BLT Jadi Pemicu Jangka Pendek untuk Emiten, Ini Catatan Analis

BLT Jadi Pemicu Jangka Pendek untuk Emiten, Ini Catatan Analis

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai BLT Jadi Pemicu Jangka Pendek untuk Emiten, Ini Catatan Analis menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

aiotrade.CO.ID - JAKARTA.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi melalui program Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat atau BLT Kesra senilai Rp 900.000 per keluarga. Program ini berlangsung hingga akhir Desember 2025 dan ditujukan untuk lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Dengan mendekati batas akhir penyaluran, Kementerian Sosial (Kemensos) mengimbau seluruh KPM agar segera mencairkan dana BLT Kesra sebelum 31 Desember 2025. Imbauan ini penting untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan optimal serta mencegah dana yang tidak terserap kembali ke kas negara.

Peran BLT dalam Perekonomian

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai bahwa BLT rapel yang disalurkan hanya bersifat jangka pendek bagi emiten. Kebijakan ini berperan sebagai suntikan likuiditas instan terutama bagi emiten ritel. Menurutnya, dana yang diterima cenderung langsung berputar mengingat karakter penerima BLT yang memiliki tingkat konsumsi tinggi. Kondisi ini membantu percepatan penyerapan persediaan (inventory clearing) sekaligus berpotensi mendorong perbaikan kinerja same store sales growth (SSSG) pada Desember maupun kuartal IV. Kendati begitu, Wafi menilai BLT belum tentu mampu mengerek daya beli secara signifikan.

"Nilai BLT sebesar Rp 900.000 itu hanya menyambung nyawa di tengah inflasi, bukan duit lebih untuk belanja secara impulsif," kata Wafi. Konsumsi yang terjadi cenderung bersifat defensif, sekadar menahan penurunan daya beli agar tidak jatuh lebih dalam, bukan untuk mendorong pertumbuhan konsumsi yang bersifat struktural. Dampaknya pun relatif terbatas dan diperkirakan hanya terasa dalam jangka sangat pendek, sekitar satu hingga dua pekan.

Penggunaan Dana BLT

Wafi juga bilang penyaluran BLT berpotensi paling cepat mengalir ke segmen minimarket dan kebutuhan pokok. Penerima BLT umumnya akan membelanjakan dana tersebut di jaringan ritel seperti AMRT dan MIDI untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dengan nominal yang terbatas, alokasi belanja cenderung difokuskan pada komoditas staple seperti beras, mi instan, serta rokok.

Kondisi ini secara otomatis mendorong volume penjualan emiten produsen barang konsumsi dasar seperti ICBP, INDF, dan MYOR. Sebaliknya, dampak terhadap sektor ritel discretionary relatif terbatas, mengingat perbedaan segmen konsumen, sehingga emiten seperti MAPI dan ACES cenderung kurang terdorong oleh stimulus tersebut.

Pandangan Analis Lain

Secara terpisah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi berpendapat BLT tidak menciptakan konsumsi baru, melainkan berfungsi sebagai penjaga konsumsi minimum rumah tangga berpendapatan rendah. Dana BLT terutama digunakan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, listrik, air, dan kebutuhan harian lainnya.

"Dalam konteks emiten konsumer, ini berarti BLT berperan sebagai penahan pelemahan penjualan, bukan sebagai katalis pertumbuhan permintaan," jelas Imam. Imam menambahkan efek BLT ke emiten konsumer dan ritel cenderung bersifat defensif, menjaga volume penjualan agar tidak turun tajam, terutama di segmen masyarakat bawah. Penyaluran BLT di tahap akhir dengan nilai rapel hingga Rp 900.000 berpotensi meningkatkan likuiditas jangka pendek rumah tangga, namun alokasinya cenderung langsung habis untuk konsumsi harian.

"Dengan demikian, dampak BLT lebih terasa pada stabilitas penjualan FMCG dan ritel kebutuhan pokok, bukan pada ekspansi margin atau peningkatan permintaan produk non-esensial," ucap Imam. Imam juga menyampaikan bahwa BLT memang mampu menopang daya beli dalam jangka pendek, khususnya untuk konsumsi pangan dan kebutuhan dasar ketika tekanan biaya hidup masih ada. Namun, efek peningkatan daya beli tersebut bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

Rekomendasi Saham

Berdasarkan pola penggunaan BLT, Imam menilai emiten yang paling berpotensi diuntungkan adalah emiten dengan produk berharga terjangkau, bersifat berulang, dan non-durable. Pertama, emiten FMCG kebutuhan pokok yang berpeluang menjaga stabilitas volume penjualan meski tanpa lonjakan margin, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua, emiten ritel yang menyasar segmen masyarakat bawah dan memiliki jaringan luas, seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Emiten ritel ini relatif lebih diuntungkan dibanding ritel yang fokus pada konsumen menengah-atas. Ketiga, emiten rokok. Menurut Imam, emiten di sektor ini menunjukkan sebagian dana BLT turut mengalir ke konsumsi rokok, mencerminkan bahwa produk tersebut masih dianggap sebagai kebutuhan oleh sebagian penerima BLT.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyoroti masih maraknya penggunaan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak sepenuhnya dialokasikan untuk konsumsi. Kondisi tersebut berpotensi membuat pemulihan daya beli tidak optimal, sehingga dampaknya terhadap kinerja emiten sektor konsumer maupun ritel menjadi terbatas.

"Jika penggunaan BLT ini bisa mendorong daya beli maka akan membuat dampak signifikan terhadap emiten konsumer seperti JPFA, CPIN dan AYAM. Serta untuk emiten retail lebih cenderung pada AMRT," tutur Azis.

Rekomendasi Saham

Azis saat ini merekomendasikan buy JPFA di target harga Rp 3.110 per saham dan saham AYAM di target harga Rp 600 per saham. Sementara Wafi menyarankan investor untuk memantau saham AMRT dan ICBP di target harga masing-masing Rp 3.200 dan Rp 13.200 per saham. Adapun Imam merekomendasikan investor dan pelaku pasar untuk mencermati saham ICBP, AMRT dan WIIM dengan target harga masing-masing Rp 8.650, Rp 2.10 dan Rp 1.770 per saham.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai BLT Jadi Pemicu Jangka Pendek untuk Emiten, Ini Catatan Analis ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar