
Presiden Ukraina Siap Hadir di Pertemuan Puncak Jika Diundang
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kesiapan untuk menghadiri pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Budapest jika diundang. Meski demikian, ia tetap waspada terhadap posisi Hongaria yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam wawancara dengan wartawan pada Senin (20/10/2025), Zelensky menegaskan bahwa ia terbuka untuk berpartisipasi dalam forum tersebut. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap lokasi pertemuan di ibu kota Hongaria. Hal ini disebabkan oleh sikap Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, yang sering kali berlawanan dengan Kyiv dan memiliki hubungan erat dengan Moskow.
“Jika saya diundang ke Budapest—apakah itu pertemuan tiga pihak, atau diplomasi bolak-balik di mana Presiden Trump bertemu Putin dan juga bertemu saya—kami akan siap dalam format apa pun,” ujar Zelensky.
Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti untuk pertemuan puncak tersebut. Beberapa sumber diplomatik memperkirakan bahwa pembicaraan akan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang.
Trump Terus Dorong Gencatan Senjata
Donald Trump terus berupaya untuk menciptakan gencatan senjata dalam konflik antara Rusia dan Ukraina yang telah berlangsung sejak invasi Februari 2022. Meskipun belum memberikan rencana perdamaian yang rinci, Trump dikabarkan frustrasi terhadap kegagalan berbagai upaya mediasi sebelumnya.
Menurut laporan BBC, Trump kecewa karena Putin tidak memberi konsesi usai pertemuan mereka di Alaska pada Agustus lalu. Ia juga menyebut kemungkinan pengiriman rudal jarak jauh Tomahawk ke Ukraina—usulan yang langsung menuai reaksi keras dari Moskow.
Pada akhir September, Trump menyebut bahwa Ukraina masih berpeluang merebut kembali wilayah yang diduduki Rusia dengan bantuan Uni Eropa dan NATO. Setelah berbicara kembali dengan Putin pekan ini, ia berubah haluan dan menyerukan pembekuan garis pertempuran saat ini.
Zelensky menanggapi perubahan sikap itu dengan hati-hati. Dalam konferensi pers di Kyiv, ia mengatakan telah berdiskusi intens dengan Trump selama lebih dari dua jam di Gedung Putih pada Jumat lalu.
“Pesannya positif—kami tetap berdiri di garis defront,” kata Zelensky.
Kekhawatiran terhadap Viktor Orban dan ICC
Menjelang pertemuan, Zelensky meragukan kemampuan Orban untuk memberikan kontribusi yang seimbang bagi Ukraina. Ia menilai bahwa Orban dikenal dekat dengan Rusia dan sering menghambat bantuan UE.
Sementara itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Budapest dipilih karena hubungan baik antara Trump dan Putin dengan Orban. Namun, pemilihan tempat ini menuai kritik tajam di Eropa karena Hongaria telah menolak mengeksekusi surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap Putin atas dugaan kejahatan perang.
Menurut laporan Politico Europe, Hongaria bahkan memproses langkah keluar dari ICC awal tahun ini, bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang juga menghadapi tuduhan serupa.
Kekhawatiran Skenario Budapest
Zelensky memperingatkan agar tidak terulang “skenario Budapest” seperti Memorandum 1994, di mana Ukraina menyerahkan senjata nuklirnya dengan imbalan jaminan keamanan yang kemudian dilanggar Rusia.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengaku kecewa terhadap kemungkinan kunjungan Putin ke negara anggota blok tersebut. “Tidak menyenangkan melihat seseorang yang berada di bawah surat perintah penangkapan ICC datang ke negara Eropa,” ujar Kallas.
Menteri Luar Negeri Lithuania, Kestutis Budrys, menambahkan bahwa satu-satunya tempat bagi Putin di Eropa “adalah di hadapan pengadilan di Den Haag, bukan di ibu kota mana pun.”
Kallas juga mengonfirmasi bahwa Uni Eropa tengah menyiapkan putaran ke-19 sanksi terhadap Rusia yang diharapkan disetujui pekan ini.
Di sisi lain, Peskov menegaskan persiapan untuk pertemuan puncak Trump–Putin masih dalam tahap awal, sambil menuding Ukraina mengirim “sinyal kontradiktif” yang memperumit proses diplomasi.
Sejarah Konflik Rusia-Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina bermula dari ketegangan panjang yang berakar sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991. Sejak Ukraina memproklamasikan kemerdekaannya, hubungan dengan Moskow sering diwarnai perebutan pengaruh politik dan saling curiga.
Ketegangan mencapai titik baru pada 2014 ketika Revolusi Euromaidan menggulingkan pemerintahan pro-Rusia di Kyiv. Tak lama setelah itu, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan memberikan dukungan terhadap kelompok separatis di wilayah Donbas.
Situasi memuncak pada Februari 2022, saat Moskow melancarkan invasi besar-besaran yang mengubah konflik lokal menjadi perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
Perang Rusia-Ukraina kini dipandang bukan sekadar perebutan wilayah, tetapi juga pertarungan narasi, legitimasi politik, dan arah masa depan tatanan dunia. Dunia pun menyadari bahwa akar konflik masih sangat dalam, dan jalan menuju perdamaian tampaknya masih jauh dari harapan.
Komentar
Kirim Komentar