa barang yang diproduksi di Cina akan lebih mahal untuk masuk ke pasar Amerika Serikat akibat tarif Trump. Hal ini membuat banyak perusahaan mempertimbangkan untuk merelokasi pabrik dari Cina ke Indonesia.

“Hal ini tentu akan meningkatkan investasi baru, memperluas kapasitas produksi, serta meningkatkan permintaan bahan baku dan logistik di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pasar domestik Indonesia tampak positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 8.600-an. Neraca perdagangan, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), surplus dari Januari sampai Oktober 2025 sebesar US$ 35,88 miliar. Angka ini meningkat sebesar US$ 10,98 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Meski demikian, Delia menegaskan bahwa 73 persen perusahaan mengantisipasi peningkatan biaya produksi akibat ketidakpastian perdagangan dalam dua tahun ke depan. Sementara itu, 67 persen perusahaan juga mengantisipasi pertumbuhan pendapatan dalam waktu yang sama.

Delia menjelaskan bahwa survei ini melibatkan 6.750 perusahaan sebagai responden, yang berasal dari 17 negara. “Di Indonesia, kami menyurvei 200 nasabah, termasuk perusahaan internasional maupun perusahaan lokal,” ujarnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai HSBC: 53 Persen Perusahaan Melihat Peluang di Tengah Perang Dagang ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar