
Bank Indonesia (BI) menyatakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai target inflasi nasional dengan capaian 0,55 persen secara bulanan atau month to month (mtm) diakhir 2025.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
"Angka inflasi tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,64 persen (mtm)," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy Sariu Tamawiwy, Kamis, 8 Januari 2026.
Menurut Rommy, terjadinya inflasi bulanan tersebut disebabkan oleh kenaikan indeks harga Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 1,12 persen (mtm) dengan komoditas utama yang memberikan andil inflasi bulanan yaitu cabai rawit, bayam dan sawi hijau.
Secara tahunan, Bangka Belitung tercatat mengalami inflasi sebesar 2,77 persen (yoy) atau masih berada di dalam target inflasi nasional yaitu sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Angka inflasi tahunan ini juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 2,92 persen (yoy).
Rommy menuturkan inflasi tahunan Bangka Belitung didorong oleh kenaikan indeks harga Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 6,55 persen (yoy) yang disumbang oleh komoditas cabai merah dan cabai rawit.
Selain itu, juga disebabkan oleh kenaikan harga pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang tercatat sebesar 7,46 persen (yoy), utamanya komoditas emas perhiasan. Tekanan inflasi tahunan tertahan oleh Kelompok Pendidikan yang mengalami deflasi sebesar 12,86 persen (yoy).
Rommy mengatakan inflasi di periode Desember 2025 utamanya disebabkan oleh terjadinya peningkatan konsumsi masyarakat dalam rangka memperingati Hari Raya Natal 2025 dan menjelang tahun baru 2026.
Kenaikan harga komoditas cabai rawit dan sayuran hijau disebabkan oleh terbatasnya pasokan sebagai dampak dari cuaca ekstrem. Namun demikian, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) Provinsi maupun Kabupaten dan Kota terus berkomitmen untuk menjaga ketersediaan stok sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Secara spasial tahunan, kata Rommy, seluruh wilayah yang disurvei Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi. Kabupaten Bangka Barat, kata dia, tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi tertinggi yakni sebesar 4,02 persen (yoy).
Kemudian diikuti oleh Kabupaten Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 2,69 persen (yoy) dan 2,58% (yoy). Sementara itu, Tanjungpandan tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi terendah yakni sebesar 1,44 persen (yoy).
Rommy menambahkan Bank Indonesia terus bersinergi dengan TPID dan mitra strategis lainnya dalam menjaga inflasi pada rentang yang rendah dan stabil. Hal tersebut, kata dia, sebagai bentuk dukungan Bank Indonesia dan TPID terhadap 3 (tiga) langkah strategis pengendalian inflasi yaitu menjaga inflasi tahun 2025 pada kisaran sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen dalam rangka mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi, menjaga inflasi harga pangan bergejolak dalam kisaran 3,0-5,0 persen (yoy) dan memperkuat koordinasi pusat dan daerah dengan penyusunan Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2025-2027.
"Untuk itu, Bank Indonesia bersinergi dengan TPID se-Bangka Belitung akan terus memperkuat kerangka kebijakan 4K dalam pengendalian inflasi yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif," ujar dia.
Komentar
Kirim Komentar