Farmasi Waspadai Dampak Larangan Impor Garam

Farmasi Waspadai Dampak Larangan Impor Garam

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Farmasi Waspadai Dampak Larangan Impor Garam, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kebutuhan Garam Farmasi yang Masih Bergantung pada Impor

Penghentian impor garam pada tahun 2025 dikhawatirkan akan berdampak signifikan terhadap rantai produksi obat nasional. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kebutuhan garam farmasi atau pharmaceutical grade salt masih sepenuhnya bergantung pada pasokan luar negeri.

Direktur Eksekutif GP Farmasi Indonesia, Elfiano Rizaldi, menyampaikan bahwa produsen garam farmasi lokal belum mampu memenuhi standar volume maupun kualitas yang dibutuhkan industri farmasi. Menurutnya, kebutuhan garam farmasi nasional mencapai sekitar 5.200 ton per tahun, yang digunakan untuk memproduksi cairan infus dasar seperti NaCl 0,9% dalam berbagai ukuran hingga Ringer Laktat, serta sejumlah produk farmasi lain yang menggunakan garam sebagai bahan baku maupun eksipien.

“Saat ini, hanya satu produsen garam farmasi lokal yang benar-benar bisa digunakan industri, dengan kapasitas hanya 120–360 ton per tahun. Tiga produsen lainnya masih dalam fase uji stabilitas dan registrasi, dan belum dapat dipakai untuk produksi infus maupun produk farmasi lain,” jelas Elfiano kepada aiotrade.

Kesulitan dalam Mengganti Sumber Bahan Baku

Elfiano menegaskan bahwa penggunaan sumber alternatif tidak bisa dilakukan secara cepat. Penggantian pemasok harus merujuk pada bahan baku yang memenuhi standar Farmakope Indonesia edisi VI dan telah terdaftar di BPOM. Proses validasi, uji stabilitas, dan registrasi membutuhkan waktu sekitar 7–8 bulan. Oleh karena itu, tidak bisa sembarangan mengganti bahan baku ketika suplai terganggu. Hal ini tentu berdampak pada ketersediaan produk farmasi.

Ia menambahkan bahwa pengembangan produk ulang dengan garam lokal menimbulkan biaya tambahan yang tidak kecil, mulai dari validasi, uji stabilitas, hingga registrasi tiap SKU. Besarannya berbeda di setiap perusahaan karena bergantung pada formula, ukuran bets, biaya pengujian hingga sumber daya yang dikerahkan.

Kualitas Garam Lokal yang Masih Jauh dari Standar

Selain isu kapasitas, kualitas garam lokal juga masih jauh dari standar garam farmasi. Sebelum melalui proses pemurnian oleh produsen garam farmasi lokal, kualitas bahan bakunya dinilai belum stabil. Kadar air, kemurnian, dan tingkat pengotor masih menjadi tantangan. Hal ini berpengaruh pada proses produksi, yield, serta biaya produksi.

“Kadar air, kemurnian, dan tingkat pengotor masih menjadi tantangan. Ini berpengaruh pada proses produksi, yield, serta biaya produksi,” kata Elfiano. Akibatnya, harga garam farmasi lokal saat ini tercatat masih 2–4 kali lebih mahal dibanding bahan baku impor.

Standar kualitas yang paling menantang bagi produsen lokal meliputi kadar NaCl, tingkat kemurnian, dan ukuran partikel — parameter kritis untuk menjamin keamanan produk farmasi.

Dampak Biaya Produksi yang Meningkat

Dengan meningkatnya biaya produksi akibat penggunaan garam farmasi lokal yang lebih mahal dan belum efisien, Elfiano menilai wajar apabila industri farmasi mempertimbangkan penyesuaian harga. “Seharusnya ada penyesuaian harga pada produk yang menggunakan garam farmasi lokal,” ujarnya.

Elfiano menegaskan bahwa meski industri mendukung penggunaan bahan baku lokal, implementasinya perlu mempertimbangkan kesiapan kapasitas dan kualitas. Tanpa penyesuaian kebijakan, penghentian impor garam dikhawatirkan justru memicu risiko kekosongan produk esensial seperti cairan infus.

“Intinya, industri farmasi wajib menggunakan bahan baku lokal sesuai aturan. Namun kapasitas garam farmasi lokal belum mencukupi, dan produsen lain masih butuh waktu untuk siap,” tutupnya.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Utamakan kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar