
Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis di SMAN 1 Yogyakarta
Kasus keracunan makanan yang menimpa siswa SMAN 1 Yogyakarta kembali memicu perhatian publik. Sebanyak 426 dari total 972 siswa mengalami sakit perut dan diare setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (15/11/2025). Kejadian ini terjadi sekitar pukul 11.45 hingga 12.30 saat istirahat kedua.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kepala SMA N 1 Yogyakarta, Ngadiya, menjelaskan bahwa rata-rata siswa mulai merasakan gejala pada Kamis (16/10/2025) dini hari. Dari jumlah tersebut, 33 siswa tidak masuk sekolah, baik karena sakit maupun alasan lain. Namun, tidak ada siswa yang harus dirawat inap di rumah sakit. Semua siswa hanya dibawa ke puskesmas dan pulang bersama orang tua mereka. Meski begitu, beberapa siswa masih merasa sakit perut dan datang ke UKS untuk mendapatkan obat diare.
Di Provinsi DI Yogyakarta, kasus keracunan makanan dalam program MBG telah dilaporkan sebelumnya. Sejak Agustus 2025, 393 siswa di Sleman, 497 siswa di Kulon Progo, dan 19 siswa di Gunungkidul terkena dampak serupa. Kali ini, kasus pertama di Kota Yogyakarta terjadi di SMAN 1.
Program MBG di Kota Yogyakarta selama ini berjalan lancar. Setiap hari, mobil SPPG tiba pukul 11.00, dan MBG dikonsumsi antara pukul 11.45 hingga 12.30. Pihak sekolah sudah berkomunikasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wirobrajan, penyedia program MBG. Menurut Ngadiya, SPPG mengakui kemungkinan adanya keracunan dari ayam yang disajikan. Ia menyebutkan bahwa proses pengolahan makanan terlalu lama, sehingga makanan yang dikirim ke sekolah sudah agak lama.
Seorang korban, Veda, mengaku di kelasnya ada 11 siswa yang mengalami diare. Menurutnya, penyebab keracunan diduga berasal dari saus barbeque yang disajikan bersama menu ayam. "Mungkin dari saus barbeque itu yang bikin sakit perut," ujarnya. Menu yang disajikan terdiri dari ayam barbeque, sayur salad, dan nasi. Meski tidak ada rasa aneh, Veda mengalami demam dan diare setelah pulang.
Veda mengaku jarang mengambil menu MBG, namun kali ini ia mencoba dan akhirnya mengalami diare. "Hari ini enggak ambil, trauma. Pernah ambil cuma sudah jarang, menunya kurang menarik bagi saya," ujarnya.
Penutupan Sementara SPPG
Buntut dari dugaan keracunan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, dihentikan sementara operasionalnya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari prosedur tetap (protap) sambil menunggu hasil uji laboratorium.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengonfirmasi penutupan sementara ini. Berdasarkan laporan, keracunan menimpa 32 siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta dan 65 siswa SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta. SPPG menyuplai MBG ke sembilan sekolah dengan total 3.444 siswa penerima. Sekolah-sekolah tersebut antara lain SD Bopkri, SD Negeri Tamansari, SD Negeri Tegalmulyo, dan SMP 5 Bopkri, hingga dua SMA yang terdampak keracunan.
Meskipun secara sarana dan prasarana, SPPG dinilai sesuai standar, Hasto mengindikasikan adanya kemungkinan masalah pada variasi menu yang disajikan. "Ada menu-menu baru yang dibuat, termasuk ayam yang dibuat kemarin itu termasuk dalam masakan menu baru," ujarnya. Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil uji culture test untuk memastikan penyebab pasti insiden.
Langkah Pencegahan dan Evaluasi
Sebagai langkah cepat penanganan, distribusi MBG dari SPPG kepada kesembilan sekolah dihentikan sementara. "Ya, sementara (dihentikan) dulu, sementara menunggu hasil evaluasi dan uji laboratoriumnya keluar dulu," kata Hasto. Proses evaluasi bisa memakan waktu hingga dua minggu, tapi paling cepat satu minggu.
Hasto menyarankan penerapan general precaution atau kehati-hatian dasar yang lebih ketat, khususnya untuk minimalisir kontaminasi bakteri. "Kalau misalkan menata makanan itu pakai sarung tangan, sarung tangannya itu steril gitu, yang memang tidak mungkin terkontaminasi, karena kan pakai apron gitu. Diminimalisir terjadi kontaminasi bakterial," ujarnya.
Sementara itu, saat dimintai keterangan selepas kunjungan Wali Kota dan jajaran Forkompimda, pihak SPPG sama sekali tidak bersedia memberikan statement. Pria yang enggan disebutkan namanya tersebut, memilih meninggalkan awak media dan bergegas masuk menuju bangungan utama SPPG.
Komentar
Kirim Komentar